Lapas Paledang Bogor Berjuang Melawan Overkapasitas, Menumbuhkan Harapan dari Balik Jeruji

Foto:ist

Bogor,Topikonline.co.id – Stigma penjara sebagai tempat yang kumuh, menyeramkan, dan penuh ketegangan seolah memudar ketika memasuki Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bogor atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Lapas Paledang Bogor.

Berdiri sejak tahun 1908 di kawasan Jalan Paledang Nomor 2, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, lapas bersejarah ini menyimpan kisah panjang tentang pembinaan, perubahan, dan harapan bagi para warga binaan. Di tengah persoalan klasik berupa overkapasitas yang masih membayangi, Lapas Paledang terus berupaya menghadirkan wajah pemasyarakatan yang lebih humanis dan produktif.

Saat ini, lapas yang dirancang untuk menampung 394 orang tersebut dihuni sekitar 820 warga binaan. Namun keterbatasan ruang tidak menghalangi berbagai program pembinaan untuk tetap berjalan.

Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP) Arman Jhonas bersama jajaran, termasuk Kasi Binadik Fauzen dan Kasubsi Registrasi Muhammad Anggry Setiawan, terus memastikan kegiatan pembinaan berlangsung secara optimal.

Beragam program dijalankan, mulai dari pembinaan keagamaan, pelatihan keterampilan kerja, pengembangan usaha produktif hingga program ketahanan pangan yang melibatkan warga binaan secara langsung.

Dari Balik Jeruji, Lahir Ribuan Kue Sus Premium

Salah satu kisah inspiratif datang dari Amalia, warga binaan yang akrab disapa Amel. Perempuan yang tengah menjalani hukuman tiga tahun dalam kasus penggelapan itu berhasil mengembangkan keterampilan membuat kue yang sebelumnya telah ia tekuni sebelum masuk lapas.

“Saya memang sebelumnya usaha bikin kue basah dan kue kering. Karena kue kering sifatnya musiman, saya mencoba membuat kue sus dan ternyata banyak yang menyukai,” ujar Amel.

Selama hampir tiga bulan terakhir, Amel bersama sejumlah rekan sesama warga binaan telah memproduksi lebih dari 2.000 kue sus premium dari dalam lapas.

“Hasil premi dari kegiatan ini saya gunakan untuk menabung dan memenuhi kebutuhan selama menjalani masa pidana,” katanya.

Bagi Amel yang memiliki suami dan dua anak, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi sumber penghasilan tambahan, tetapi juga memberi harapan baru untuk menyongsong kehidupan setelah bebas nanti.

Kue Sus Jembatan Merah, Produk Unggulan Warga Binaan

Produk hasil karya warga binaan kini dipasarkan dengan merek “Kue Sus Jembatan Merah Lapas Bogor” serta produk mochi premium yang mulai dikenal di berbagai kalangan.

Kasubsi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja, Chusnul Wijayanti atau Yanti, menjelaskan bahwa pemasaran masih dilakukan secara terbatas melalui sistem pre-order.

“Saat ini pemesannya masih berasal dari lingkungan kementerian, keluarga pegawai, keluarga warga binaan, pengadilan, hingga kalangan akademisi,” ujarnya.

Kue sus dijual dengan harga Rp7.500 per buah, sementara mochi dibanderol Rp5.000 per buah. Menurut Yanti, harga tersebut sebanding dengan kualitas bahan baku yang digunakan.

“Semua menggunakan bahan premium, mulai dari susu, whipped cream, hingga kemasannya. Karena itu kami juga sedang mencari formulasi agar produk ini bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” jelasnya.

Lapas Paledang bahkan mulai menjajaki peluang kerja sama dengan toko kue dan pelaku usaha kuliner untuk memperluas jaringan pemasaran produk warga binaan.

Membangun Ketahanan Pangan di Lahan Terbatas

Tak hanya fokus pada sektor kuliner, Lapas Paledang juga mengembangkan program ketahanan pangan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian.

Melalui kerja sama dengan PT Lintang Waskita Satwa, lapas mengelola peternakan ayam petelur berkapasitas 1.152 ekor. Dari kandang tersebut, setiap hari dihasilkan sekitar 700 hingga 800 butir telur.

“Kami menyediakan lahan dan tenaga kerja warga binaan, sementara mitra menyediakan kandang, pakan, dan ayamnya,” terang Yanti.

Tiga warga binaan terlibat langsung dalam pengelolaan peternakan dan memperoleh premi atas hasil kerja mereka.

Program tersebut juga melibatkan Aris Wiryanto, mantan warga binaan yang kini dipercaya menjadi pengawas peternakan.

“Saya dulu dibina di sini. Setelah bebas, saya memilih tetap membantu mengelola peternakan ayam di lapas,” ujar Aris.

Selain peternakan ayam petelur, Lapas Paledang juga mengembangkan budidaya ikan nila, maggot, serta pernah menjalankan program hidroponik yang saat ini tengah diperbaiki setelah mengalami kerusakan instalasi.

Pengamanan Ketat, Pelayanan Tetap Humanis

Meski dihuni jauh melebihi kapasitas ideal, pelayanan terhadap warga binaan dan keluarga tetap menjadi perhatian serius.

Setiap pengunjung yang datang wajib melewati proses registrasi, pemeriksaan barang bawaan, hingga penggeledahan badan sebelum memasuki area kunjungan. Durasi kunjungan dibatasi selama 15 menit untuk setiap keluarga.

Layanan kunjungan dibuka pada Senin hingga Kamis dan Sabtu, sedangkan Jumat serta hari libur nasional tidak melayani kunjungan.

Di era digital, lapas juga menyediakan layanan komunikasi melalui aplikasi khusus bernama Just Pikol. Namun demikian, pihak lapas menilai pertemuan langsung tetap memiliki peran penting dalam proses pembinaan.

“Ada ikatan emosional yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Tatap muka dengan keluarga tetap menjadi kebutuhan penting bagi warga binaan,” ungkap salah seorang petugas.

Pembinaan Rohani dan Pencegahan Penyakit

Pembinaan keagamaan menjadi salah satu program yang terus diperkuat. Lapas Paledang menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga keagamaan, termasuk Badan Pengelola Masjid Istiqlal dan Kementerian Agama.

Program tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi warga binaan Muslim, tetapi juga warga binaan Nasrani dan pemeluk agama lainnya.

Di bidang kesehatan, lapas juga meningkatkan upaya pencegahan berbagai penyakit menular, termasuk sosialisasi pencegahan hantavirus melalui edukasi dan pemasangan media informasi di lingkungan lapas.

Menjaga Harapan di Tengah Keterbatasan

Overkapasitas masih menjadi tantangan besar yang dihadapi Lapas Paledang Bogor. Namun di balik padatnya hunian dan keterbatasan fasilitas, semangat pembinaan tetap tumbuh.

Di tempat ini, jeruji besi tidak hanya menjadi simbol hukuman. Ia juga menjadi ruang pembelajaran, tempat warga binaan mengasah keterampilan, memperbaiki diri, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Karena pada akhirnya, tujuan pemasyarakatan bukan sekadar membatasi kebebasan seseorang, melainkan mengembalikannya ke tengah masyarakat sebagai individu yang lebih siap, produktif, dan bermartabat. Di balik tembok-tembok tua yang telah berdiri lebih dari satu abad itu, harapan terus dijaga agar tidak pernah padam.