Bekasi,Topikonline.co.id– Di tengah padatnya permukiman warga Kota Bekasi, berdiri sebuah lembaga pemasyarakatan yang perlahan mengubah stigma lama tentang kehidupan di balik jeruji besi. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bekasi atau yang lebih dikenal sebagai Lapas Bulak Kapal kini tampil dengan wajah berbeda di bawah kepemimpinan Kalapas Dedy Cahyadi.
Sejak resmi menjabat melalui serah terima jabatan pada akhir 2025, Dedy dikenal sebagai sosok yang tidak hanya fokus pada keamanan dan pembinaan warga binaan, tetapi juga pada pembangunan fisik, modernisasi layanan, serta perubahan budaya kerja di lingkungan pemasyarakatan.
Kesan berbeda langsung terasa saat memasuki kawasan lapas. Di pintu masuk, petugas menyambut tamu dengan ramah. Di sisi kanan gerbang, tersedia area bermain anak yang dapat dimanfaatkan keluarga warga binaan saat berkunjung. Sebuah pemandangan yang jauh dari citra penjara yang kaku dan menegangkan.
Di tengah kesibukannya mengikuti pendidikan kedinasan, Dedy tetap meluangkan waktu menerima awak media pada Kamis (4/6/2026). Dengan santai namun penuh semangat, ia memaparkan berbagai gagasan dan filosofi kepemimpinan yang sedang dibangun di Lapas Bekasi.
“Bagi saya, integritas harus menjadi pegangan utama dalam bekerja. Zona nyaman itu bukan berarti santai atau bermalas-malasan. Zona nyaman adalah ketika kita bekerja sesuai kapasitas dan aturan yang berlaku sehingga terhindar dari risiko dan konsekuensi yang tidak perlu,” ujar Dedy.

Lapas di Tengah Permukiman, Menjadi Cermin Kehidupan
Menurut Dedy, keunikan Lapas Bekasi terletak pada lokasinya yang berada di tengah-tengah masyarakat.
“Lapas ini bukan hanya miniatur kehidupan masyarakat, tetapi juga menjadi cermin bagi masyarakat. Kehidupan di luar memang tidak mudah, tetapi akan jauh lebih berat ketika seseorang harus menjalani hidup di dalam lapas dengan segala keterbatasan dan aturan yang ada,” katanya.
Ia berharap keberadaan lapas dapat menjadi pengingat bagi masyarakat tentang konsekuensi dari pelanggaran hukum.
“Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai refleksi. Sesulit apa pun kehidupan di luar, akan lebih sulit jika harus menjalaninya di dalam lapas,” tegasnya.
Dijuluki Kalapas Pembangunan
Di kalangan pemasyarakatan, nama Dedy Cahyadi kerap dikaitkan dengan berbagai proyek pembangunan dan pembenahan fasilitas. Julukan “Kalapas Pembangunan” pun melekat karena hampir di setiap tempat tugasnya selalu ada perubahan fisik yang signifikan.
Namun baginya, pembangunan bukan sekadar mendirikan gedung.
“Saya selalu bilang kepada teman-teman, harus ada kemajuan setiap hari. Tidak perlu langsung besar. Satu sentimeter pun tidak masalah, yang penting ada progres,” ujarnya.
Salah satu hasil pembenahan yang paling menonjol adalah dapur lapas yang kini tampil modern dan higienis.
“Kalau melihat dapur kami sekarang, saya rasa tidak kalah dengan dapur-dapur lapas besar lainnya. Yang penting bukan kemewahannya, tetapi standar kebersihan, kualitas makanan, dan sistem pengawasannya,” kata Dedy.
Dapur Sehat dan Pengawasan Real Time
Dedy menegaskan bahwa pengelolaan makanan warga binaan kini diawasi secara ketat melalui sistem digital dan CCTV yang dapat dipantau secara langsung.
Ia mengaku dapat memonitor seluruh proses mulai dari bahan makanan datang, diolah, hingga didistribusikan kepada warga binaan.
“Saya bisa mengecek semuanya secara real time. Kalau ada yang bekerja tidak sesuai standar, saya langsung tegur. Karena kualitas pelayanan makanan tidak boleh asal-asalan,” ujarnya.
Menurutnya, standar dapur sehat yang saat ini diterapkan merupakan implementasi langsung arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan serta Direktur Jenderal Pemasyarakatan.
Transparansi dan Era Digital
Salah satu proyek besar yang sedang disiapkan Dedy adalah platform digital untuk memantau kualitas layanan pemasyarakatan di seluruh Jawa Barat.
Melalui sistem tersebut, masyarakat dan keluarga warga binaan nantinya dapat mengakses berbagai informasi layanan secara transparan.
“Keluarga bisa mengetahui penggunaan uang yang dikirim kepada warga binaan. Jadi tidak ada lagi kecurigaan atau asumsi negatif. Semuanya transparan dan bisa dipantau,” jelasnya.
Lapas Bekasi juga telah menerapkan sistem transaksi non-tunai (cashless) melalui kerja sama dengan perbankan, sehingga seluruh transaksi warga binaan lebih aman dan akuntabel.
Pembinaan Melampaui Tugas Pokok
Dedy menilai bahwa tugas pemasyarakatan saat ini tidak lagi sekadar menjalankan fungsi pembinaan dan pengamanan.
“Arahan Bapak Menteri dan Pak Dirjen jelas. Sekarang bukan hanya berbicara tugas pokok dan fungsi. Itu sudah otomatis. Yang dibutuhkan adalah bagaimana kita bisa memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat,” katanya.
Karena itu, Lapas Bekasi aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Agama, MUI, Dinas Pendidikan, Disdukcapil, hingga berbagai organisasi masyarakat.
Program pembinaan yang dijalankan meliputi pembinaan keagamaan, pendidikan kejar paket, pelatihan kepramukaan, pengembangan UMKM, hingga program ketahanan pangan.
ELBEKA Semakin Insani
Di balik berbagai perubahan tersebut, Dedy menanamkan budaya kerja baru yang ia sebut “ELBEKA Semakin Insani”.
ELBEKA merupakan singkatan dari Lapas Bekasi, sedangkan “Semakin” bermakna terus berkembang dan memberikan manfaat. Adapun “Insani” memiliki makna Inspiratif, Semangat, Amanah, Kuat, dan Mengayomi.
“Saya ingin teman-teman lebih memanusiakan manusia. Pelayanan yang baik dimulai dari cara kita menghargai diri sendiri dan menghargai orang lain,” ujarnya.
Filosofi itu diterjemahkan ke dalam berbagai perubahan layanan, mulai dari ruang tunggu yang lebih nyaman, area pelayanan yang lebih humanis, hingga pemanfaatan teknologi digital agar masyarakat memperoleh kepastian layanan sebelum datang ke lapas.
Mengubah Stigma Pemasyarakatan
Bagi Dedy, tantangan terbesar bukan hanya membangun gedung atau memperbaiki sistem, melainkan mengubah citra pemasyarakatan di mata masyarakat.
“Saya tidak menargetkan pemasyarakatan harus dipandang sempurna. Saya hanya berharap citranya tidak lagi buruk. Jangan sampai masyarakat selalu melihat lapas dari sisi negatifnya saja,” tuturnya.
Di tengah berbagai keterbatasan, Dedy percaya perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Dari balik tembok Lapas Bulak Kapal, ia berusaha membuktikan bahwa pemasyarakatan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembinaan yang mampu menghadirkan perubahan, baik bagi warga binaan maupun bagi institusi itu sendiri.












