Kopi dari Balik Jeruji Lapas Cipinang Gegerkan Rakor Kemenimipas

Stand 5PM Coffee yang selalu ramai dikunjungi oleh peserta Rakor.Foto:ist/TPK

Jakarta,Topikonline.co.id — Siapa sangka, di tengah rapat elite Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), justru secangkir kopi dari balik tembok lapas yang menjadi salah satu magnet perhatian.

Bukan kopi mahal dari kedai ternama. Bukan pula racikan barista profesional dari luar negeri.

5PM Coffee, produk pembinaan Lapas Kelas I Cipinang, berhasil menghabiskan lebih dari 500 gelas dalam sehari saat Rapat Koordinasi Pimpinan (Rakor Pim) Kemenimipas 2026 di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta.

Aroma kopi yang mengepul di tengah dinginnya ruang hotel sontak mengundang peserta dan panitia untuk merapat. Antrean pun mengular. Satu demi satu gelas berpindah ke tangan peserta Rakor.

Yang membuatnya menarik, kopi tersebut diracik dan disajikan melalui program pembinaan kemandirian Warga Binaan.

Seorang peserta Rakor dari daerah bahkan mengaku sempat tidak percaya setelah mengetahui siapa yang berada di balik sajian tersebut.

“Rasanya enak. Perpaduan kopi dan gulanya pas. Kopi susunya creamy seperti di kafe mahal. Tidak menyangka yang membuat Warga Binaan,” ujarnya.

Di balik setiap cangkir terdapat proses pembinaan, keterampilan, disiplin, dan upaya menyiapkan Warga Binaan agar memiliki bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

Momentum itu dimanfaatkan Kepala Bidang Kegiatan Kerja (Kabid Giatja) Lapas Kelas I Cipinang, Lis Susanti, untuk membawa 5PM Coffee tampil di tengah forum nasional tersebut.

“Kita tidak menyangka banyak sekali peminat kopi di stand 5PM Coffee. Dalam sehari bisa menghabiskan 500 gelas kopi,” kata Lis dengan wajah sumringah.

Bagi Lapas Cipinang, keberhasilan 5PM Coffee bukan sekadar soal dagangan laris.

Ini adalah panggung pembuktian bahwa pembinaan di balik jeruji bisa menghasilkan karya yang menembus ruang publik.

Warga Binaan dilatih menjadi barista, mulai dari meracik minuman, menjaga kualitas sajian hingga memberikan pelayanan kepada pelanggan. Keterampilan itu kemudian diuji bukan hanya di lingkungan lapas, tetapi langsung berhadapan dengan konsumen dalam sebuah forum berskala nasional.

Kalapas Kelas I Cipinang, Dr. Syarpani, mengatakan 5PM Coffee membawa pesan lebih besar dari sekadar secangkir kopi.

“Ketika produk hasil pembinaan dapat dinikmati dalam forum nasional, ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan dan membuka akses pemasaran yang lebih luas,” ujarnya.

Kehadiran 5PM Coffee juga menjadi bagian dari dukungan terhadap 15 Program Aksi Kemenimipas Tahun 2026, khususnya penguatan pemasaran produk hasil karya Warga Binaan melalui koperasi dan UMKM.

Rakor Pim Kemenimipas resmi ditutup, Rabu (23/9/2026), setelah berlangsung selama tiga hari sejak 20 September.

Namun, dari seluruh dinamika forum tersebut, 5PM Coffee meninggalkan cerita yang sederhana tetapi kuat.

Dari balik jeruji, lahir keterampilan. Dari keterampilan, lahir karya. Dan dari secangkir kopi, tumbuh harapan untuk kembali mandiri.

Sebab pada akhirnya, pembinaan bukan hanya tentang menjalani hukuman.

Pembinaan adalah tentang mempersiapkan seseorang agar ketika pintu lapas terbuka, ia pulang membawa keterampilan—bukan sekadar membawa masa lalu.