Di Balik Jeruji Salemba: Layanan Humanis, Pengawasan Ketat, dan Asa Kedua bagi Warga Binaan

Ilustrasi

Jakarta,Topikonline.co.id – Di tengah padatnya denyut ibu kota, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Salemba berdiri kokoh, seolah menjadi kontras di antara gedung perkantoran dan permukiman warga. Dari luar, bangunan ini tampak seperti penjara pada umumnya. Namun di balik tembok tinggi dan kawat berduri, tersimpan wajah lain pemasyarakatan: pelayanan humanis, sistem pengawasan berlapis, serta upaya nyata menumbuhkan harapan kedua bagi warga binaan.

Sejak memasuki area utama, nuansa berbeda langsung terasa. Petugas menyambut pengunjung dengan ramah dan sigap, mengarahkan alur kunjungan secara tertib. Antrean keluarga warga binaan yang mengular menjadi gambaran tingginya kebutuhan layanan kunjungan di lapas ini.

“Layanan kunjungan merupakan salah satu inti pelayanan kami. Ini bagian dari pemenuhan hak warga binaan,” ujar Humas Lapas Salemba, Andhi, Selasa (5/5/2026).

Untuk meningkatkan transparansi sekaligus menekan potensi pungutan liar, pihak lapas menyediakan dua metode pendaftaran kunjungan, yakni secara manual dan daring melalui aplikasi siontel. Sistem digital ini memungkinkan pengunjung mengakses layanan dengan lebih mudah dan terkontrol.

Meski mengedepankan kenyamanan, aspek keamanan tetap menjadi prioritas utama. Setiap pengunjung wajib melalui serangkaian prosedur ketat, mulai dari pengambilan nomor antrean, penitipan barang pribadi di loker, hingga verifikasi identitas yang terintegrasi dengan database pemasyarakatan.

Barang bawaan pun diperiksa secara berlapis, baik manual maupun menggunakan mesin X-ray, guna memastikan tidak ada barang terlarang seperti narkoba, senjata, maupun alat komunikasi yang masuk ke dalam lapas. Selain itu, pengunjung juga harus menitipkan identitas resmi dan menjalani pemeriksaan badan menyeluruh.

“Pengamanan kami berlapis. Tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga pemeriksaan manual,” tegas Andhi.

Setelah seluruh tahapan dilalui, pengunjung dapat bertemu keluarga di ruang kunjungan dengan durasi rata-rata 15 menit. Dalam kondisi tertentu, petugas memberikan toleransi waktu secara humanis. Fasilitas ruang kunjungan yang dilengkapi pendingin udara (AC) turut menambah kenyamanan interaksi.

Salah satu inovasi yang menonjol adalah kehadiran ruang komunikasi terbuka yang mempertemukan petugas, warga binaan, dan keluarga tanpa sekat. Di ruang ini, berbagai informasi terkait hak warga binaan—mulai dari remisi, pembebasan bersyarat (PB), cuti bersyarat (CB), hingga cuti menjelang bebas (CMB)—dapat diakses secara langsung dan transparan.

“Inisiatif ini untuk mencegah disinformasi dan praktik pungli. Semua bisa ditanyakan secara terbuka,” jelas Andhi.

Lapas Salemba juga menyediakan fasilitas pendukung seperti ruang bermain anak serta ruang prioritas bagi lansia, ibu hamil, dan ibu menyusui, sebagai bagian dari pelayanan yang inklusif.

Di balik berbagai inovasi tersebut, tantangan klasik berupa overkapasitas masih membayangi. Dari daya tampung sekitar 572 orang, jumlah penghuni saat ini mencapai lebih dari 1.383 warga binaan. Sekitar 70 persen di antaranya merupakan kasus narkoba.

Kondisi ini menuntut pengelolaan ekstra, baik dalam aspek keamanan maupun pembinaan. Untuk itu, lapas mengembangkan berbagai program pembinaan berbasis produktivitas dan kemandirian.

Sejumlah kegiatan digelar, mulai dari produksi roti (bakery), konveksi pakaian, pembuatan sandal hotel, barbershop, sanggar lukis, hingga pertanian hidroponik dan peternakan ayam. Hasil produksi tidak hanya memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga dipasarkan ke luar melalui kerja sama dengan pelaku usaha dan sektor perhotelan.

Salah satu warga binaan, Ferry, mengaku memperoleh penghasilan dari kegiatan produksi roti.

“Alhamdulillah, setiap 10 hari ada pemasukan. Bisa untuk kebutuhan sendiri, bahkan sedikit dikirim ke keluarga,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Ali, peserta pelatihan menjahit.

“Daripada hanya diam, lebih baik ikut kegiatan. Jadi punya keterampilan dan bisa menghasilkan,” katanya.

Program pembinaan ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong tumbuhnya UMKM di lingkungan pemasyarakatan, sekaligus memberi nilai ekonomi bagi warga binaan.

Berkat berbagai inovasi tersebut, Lapas Salemba kerap menjadi rujukan studi tiru bagi lapas lain di Indonesia, bahkan hingga luar negeri. Sejumlah delegasi dari Kalimantan, Sulawesi, hingga Malaysia tercatat pernah berkunjung untuk mempelajari sistem pelayanan dan pembinaan yang diterapkan.

Di bawah kepemimpinan Kalapas Amico Balalembang, komitmen terhadap pelayanan juga terlihat pada momen hari besar keagamaan. Pada Idul Fitri, Natal, dan perayaan lainnya, lapas membuka layanan kunjungan khusus agar warga binaan tetap dapat bersilaturahmi dengan keluarga.

“Seluruh petugas tetap bertugas, tidak ada cuti, demi memberikan pelayanan terbaik,” tandas Andhi.

Di tengah berbagai keterbatasan, Lapas Salemba terus berupaya menghadirkan wajah pemasyarakatan yang lebih manusiawi—bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi ruang pembinaan yang membuka peluang perubahan.

Di balik jeruji, harapan itu ternyata masih tetap hidup.