Kemarau Mengancam Ketersediaan Air, 627 UPT Pemasyarakatan Serentak Gelar Salat Istisqa

Suasana salat Istisqa di Salah satu UPT idari 627 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang menggelar Salat Istisqa, Jumat (18/9/2026).Foto:ist/TPK

Jakarta,Topikonline.co.id— Kemarau yang melanda sejumlah wilayah Indonesia mendorong jajaran Pemasyarakatan mengambil langkah serentak. Bukan hanya mengandalkan kesiapan teknis menghadapi kekeringan, petugas dan Warga Binaan di 627 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan menggelar Salat Istisqa, Jumat (18/9/2026).

Salat meminta hujan tersebut dilaksanakan secara serentak mulai dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) hingga berbagai UPT, seperti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), Rumah Tahanan Negara (Rutan), Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), dan Balai Pemasyarakatan.

Langkah ini tidak semata menjadi ritual keagamaan. Di tengah ancaman kemarau dan potensi berkurangnya pasokan air, Salat Istisqa dijadikan momentum muhasabah, memperkuat mental dan spiritual, sekaligus membangun kesadaran bersama agar penggunaan air tidak dilakukan secara berlebihan.

“Hari ini kami mengarahkan seluruh jajaran Pemasyarakatan di Indonesia untuk melaksanakan Salat Istisqa. Tujuannya sebagai momentum muhasabah kepada Allah Swt. sekaligus penguatan mental dan spiritual dalam menghadapi dampak kekeringan yang terjadi belakangan ini,” ujar Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi.

Namun, persoalan kemarau tidak berhenti pada doa. Ketersediaan air menjadi kebutuhan vital bagi operasional UPT Pemasyarakatan, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar Warga Binaan dan keberlangsungan proses pembinaan.

Karena itu, Mashudi meminta petugas dan Warga Binaan menghemat penggunaan air. Imbauan tersebut disampaikan seiring informasi BMKG yang menyebut 81 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau.

“Kami imbau Warga Binaan dan petugas untuk menggunakan air secara bijak agar kebutuhan selama pelaksanaan pembinaan tetap terpenuhi,” kata Mashudi.

Di sisi lain, Ditjenpas memastikan persoalan pasokan air terus dipantau, terutama pada UPT yang berada di wilayah dengan musim kemarau lebih panjang.

Direktur Pembinaan Narapidana dan Anak Binaan, Masjuno, mengatakan pemantauan dilakukan untuk memastikan kebutuhan air tetap tersedia selama kondisi kemarau.

“Kami terus memonitor rekan-rekan di lapangan agar pasokan air tetap terpenuhi selama musim kemarau. Di saat yang sama, kami mendorong jajaran dan Warga Binaan untuk menggunakan air secara bijak,” ujarnya.

Pelaksanaan Salat Istisqa yang melibatkan tokoh agama di masing-masing daerah itu berlangsung dari wilayah Indonesia bagian Barat hingga Timur.

Bagi jajaran Pemasyarakatan, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa menghadapi musim kemarau membutuhkan dua langkah sekaligus: memperkuat spiritualitas dan memperketat kesiapsiagaan di lapangan.

Sebab, ketika air mulai terbatas, persoalannya bukan sekadar soal kekeringan. Di lingkungan Pemasyarakatan, ketersediaan air berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar manusia dan kelancaran pembinaan ribuan Warga Binaan.

Karena itu, seruan untuk menghemat air menjadi bagian penting dari kesiapan menghadapi musim kemarau. Doa dipanjatkan, sementara langkah antisipasi di lapangan tetap harus berjalan.