Berita  

Menembus Sesak Overkapasitas, Lapas Pemuda Tangerang Genjot Pembinaan dan Kemandirian Warga Binaan

Lapas Pemuda Tangerang,Foto:Iwan

Tangerang,Topikonline.co.id– Di balik tembok tua yang berdiri sejak era kolonial, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pemuda Kelas IIA Tangerang terus berjuang menghadapi persoalan klasik pemasyarakatan: overkapasitas. Dibangun pada 1924 dan mulai difungsikan sebagai lapas pada 1927, bangunan bersejarah ini kini menampung lebih dari dua kali lipat kapasitas idealnya.

Daya tampung Lapas Pemuda Tangerang hanya 1.251 orang. Namun saat ini, jumlah penghuni telah mencapai 2.637 warga binaan. Dari jumlah tersebut, sekitar 45 persen merupakan narapidana kasus narkotika, sementara sisanya merupakan pelaku tindak pidana umum.

Kondisi itu tak lantas membuat pelayanan dan program pembinaan terhenti. Sebaliknya, Lapas Pemuda Tangerang terus berinovasi, baik dalam pelayanan publik maupun pemberdayaan warga binaan.

“Bangunan ini memiliki nilai sejarah tinggi dan sangat layak dijadikan cagar budaya,” ujar salah seorang pejabat lapas saat ditemui di lokasi.Kamis 30/4/26

Lapas Pemuda Tangerang menyediakan berbagai layanan terpadu bagi masyarakat, mulai dari informasi, pengaduan, konsultasi, program pembinaan, hingga layanan komunikasi terkait warga binaan.

Fasilitas ramah disabilitas juga tersedia, seperti kursi roda dan tongkat penyangga bagi pengunjung berkebutuhan khusus.

Salah seorang pengunjung, Ibu Jaroni, warga Haji Batung, Cilandak, Jakarta Selatan, mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan petugas.

Ia rutin menjenguk putranya yang tengah menjalani hukuman enam tahun dalam kasus narkotika. Sang anak telah menjalani masa pidana selama satu tahun.

“Saya datang setiap Kamis. Pelayanannya bagus, tidak ada minta-minta uang. Proses kunjungan juga mudah dan tertib,” ujar Jaroni.

Sistem kunjungan di Lapas Pemuda Tangerang menerapkan standar keamanan yang ketat namun tetap humanis. Pengunjung wajib mengambil nomor antrean, menitipkan barang pribadi seperti tas dan telepon genggam, menjalani pemeriksaan badan, menukar identitas, hingga mendapatkan cap tangan sebelum memasuki ruang kunjungan.

Pada hari biasa, kunjungan dibatasi maksimal tiga orang dewasa. Sementara pada hari besar keagamaan, kuota ditambah menjadi lima orang dewasa. Anak-anak yang sudah bersekolah wajib menunjukkan kartu identitas.

“Kunjungan tatap muka dibuka Senin sampai Kamis. Hari Jumat hanya penitipan barang, tanpa pertemuan langsung. Semua layanan ini gratis,” tegas Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban, Sigit.

Di tengah keterbatasan lahan dan jumlah penghuni yang membludak, Lapas Pemuda Tangerang justru sukses mengembangkan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) di bidang pertanian, perikanan, dan peternakan di lahan seluas 6000 mtr

Program ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan internal, tetapi juga menjadi sarana pembinaan keterampilan bagi warga binaan.
Saat ini, lapas membudidayakan sekitar 800 ekor ikan nila, 600 ekor ikan bawal, 186 ekor ikan gurame, serta mengembangkan ayam pedaging dan ayam petelur.

Untuk sektor pertanian, kangkung menjadi komoditas andalan.

“Sekali panen, kangkung bisa mencapai 50 sampai 60 kilogram setiap 10 hari. Hasilnya digunakan untuk kebutuhan dapur lapas,” kata Jafar,Kepala Seksi Giatja.

Hasil budidaya juga dipasarkan, baik untuk kebutuhan internal maupun eksternal.

Warga binaan yang terlibat dalam program kemandirian memperoleh premi sebesar 20 persen dari hasil penjualan. Insentif ini menjadi motivasi sekaligus bekal awal saat mereka kembali ke masyarakat.

Ahmad Bagus, narapidana kasus pencurian kendaraan bermotor yang sebentar lagi bebas, merasakan langsung manfaat program tersebut.
Saat ini, ia mendapat kesempatan mengikuti asimilasi sebagai tukang kebun.

“Alhamdulillah, saya dapat bagian dari hasil kebun. Cukup buat makan sama rokok. Kalau ada lebih, saya kirim ke keluarga di luar,” ujarnya sambil tersenyum.

Tak hanya pertanian dan perikanan, Lapas Pemuda Tangerang juga mengembangkan berbagai usaha mikro berbasis keterampilan warga binaan.

Produk yang dihasilkan antara lain kopi, donat, sabun lantai, sabun cuci piring, handycraft, konveksi, hingga bordir. Pengembangan usaha ini dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai mitra, termasuk Gerai Lengkong.

Dalam waktu dekat, lapas juga akan menjalin kolaborasi dengan Pemerintah Kota Tangerang dan Yayasan Second Chance guna memperluas peluang kerja bagi eks warga binaan.

Tantangan Sesungguhnya Ada di Luar Tembok

Kepala Seksi Pembinaan, Endi Budi, mengakui bahwa tantangan terbesar bukan saat warga binaan berada di dalam lapas, melainkan ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

“Kita tinggal mendidik. Masalahnya, setelah bebas, keterampilan mereka sering kali tidak terpakai. Akhirnya, karena sulit mendapat pekerjaan, ada yang kembali melakukan kejahatan,” kata Endi.

Menurutnya, stigma masyarakat dan minimnya peluang kerja menjadi faktor utama tingginya angka residivisme.

“Banyak mantan narapidana sebenarnya bisa sukses, asalkan punya modal, jaringan, dan kesempatan,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan lembaga pemasyarakatan dapat membuka jalan baru bagi para mantan warga binaan.

“Kalau semua pihak bergerak bersama, program pembinaan ini benar-benar akan bermakna. Mereka butuh kesempatan kedua, bukan penolakan,” pungkasnya.