Jakarta,Topikonline.co.id – Persoalan energi nasional tak cukup dibicarakan di ruang-ruang pemerintahan. Ketahanan energi membutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia usaha, akademisi hingga pengambil kebijakan agar kekayaan sumber daya energi Indonesia tidak habis tanpa meninggalkan jaminan bagi generasi mendatang.
Semangat itulah yang mendorong Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957 (IBI-K57), khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, menyiapkan Dialog Nasional Energi Baru Terbarukan (EBT).
Sebagai bagian dari persiapan, panitia menggelar rapat pada Kamis (27/8/2026) di Gedung Rektorat IBI Kosgoro 1957, Ruang A 503, Jalan Muh. Kahfi II, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Dewan Pengarah Panitia Dialog Nasional EBT sekaligus Sekretaris Jenderal PPK Kosgoro 1957, Dr. M. Sabil Rachman, M.Si, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari kepedulian kader-kader Kosgoro terhadap persoalan energi nasional yang dinilai semakin strategis.
“Semua ini berangkat dari keinginan dan kesadaran teman-teman kader Kosgoro yang selama ini memiliki konsen dan kepedulian yang tinggi atas masalah energi nasional,” ujar Sabil.
Menurutnya, dialog nasional tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Sebelumnya, sejumlah kader telah melakukan diskusi terbatas secara intensif untuk mengidentifikasi berbagai persoalan sekaligus menggali gagasan mengenai masa depan energi Indonesia.
Diskusi terbatas itu, kata Sabil, menjadi pemantik untuk membawa pembahasan ke forum yang lebih luas dengan melibatkan pembicara yang memiliki kapasitas dan kepakaran di bidang energi, termasuk para pengambil kebijakan.
“Kehadiran pembicara dari berbagai kalangan dan peserta dalam lingkup yang lebih luas diharapkan membuat diskusi ini memiliki resonansi yang lebih luas,” katanya.
Energi Bukan Sumber Daya Tak Terbatas
Sabil menegaskan, salah satu pesan penting yang ingin dibangun melalui dialog tersebut adalah kesadaran bahwa sumber daya energi tidak boleh diperlakukan seolah-olah tidak akan pernah habis.
Menurut dia, kekayaan energi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia harus dikelola secara bijak. Pemanfaatannya tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan generasi saat ini, tetapi juga harus mempertimbangkan hak generasi mendatang.
“Langkah-langkah yang lebih konstruktif diperlukan untuk menjaga seluruh sumber-sumber energi nasional yang hadir di seluruh pelosok negeri. Namun demikian, harus dikelola dan dimanfaatkan secara bijak agar tidak selesai dan hanya dinikmati oleh generasi hari ini dengan melupakan kebutuhan energi generasi masa depan,” tegasnya.
Karena itu, Dialog Nasional EBT diharapkan mampu memperluas perspektif publik bahwa urusan energi bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau perusahaan energi.
Masyarakat, dunia usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan dan berbagai kelompok strategis lainnya juga merupakan bagian dari ekosistem energi nasional.
Sampah hingga Singkong Bisa Jadi Sumber Energi
Lebih jauh, Sabil mengatakan dialog tersebut juga diarahkan untuk mendorong pemanfaatan sumber-sumber energi baru yang tersedia di dalam negeri.
Ia mencontohkan sampah, sisa pengelolaan kelapa sawit hingga singkong sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi sumber energi baru.
“Harapannya ada kesadaran kuat masyarakat, terutama pelaku usaha dan pengambil kebijakan, bahwa energi bukanlah sumber daya yang tidak akan habis pada masa tertentu. Karena itu harus dapat dikelola dan dimanfaatkan secara bijak,” ujarnya.
Menurut Sabil, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi alternatif berbasis sumber daya lokal. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi diolah menjadi kekuatan ekonomi dan energi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Karena itu, ia menekankan bahwa dialog nasional tersebut tidak boleh berhenti sebagai forum bertukar gagasan.
“Dialog ini tidak boleh berhenti dalam ruangan diskusi, tetapi harus dapat ditindaklanjuti dengan aksi dan agenda nyata,” katanya.
Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, khususnya pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan dunia usaha di sektor energi, dapat memberikan dukungan terhadap agenda tersebut.
Dengan demikian, Dialog Nasional EBT IBI-K57 diharapkan bukan sekadar forum seremonial, melainkan menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, kepakaran dan kepentingan berbagai pihak dalam merumuskan langkah konkret menuju ketahanan energi nasional yang berkelanjutan.
Rapat persiapan tersebut dihadiri sejumlah unsur panitia dan peserta, di antaranya Dr. M. Sabil Rachman, M.Si; Agus Hitopa Sukma, S.H., M.I.Kom; Mustapa M. Radja; Hj. Irsani Damayanti Nalapraya, BB.A; Ir. Agus Wahyudiono, M.S; Dr. Joned Ceilandra Saksama, S.E., M.M., CBPA; Dr. Abd. Razak Mozin, S.Ag., M.Si; Alamsyah, S.Sos., M.Ikom; Dr. (C.) Misnan, S.S., M.I.Kom; Mooh. Hamzah Berdikari; Dr. Adi Murtadi; Dr. Bintang Nurhadi; serta Iswahyu Prana Wukir, S.Sn., M.I.Kom.
Turut hadir Marta Senjaya, S.Sos., M.Si; David Tampubolon; Ricky Saputra; Irsan Supriadi; Rosdinal Salim; Faisal Amin Rusli; Doni Arlansyah Isman; Shinta Kartika, S.H., M.Si; Justin Djogo, MBA; Tigor Marpaung, S.Sos., M.Si; Anzas Tirta Bayu; Iwan Purnama; Maya Ramaida; Umar Yunus; Ernie Listianti, S.M.; Muhamad Abror Anfarodis, S.H.; Jihan Abdullah; dan Luthfan.












