Jakarta,Topikonline.co.id– Seleksi Taruna/Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026 di Polda Metro Jaya resmi memasuki tahap krusial: pemeriksaan kesehatan (rikkes) tahap I. Sebanyak 300 peserta langsung menjalani “penyaringan awal” pada hari pertama yang digelar di Biddokkes Polda Metro Jaya, Selasa (7/4/2026).
Tahapan ini menjadi gerbang penting yang menentukan apakah para peserta layak melanjutkan ke proses seleksi berikutnya atau harus terhenti lebih awal.
Karo SDM Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Muh. Dwita Kumu Wardana, menegaskan bahwa rikkes tahap I bukan sekadar formalitas, melainkan proses mendasar untuk mengukur kesiapan fisik dan kesehatan calon perwira Polri.
“Pemeriksaan kesehatan ini bertujuan mengetahui kondisi peserta secara menyeluruh. Ini menjadi dasar penilaian apakah peserta layak mengikuti tahapan berikutnya,” ujarnya.
Dalam prosesnya, peserta diperiksa secara detail mulai dari tinggi dan berat badan, komposisi lemak, tekanan darah, denyut nadi, hingga kesehatan gigi dan mata—termasuk uji ketajaman penglihatan (visus) dan buta warna. Pemeriksaan fisik menyeluruh juga dilakukan untuk memastikan tidak ada kondisi yang berpotensi menghambat tugas kepolisian di masa depan.
Lebih dari sekadar tes medis, rikkes ini menjadi simbol komitmen Polda Metro Jaya dalam menjaga integritas rekrutmen melalui prinsip BETAH: bersih, transparan, akuntabel, dan humanis. Seluruh proses diawasi ketat oleh tim medis Biddokkes bersama panitia seleksi, dengan sistem pengawasan berlapis.
Tak hanya internal, pengawasan juga melibatkan unsur Paminal, Itwasda, Provos, hingga pihak eksternal seperti IDI guna memastikan seluruh tahapan berjalan objektif dan bebas dari praktik curang.
Dwita menegaskan, rekrutmen Akpol 2026 hanya dibuka melalui satu jalur, yakni jalur reguler—tanpa celah untuk “jalan belakang”.
“Tidak ada kuota khusus, tidak ada titipan, dan tidak ada ruang bagi pihak mana pun yang mencoba bermain. Kelulusan murni ditentukan oleh kemampuan peserta,” tegasnya.
Untuk mempersempit potensi kecurangan, panitia menerapkan teknologi dan prosedur ketat seperti face matching, absensi terverifikasi, hingga sistem pengkodean peserta. Semua dirancang untuk memastikan setiap peserta dinilai secara adil.
Polda Metro Jaya juga mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap oknum yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan tertentu. Praktik semacam itu dipastikan ilegal dan tidak berpengaruh terhadap hasil seleksi.
Jika menemukan indikasi kecurangan, masyarakat diminta segera melapor melalui Call Center 110, layanan Dumas Presisi, atau kanal pengaduan Propam.
Di akhir, Dwita berpesan tegas kepada seluruh peserta: masa depan mereka ditentukan oleh usaha sendiri, bukan oleh janji kosong.
“Fokuslah mempersiapkan diri—fisik, mental, dan akademik. Yang menentukan kelulusan adalah kemampuan peserta sendiri,” pungkasnya.












