Karawang,Topikonline.co.id – Suasana berbeda tampak di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Karawang, Senin (20/7/2026). Artis sekaligus presenter Irfan Hakim melakukan kunjungan ke dalam lapas dan menyaksikan secara langsung berbagai aktivitas pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP). Kunjungan tersebut meninggalkan kesan mendalam hingga membuat Irfan menitikkan air mata dan melakukan sujud syukur.
Didampingi Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Karawang, Ma’ruf Prasetyo, Irfan memulai kunjungannya sejak memasuki gerbang utama lapas. Perhatiannya langsung tertuju pada mural hasil karya para WBP yang menghiasi area depan lapas.
Tak hanya mengagumi karya seni para warga binaan, Irfan juga diajak melihat berbagai program pembinaan, mulai dari kegiatan Pramuka, latihan kasidah di masjid lapas, layanan laundry, hingga berbagai aktivitas pembinaan kepribadian dan kemandirian yang dijalankan setiap hari.
Momen paling mengharukan terjadi saat Irfan menyaksikan seorang warga binaan melakukan panggilan video (video call) dengan keluarganya melalui fasilitas Wartelsus Lapas. Dalam layar ponsel, seorang anak berbincang dengan ayahnya yang sedang menjalani masa pidana.
Tak kuasa menahan haru, air mata Irfan menetes. Dengan suara lirih ia menyapa sang anak.
“Doakan bapaknya ya,” ucap Irfan sembari menyeka air mata.
Bagi Irfan, pemandangan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik tembok penjara masih ada kasih sayang keluarga, penyesalan, serta harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Perjalanan berlanjut menuju Masjid Lapas Karawang. Di tempat itu, Irfan kembali dibuat takjub ketika mengetahui banyak warga binaan yang mengisi hari-harinya dengan belajar agama, bertobat, bahkan menghafal Al-Qur’an.
Tak mampu membendung emosinya, Irfan langsung melakukan sujud syukur.

Menurutnya, kunjungan tersebut memberikan pengalaman spiritual yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Di tempat yang sering dianggap orang kotor dan hina, ternyata saya melihat banyak orang yang sedang bertobat, menghafal Al-Qur’an, memperbaiki diri. Mereka sedang menjalani hukuman di dunia dan masih memiliki kesempatan untuk berubah.”
Irfan juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menghakimi orang lain.
“Yang bahaya justru orang yang melakukan kesalahan tetapi tidak tertangkap di dunia. Pertanggungjawabannya nanti di akhirat. Jangan pernah merasa diri kita paling bersih. Bisa jadi Allah masih menutupi aib kita.”
Ia kemudian mengutip firman Allah SWT.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Menurut Irfan, kebebasan yang dimiliki setiap orang merupakan nikmat yang harus disyukuri dan dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal bermanfaat.
“Selagi masih diberi kebebasan, jangan sebebas-bebasnya. Syukuri nikmat itu. Mereka di sini memanfaatkan setiap detik agar bernilai ibadah, sementara kita di luar kadang justru menyia-nyiakannya.”

Irfan juga mengaku tersentuh ketika mengetahui para warga binaan rutin berjalan dari blok hunian menuju masjid untuk beribadah setiap hari.
“Setiap langkah menuju masjid dihapus satu kesalahan dan ditambah satu kebaikan. Itu luar biasa.”
Sementara itu, Kalapas Karawang Ma’ruf Prasetyo mengatakan pembinaan di Lapas Karawang tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga pembentukan karakter, spiritual, dan keterampilan warga binaan.
“Semua tempat adalah sekolah. Semua orang adalah guru,” ujar Ma’ruf.
Ia menjelaskan, Lapas Karawang memiliki lahan seluas sekitar tujuh hektare. Empat hektare digunakan sebagai kawasan lapas, sedangkan sekitar tiga hektare dikembangkan untuk mendukung program ketahanan pangan melalui budidaya singkong, cabai, ikan arwana, serta berbagai kegiatan produktif lainnya.
Selama kunjungan, Irfan juga diperlihatkan alur kehidupan warga binaan sejak blok hunian dibuka pada pagi hari hingga kembali masuk blok pada sore hari.
Menariknya, sebagai tamu, Irfan tetap harus menjalani pemeriksaan badan sesuai prosedur keamanan yang berlaku bagi seluruh pengunjung.
“Ini semua prosedurnya, Pak,” ujar petugas saat melakukan pemeriksaan.
Sebelum mengakhiri kunjungannya, Irfan menyempatkan diri meninjau blok hunian perempuan yang berada di kompleks Lapas Kelas IIA Karawang.
Kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa lembaga pemasyarakatan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembinaan bagi mereka yang ingin memperbaiki diri. Bagi Irfan Hakim, perjalanan itu bukan sekadar kunjungan, melainkan pelajaran hidup tentang taubat, harapan, dan rasa syukur yang dapat ditemukan bahkan di balik jeruji besi.












