TOPIKONLINE.CO.ID — Jakarta: Menteri Koordinator Bidang (Menko) Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan bahwa pangan bukan sekadar persoalan selera dan kebutuhan konsumsi masyarakat, tetapi berkaitan erat dengan kehidupan jutaan petani, nelayan, dan peternak hingga kedaulatan bangsa.
Hal itu disampaikan Zulhas seusai peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Menurut Zulhas, buku tersebut membahas pangan dari berbagai perspektif. Ia mengatakan dirinya dalam buku tersebut mengulas mengenai kebijakan pangan, sementara penulis lainnya, Asisten Khusus Presiden Republik Indonesia, Dirgayuza Setiawan, membahas pengetahuan mengenai makanan.
“Ini buku (Pangan Indonesia) ya. Saya bicara mengenai kebijakan, Dirgayuza bicara mengenai kepentingan kita mencari pengetahuan tentang makanan,” ujar Zulhas.
Ia menilai persoalan pangan memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibanding sekadar apa yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Zulhas menyebut, sektor pangan berkaitan langsung dengan kehidupan sekitar 160 juta petani, nelayan, dan peternak di Indonesia.
“Pangan itu tidak hanya selera makan. Tapi itu menyangkut 160 juta petani, nelayan, peternak. Ekonominya, masa depannya, kehidupannya, kehormatannya, dan menyangkut kedaulatan kita,” ucap Zulhas.
Menko Pangan mencontohkan sektor perikanan sebagai salah satu bidang yang berkaitan dengan kedaulatan nasional. Menurut dia, kesejahteraan nelayan juga berhubungan dengan kemampuan Indonesia menjaga sumber daya lautnya.
“Kalau nelayan kita miskin, maka lautan kita bisa dikuasai nelayan lain,” kata dia.
Zulhas juga mengingatkan pentingnya Indonesia mencapai swasembada pangan agar tidak terlalu bergantung pada pasokan dari negara lain.
Menurut dia, ketergantungan terhadap impor bukan hanya berdampak pada ekonomi, tetapi dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi pola konsumsi masyarakat Indonesia.
“Kalau kita tidak swasembada dari bidang pangan, maka pangan kita akan bergantung kepada impor. Artinya semua itu nanti kita akan sangat tergantung,” tutur Zulhas.
Ia mencontohkan perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang menurutnya dapat terjadi ketika komoditas pangan tertentu semakin bergantung pada impor.
“Kalau sekarang kita makannya beras, lama-lama kita bisa makan yang kita nggak punya,” jelasnya.
Zulhas kemudian menyinggung kentang yang kini banyak dikonsumsi masyarakat. Ia membandingkannya dengan ketela yang dahulu lebih banyak menjadi bagian dari konsumsi masyarakat Indonesia.
“Dulu kan kita makannya ketela. Ketela itu kalau diolah bisa jadi macam-macam. Tapi sekarang kita ganti kentang,” tambah Zulhas.
Menurut dia, peningkatan konsumsi komoditas tertentu juga perlu memperhatikan aspek lingkungan, termasuk dampak budidaya di kawasan pegunungan. “Sekarang kentang itu merusak gunung-gunung, menaruh di gunung tinggi,” ungkapnya.
Selain kentang, Zulhas menyoroti peningkatan kebutuhan gandum yang sebagian besar masih dipenuhi melalui impor. Ia membandingkan kebutuhan impor gandum Indonesia saat ini dengan kondisi pada masa lalu.
“Beras, kalau beras kita kurang, kurang, kurang. Sementara gandum berkembang terus teknologinya. Kita dulu hanya impor gandum tiga juta, sekarang 13 juta,” papar Zulhas.
Karena itu, Zulhas menekankan bahwa pembangunan sektor pangan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan produksi dalam negeri, kesejahteraan pelaku usaha pangan, hingga penguatan kedaulatan pangan nasional.












