PT. Sutioso Bersaudara Apresiasi Polda Maluku Tangkap Pelaku Penggelapan Perikanan Tangkap

Jakarta – Beberapa waktu yang lalu, Polda Maluku berhasil menangkap Fishing Master merangkap Nahkoda Kapal Kursin milik PT. Sutioso Bersaudara di Tegal, Jawa Tengah.
Pelaku penggelapan ikan di tengah laut ini ke Polda Maluku pada Minggu Malam (22/5/2022) untuk diserahkan ke Pengadilan Tinggi Maluku guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Dijelaskan oleh Alwie Syarif Haddad, Direktur PT. Sutioso Bersaudara dalam konferensi persnya di bilangan Penjaringan, Jakarta Utara. Nahkoda yang berhasil ditangkap Polda Maluku berinisial H. Diketahui sudah lama bekerja di PT.Sutioso Bersaudara.
Dianggap sudah cukup senior dan memiliki jam terbang tinggi, H kemudian dipercaya sebagai Fishing Master.
“Ini kami lakukan karena di tahun 2014 tepatnya saat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dipegang Menteri Susi Pudjiastuti melarang penggunaan tenaga kerja asing (TKA) di perusahaan Indonesia,” jelasnya.

Alwie melanjutkan, awal mula penunjukkan pelaku selain karena peraturan Kementerian KKP juga karena yang bersangkutan di anggap telah melakukan transfer knowledge dari Fishing Master perusahaan yang berasal dari Filipina.
“Sehingga kami percaya penuh untuk menjadi salah satu fishing master dari 27 kapal kami dan kami yakin bahwa H bisa menjadi pengganti TKA asal Filipina tersebut.” Kata Alwie.

Namun kepercayaan yang diberikan PT.Sutioso Bersaudara dikhianati oleh pelaku setahun yang lalu tepatnya April 2021, pria asal Tegal ini tertangkap tangan tengah memindahkan hasil tangkapan ikannya ke Kapal Kursin milik pelaku. “Kami yang awalnya tidak percaya dengan adanya laporan dari ABK (Anak Buah Kapal) lainnya sudah pasti kaget, orang yang sudah lama bekerja di kami tega melakukan pengkhianatan dengan memindahkan hasil tangkapan ikan ke kapal miliknya,” jelas Alwie.

Alwie Syarif Haddad, Direktur PT. Sutioso Bersaudara

Hal ini langsung mendapat respon cepat dari manajemen PT. Sutioso Bersaudara dengan melaporkan H ke Polda Maluku.
“Alhamdulillah laporan kami mendapat respon yang sangat bagus dari Polda Maluku. Karena Haryono, selain merugikan perusahaan juga telah merugikan negara dan daerah karena perpindahan ikan di tengah laut tidak terpungut biaya retribusi,” katanya.

Alwie menjelaskan apa yang dilakukan oleh pelaku telah merugikan perusahaan karena dia telah mengambil ikan sebesar 45 ton. “Jika ditotal perusahaan rugi 1 Milyar Rupiah,” kata Alwie.

Sementara itu Marzuki Yazid, Sekretaris Jenderal Asosiasi Perikanan Tangkap Terpadu (Aspertadu) yang hadir secara virtual melalui zoom menyambut baik ditangkapnya pelaku oleh Polda Maluku di rumahnya yang berada di Tegal.
Menurut Marzuki, penangkapan ini menjadi bukti bahwa pencurian ikan di tengah laut berhasil diusut tuntas oleh polisi sehingga tidak merusak nama baik ABK dan nakhoda yang ada di Indonesia pada umumnya. Penangkapan ini juga menjadi bukti bahwa proses pemulihan kepercayaan bagi investor yang selama ini tidak konsisten dengan regulasi yang berubah masih terus berjalan.
“Pada prinsipnya, Aspertadu mengapresiasi aparat penegak hukum yang mau membantu untuk memulihkan kembali kepercayaan investor,” jelas Marzuki.

Lebih lanjut dikatakan oleh Marzuki dengan adanya kasus ini atensi pemerintah yang membuat kebijakan melarang pemakaian TKA secara kronologis harus ditinjau ulang. Sehingga apa yang terjadi dengan PT. Sutioso Bersaudara yang menjadi anggota Aspertadu tidak terjadi dengan perusahaan perikanan lainnya.
“Dan kalau TKA bisa kembali dipakai, saya optimis akan memunculkan investor yang dapat menanamkan modalnya kembali di Indonesia,” jelasnya.

Namun jika tetap tidak diiziinkan maka Aspertadu akan menyekolahkan ABK dan Nahkoda untuk menjadi Fishing Master. Untuk itulah Aspertadu telah melakukan kerja sama dengan sekolah perikanan di SPM (Sekolah Pelayaran Menengah). [Adang]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *