Lapas Narkotika Gunung Sindur “Naik Kelas”: Dari Penjara Jadi Sentra UMKM dan Ketahanan Pangan

Kalapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur. Bambang Wijanarko,Foto: Thalib

Bogor,Topikonline.co.id – Stigma penjara sebagai tempat penuh keterbatasan perlahan dipatahkan oleh Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur. Di bawah kepemimpinan Bambang Wijanarko, lembaga pemasyarakatan khusus kasus narkotika itu kini bergerak agresif membangun pembinaan produktif berbasis UMKM dan ketahanan pangan.

Di tengah kesibukannya mengikuti pendidikan kedinasan, Bambang tetap menyempatkan diri menyambut awak media bersama jajaran pejabat struktural lapas, di antaranya Heri Purnomo selaku Kasi Kamtib, Brilian Jati sebagai Kasubsi Bimbingan Kerja, Syahroni selaku Kasubag TU, serta KPLP Bagus Dwi Siswandono.Sabtu 23/5/26

Dengan luas area mencapai 30 ribu meter persegi, Lapas Narkotika Gunung Sindur tampil berbeda dibanding banyak lapas lain yang masih dibayangi persoalan overkapasitas dan minimnya pembinaan produktif.

“Lapas narkotika itu memang dikhususkan untuk pembinaan kasus-kasus narkotika. Hampir setiap provinsi punya satu lapas narkotika, dan salah satunya di Gunung Sindur ini,” ujar Bambang saat ditemui di area pembinaan kemandirian warga binaan.

Saat ini, lapas tersebut memiliki kapasitas sekitar 1.300 warga binaan pemasyarakatan (WBP) dengan jumlah penghuni sekitar 1.100 orang. Kondisi itu dinilai jauh lebih ideal dibanding lapas lain yang mengalami overcrowded.

“Semua lapas pasti punya tantangan, tidak ada yang mudah. Tapi karena masih di bawah kapasitas, kondisi di sini lebih tertata. Permasalahan tetap ada, tetapi masih bisa diselesaikan dengan baik,” jelasnya.

Produksi Beras 30 Ton per Bulan

Salah satu program unggulan yang kini menjadi perhatian adalah penggilingan padi milik lapas. Program tersebut bahkan disebut menjadi satu-satunya unit produksi beras di lingkungan pemasyarakatan yang berjalan kontinu sepanjang tahun.

Gabah dipasok dari berbagai daerah, termasuk Indramayu, lalu diproses di dalam lapas oleh warga binaan yang dilibatkan dalam program kerja produktif.

“Produksi kita bisa satu ton per hari atau sekitar 30 ton per bulan,” ungkap Bambang.

Hasil produksi beras dipasarkan tidak hanya untuk kebutuhan internal lapas, tetapi juga menyuplai sejumlah UPT pemasyarakatan lain seperti Lapas Kuningan, Lapas Cikarang, hingga Rutan Tigaraksa. Selain itu, beras juga masuk ke program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni SPPG Telaga Sindur dan SPPG Kemang 04.

“Untuk harga menyesuaikan pasar. Kita punya varian premium dan medium, jadi mengikuti kebutuhan masyarakat,” katanya.

Ayam Petelur, Entok Jumbo hingga Maggot

Tak hanya beras, kawasan pembinaan Lapas Gunung Sindur juga dipenuhi aktivitas peternakan dan pertanian. Sedikitnya terdapat 1.500 ekor ayam petelur yang kini mulai menghasilkan ratusan butir telur setiap hari.

“Sekarang produksinya sudah sekitar 40 persen. Sebagian untuk kebutuhan internal, sebagian lagi dijual keluar,” kata Bambang.

Lapas juga mengembangkan budidaya sayuran seperti kangkung, bayam, cabai, tomat, terong, hingga labu siam. Bahkan dalam waktu dekat, pihaknya akan mencoba menanam anggur varietas GOZV.

Menurut Bambang, pemilihan komoditas dilakukan berdasarkan kemudahan perawatan agar bisa dijalankan warga binaan secara optimal.

“Kalau pertanian yang terlalu rumit, warga binaan akan kesulitan. Jadi kita pilih yang potensinya bagus dan perawatannya lebih mudah,” ujarnya.

Di sektor peternakan, lapas juga mengembangkan budidaya entok jumbo yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi. Berawal dari lima indukan asal Magelang, kini populasinya sudah berkembang menjadi lebih dari 50 ekor.

“Kalau entok jumbo pertumbuhannya lebih cepat. Satu bulan bisa lebih besar dibanding entok biasa,” jelasnya.

Harga jualnya pun menggiurkan, terutama saat momentum Lebaran yang bisa mencapai Rp300 ribu per ekor.

Maggot Jadi Senjata Tekan Biaya Produksi

Program yang paling menarik perhatian adalah budidaya maggot atau larva lalat tentara hitam yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak alternatif.

Menurut Bambang, produksi maggot di Lapas Gunung Sindur termasuk terbesar dibanding UPT lain karena pasokan bahan baku melimpah dari limbah makanan dapur lapas.

“Kalau lapas lain kesulitan cari makan maggot, di sini malah kelebihan,” katanya sambil tersenyum.

Maggot digunakan untuk pakan ayam, entok, hingga nantinya budidaya ikan lele yang akan kembali diaktifkan guna mendukung program MBG.

“Ini konsep hilirisasi ketahanan pangan. Kita tekan biaya produksi karena pakan tidak beli dari luar,” tegas Bambang.

Produksi maggot saat ini mencapai sekitar satu ton per bulan dengan harga jual Rp5 ribu per kilogram. Dari program tersebut, warga binaan juga mendapatkan premi sebagai bentuk penghargaan atas keterlibatan mereka dalam kegiatan kerja produktif.

Dari Penjara Menjadi Tempat Pembinaan Produktif

Transformasi di Lapas Narkotika Gunung Sindur menjadi gambaran bahwa lembaga pemasyarakatan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembinaan dan pemberdayaan.

Di tangan Bambang Wijanarko, lapas yang dahulu identik dengan pengamanan ketat kini mulai bergerak menjadi pusat rehabilitasi produktif yang menyiapkan warga binaan kembali ke masyarakat dengan keterampilan nyata.

Pendekatan itu sekaligus menjadi wajah baru pemasyarakatan modern: lebih manusiawi, produktif, dan berorientasi pada kemandirian ekonomi.