Menag Nasaruddin Umar Ingin 10 Muharam Dikenal sebagai Hari Kepedulian bagi Yatim dan Difabel

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (kiri) saat ditemui oleh wartawan saat kegiatan Lebaran Anak Yatim dan Penyandang Disabilitas 2026, di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2026). Foto: Noval Nurhadi/TOPIKONLINE.CO.ID
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (kiri) saat ditemui oleh wartawan saat kegiatan Lebaran Anak Yatim dan Penyandang Disabilitas 2026, di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2026). Foto: Noval Nurhadi/TOPIKONLINE.CO.ID

TOPIKONLINE.CO.ID – JAKARTA: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar berkomitmen menjadikan setiap tanggal 10 Muharam sebagai momentum nasional untuk memperkuat kepedulian terhadap anak yatim piatu dan penyandang disabilitas. Melalui peringatan Lebaran Anak Yatim, pemerintah ingin mendorong gerakan bersama guna membantu mereka terbebas dari berbagai kesulitan hidup.

“Kita akan membuat semacam tradisi baru di Indonesia. Setiap tanggal 10 Muharam kita peringati dengan cara membebaskan anak-anak yatim dan kelompok difabel dari penderitaan,” ucap Menag Nasaruddin Umar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, selama ini masyarakat lebih mengenal Muharam sebagai bulan untuk melaksanakan puasa sunnah. Namun, semangat berbagi dan menyantuni anak yatim juga perlu diperkuat sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam di bulan yang dimuliakan tersebut.

“Kita kembalikan tradisi Lebaran Yatim yang selama ini dikenal masyarakat, lalu kita Indonesiakan menjadi gerakan bersama untuk membantu anak-anak yatim piatu dan kelompok difabel,” ungkapnya.

Menag menjelaskan bahwa peringatan 10 Muharam di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan sejumlah negara lain. Di Indonesia, momentum tersebut diarahkan untuk memperkuat kegiatan sosial dan kemanusiaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia pun berharap Lebaran Anak Yatim dapat berkembang menjadi agenda nasional yang melibatkan berbagai elemen masyarakat sehingga jangkauan bantuan kepada anak yatim dan keluarga kurang mampu semakin luas.

“Kalau ini bisa menjadi event penting, maka seluruh anak-anak kita yang miskin dan yatim piatu akan semakin terbantu dan terbebas dari berbagai kesulitan hidup,” tutur Nasaruddin.

Menag juga mengajak masyarakat untuk menunjukkan kecintaan terhadap agama melalui kepedulian kepada sesama, khususnya anak yatim dan penyandang disabilitas.

“Mari kita cintai agama dengan cara mencintai anak-anak yatim dan kelompok difabel. Siapa yang akan memperhatikan mereka kalau bukan kita,” kata dia.

Lebih lanjut, Menag menegaskan bahwa Muharam merupakan bulan yang identik dengan perdamaian, kasih sayang, dan solidaritas sosial. Karena itu, bulan tersebut menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat semangat berbagi dan kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan.

“Pada masa Nabi tidak boleh ada peperangan pada bulan Muharam. Karena itu Muharam menjadi momentum untuk menebarkan kasih sayang dan memperkuat kepedulian sosial,” tutup Menag.