Tawa dan Harapan Menggema di LPKA Jakarta, Kak Seto: Anak Binaan Tetap Punya Masa Depan yang Layak Diperjuangkan

Jakarta,Topikonline.co.id – Tawa, nyanyian, dan semangat optimisme memenuhi Aula Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Jakarta, Senin (27/7/2026). Di balik tembok pembinaan, puluhan Anak Binaan diajak kembali menyalakan harapan melalui kegiatan “Kakak Bercerita Bersama Kak Seto”, sebuah ruang inspirasi yang menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan kedua.

Sebanyak 37 Anak Binaan mengikuti kegiatan yang menghadirkan Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Kak Seto Mulyadi, untuk berbagi pengalaman hidup, motivasi, serta membangun kembali kepercayaan diri mereka.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) bersama Pokja Stop Stigma (Sinergi Sejuta Tangan) yang terdiri atas Espas Indonesia, Ikatan Bimbingan Konseling Sekolah, Sahabat Anak Indonesia, dan Jendela Pendidikan Nusantara.

Dengan gaya komunikasinya yang hangat dan penuh canda, Kak Seto mengisahkan perjalanan hidupnya yang tidak selalu mulus. Ia mengaku pernah berkali-kali mengalami kegagalan, penolakan, hingga jatuh bangun sebelum akhirnya meraih keberhasilan.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan hidup.

“Bukan hanya berani sukses, tetapi anak-anak juga harus berani gagal untuk kemudian bangkit kembali menjadi lebih hebat di masa depan,” ujar Kak Seto.

Ia juga menegaskan bahwa setiap anak memiliki keunikan yang tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun. Karena itu, status sebagai Anak Binaan tidak boleh menghapus rasa percaya diri maupun mimpi untuk meraih masa depan yang lebih baik.

“Semua anak itu unik, otentik, dan tidak terbandingkan. Semua anak hebat. Anak Binaan tetap anak-anak Indonesia yang harus dihargai, dihormati, dan percaya diri menyongsong masa depannya,” tegasnya.

Kak Seto mengaku terkesan dengan suasana pembinaan di LPKA Jakarta yang menurutnya telah menerapkan pendekatan ramah anak. Hal itu terlihat dari ekspresi ceria para Anak Binaan yang aktif bernyanyi, bermain, dan berinteraksi selama kegiatan berlangsung.

“Saya melihat LPKA ini ramah anak. Dari wajah-wajah mereka tercermin bahwa mereka dibina, diberi motivasi, diberi semangat, dan diasuh dengan cara yang baik sehingga tetap memiliki rasa percaya diri,” katanya.

Tak hanya memberikan motivasi kepada Anak Binaan, Kak Seto juga menyampaikan pesan menyentuh kepada masyarakat, khususnya para orang tua, agar membuka kembali pintu hati bagi anak-anak yang sedang menjalani proses pembinaan.

“Kami mengetuk pintu hati para orang tua agar menerima kembali anak-anak mereka dengan tangan terbuka dan hati terbuka. Mereka tetap memiliki masa depan. Semoga kelak mereka pulang dengan penuh rasa syukur karena telah dibina negara dengan baik,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Daerah Khusus Jakarta, Wachid Wibowo, mengingatkan bahwa setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Namun, yang menentukan masa depan seseorang adalah kemauan untuk berubah.

“Kemarin mungkin ada pelanggaran hukum yang menyebabkan kalian berada di sini. Hari ini mulailah bertobat. Gunakan waktu selama menjalani pembinaan untuk merenung, belajar, dan memperbaiki diri. Kesempatan kalian masih panjang. Negara membutuhkan kalian, keluarga juga membutuhkan kalian,” ujar Wachid.

Ia mengajak seluruh Anak Binaan memanfaatkan setiap program pembinaan sebagai bekal untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat.

Dukungan terhadap pemenuhan hak pendidikan juga disampaikan perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Udi. Ia menegaskan bahwa seluruh anak, termasuk Anak Binaan, memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak.

“Setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, termasuk Anak Binaan. Kami berharap sinergi ini dapat memastikan mereka terus belajar dan mengembangkan potensi,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Anak Binaan menerima donasi buku-buku cerita untuk menumbuhkan budaya literasi, serta bantuan sebuah laptop guna menunjang proses pembelajaran di lingkungan LPKA.

Suasana keakraban semakin terasa ketika seluruh peserta menikmati nasi cadong bersama, diselingi permainan dan lagu-lagu yang mencairkan suasana tanpa sekat.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pembinaan di LPKA bukan semata menjalani masa hukuman, melainkan proses membangun kembali karakter, memulihkan harapan, dan menyiapkan anak-anak agar mampu kembali menjadi bagian dari masyarakat.

Di balik tembok pembinaan, masih ada mimpi yang terus dirawat, potensi yang terus diasah, dan masa depan yang tetap layak diperjuangkan.