Jakarta,Topikonline.co.id — Waktu boleh terus berjalan, namun kenangan tentang orang-orang tercinta tak pernah benar-benar hilang. Doa menjadi cara keluarga untuk terus menyambung kasih sayang, sekaligus menjaga nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan lintas generasi.
Suasana khidmat menyelimuti Masjid Jami’ Al-Husna, Admiralty Residence Blok B.23, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Minggu (20/9/2026).
Keluarga besar Dr. H. Sudirman D Hury berkumpul dalam rangkaian doa, tahlilan dan istighosah untuk mengenang tiga sosok keluarga yang telah berpulang ke rahmatullah. Kegiatan tersebut sekaligus memperingati haul ke-20 H. Damanhury bin Achmad Moersi, haul ke-4 Hj. Armapuri binti Zainul Laham, serta haul ke-16 H. Mursal Aziz bin H. Damanhury.
Dengan khusyuk, keluarga memanjatkan doa agar seluruh amal ibadah para almarhum dan almarhumah diterima Allah SWT, dosa dan kekhilafan mereka diampuni, serta mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.
Namun, bagi keluarga besar H. Damanhury, haul bukan sekadar ritual tahunan untuk mengenang mereka yang telah tiada.
Haul menjadi momentum untuk kembali merajut silaturahmi, mempererat persaudaraan dan mengingat kembali pesan serta keteladanan orang tua yang menjadi fondasi kehidupan anak-anak dan generasi setelahnya.
Pesan Pendidikan yang Mengubah Generasi
Dr. H. Sudirman D Hury mengatakan, pelaksanaan haul setiap tahun telah menjadi tradisi keluarga. Jika sebelumnya kegiatan digelar di rumah maupun di Lampung, tahun ini seluruh keluarga dari berbagai daerah dikumpulkan di Jakarta.
“Setiap tahun kita lakukan haul ini di rumah, kadang-kadang juga di Lampung. Tapi tahun ini kita pusatkan di sini, di Masjid Jami’ Al-Husna. Keluarga dari Lampung, dari Palembang, kita hadirkan semua di sini,” ujar Sudirman.
Di balik kegiatan tersebut, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan kedua orang tuanya membesarkan keluarga.
Sudirman mengenang H. Damanhury dan Hj. Armapuri sebagai sosok luar biasa yang membangun keluarga besar dari kehidupan sederhana di kampung.
Dari 12 anak yang dilahirkan, dua di antaranya meninggal dunia ketika masih kecil. Sepuluh anak kemudian tumbuh dan melanjutkan kehidupan di berbagai daerah, termasuk Jakarta dan Tanjung Karang.
Menurut Sudirman, salah satu pesan paling kuat dari sang ayah adalah pentingnya pendidikan.
“Pesan ayah saat itu, tidak ada apa-apanya kehidupan ini tanpa memiliki pendidikan,” katanya.
Pesan tersebut, kata dia, menjadi pegangan keluarga. Anak-anaknya kemudian menempuh pendidikan hingga jenjang magister dan berkarier di berbagai bidang, baik pemerintahan maupun swasta.
Sebagian di antaranya mengabdi di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM, Mahkamah Agung, pengadilan, kejaksaan, serta berbagai institusi lainnya.
“Alhamdulillah, semuanya S2 dan semuanya bekerja di berbagai tempat. Ada yang pegawai negeri, ada juga di swasta,” tuturnya.
Karena itu, bagi Sudirman, haul bukan hanya tentang mengingat sosok yang telah meninggal dunia, tetapi juga menjaga agar pesan dan keteladanan mereka tidak ikut terkubur bersama waktu.
“Mudah-mudahan dengan haul yang kita laksanakan tiap tahun begini, kita masih selalu mengenang bagaimana kebaikan, bagaimana orang tua kita pada saat itu. Karena tanpa mereka, kita tidak berarti apa-apa,” ucapnya.
Pesan untuk Anak, Cucu hingga Cicit
Sudirman juga menyampaikan pesan kepada generasi penerus keluarga agar tidak kehilangan pijakan moral dan spiritual di tengah perkembangan zaman.
Saat ini, keluarga besar tersebut telah berkembang menjadi puluhan anggota, mulai dari anak, menantu, cucu hingga cicit.
Ia berharap generasi penerus tetap memegang teguh pesan yang dahulu disampaikan ayahnya: menjaga integritas moral dan memperkuat iman serta ketakwaan kepada Allah SWT.
“Pesan ayah saya dulu, jaga integritas moral. Karena dengan kita bermoral, mudah-mudahan kita akan selamat dalam kehidupan ini dan sukses dalam kehidupan duniawi,” katanya.
Selain moral, ia menekankan pentingnya ibadah sebagai fondasi kehidupan.
“Dan jangan lupa, ibadah, ibadah, ibadah. Tingkatkan selalu iman dan takwa kepada Allah SWT. Itu pesan orang tua dan sampai sekarang masih menjadi pedoman kehidupan kami bersama,” tegas Sudirman.
Mengenang H. Damanhury
H. Damanhury bin Achmad Moersi lahir di Pekon Lintik, Krui, Pesisir Barat, Lampung, pada 4 Juni.
Ia wafat di Rumah Sakit MMC Jakarta pada Selasa, 19 September 2006, dalam usia 67 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga di Pekon Lintik, Krui, Pesisir Barat, Lampung.
Semasa hidup, H. Damanhury membangun keluarga besar yang terdiri dari 10 anak, yakni Hj. Kemala Aini, Dr. H. Sudirman D Hury, SH, MM, M.Sc., Hj. Nurhanis, H. Bangsawan Dhury, SH, MH, almarhum H. Mursal Aziz Dhury, Kesumawati, SH, MH, Suryanti, SH, MH, Edi Saputra Dhury, SH, MH, Reni Suzana, SE, serta H. Topan Sopuan Dhury, S.Sos, SH, MH.
Dari keluarga tersebut, kemudian lahir generasi baru yang terus memperluas tali persaudaraan keluarga.
Mengenang Hj. Armapuri
Sementara itu, Hj. Armapuri binti Zainul Laham lahir di Sukaraja Ulu, Krui, pada 10 Maret 1940.
Ia wafat di Rumah Sakit Tebet, Jakarta Selatan, pada 4 Februari 2022 dalam usia 82 tahun. Jenazahnya dimakamkan berdekatan dengan makam almarhum H. Damanhury.
Kepergian keduanya meninggalkan duka mendalam. Namun, bagi keluarga, kasih sayang, keteladanan dan pesan yang mereka tinggalkan justru menjadi warisan yang terus hidup.
Dari Orang Tua, Mengalir ke Generasi Berikutnya
Dari keluarga besar tersebut, sejumlah cucu telah membangun keluarga baru. Di antaranya Dr. Bakasia Helaudo bersama Ajeng Woro Nastiti, Adytia Putra Ramdho bersama Dr. Sashia Laras, Chindya Mulia Kencana bersama Alim Kahfi, Destiawan bersama Desinar Pratiwi, serta Doni Saputra bersama Maulida Anisa.
Sementara generasi cucu lainnya antara lain Nita Permata Aini, Riki Gusman, Reno Putra Ramdho, Preesayj Ragahdho, Rizkiadi Rawandho, Alinta Septianda, Meylisa Dwiyanda, Mochammad Doohan, Anggia Moelini, Andhika Daman Prawira, Rosa Damayanti, Alfaris Akbar Arpan, Sultan M. Rizky, Nawira Azizah Putri Azzahra, Muhammad Rhazes Aliandho, Nabilla Zahira Nurdiana, Nauza Syawalivia Rezantara, Azfar Mawla Rezantara, Frisya Afifah, Maheswary Shabira GrySelda dan Prameswary Shabira Afifa.
Dari cucu yang telah menikah, keluarga besar H. Damanhury juga telah dikaruniai enam cicit, yakni Gannaero Meurah Ali Helaudho, Cannaleia Ruwa Aeshya Helaudho, Arkhairan Lawslo Kahfi, Cantya Bebaisha, Cyra Zia Bebaiya, dan Neizam Alkantara Bakasdho.
Bagi keluarga besar Dr. H. Sudirman D Hury, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa sebuah keluarga tidak hanya diwariskan melalui garis keturunan, tetapi juga melalui nilai, keteladanan dan pesan kehidupan.
Haul pun menjadi ruang untuk kembali mengingat dari mana keluarga berasal dan nilai apa yang harus terus dijaga oleh generasi berikutnya.
Usia manusia boleh berakhir. Namun, doa, kasih sayang dan kebaikan yang ditanamkan semasa hidup dapat terus tumbuh, diwariskan dan dikenang oleh anak, cucu hingga cicit.
Melalui tahlilan, istighosah dan doa bersama, keluarga besar Dr. H. Sudirman D Hury berharap Allah SWT memberikan rahmat dan ampunan kepada para almarhum dan almarhumah.
“Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah para almarhum dan almarhumah, mengampuni segala dosa dan kekhilafan, melapangkan kuburnya, serta menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya.”












