Bogor,Topikonline.co.id— Citra lembaga pemasyarakatan yang selama ini identik dengan overkapasitas, kerusuhan, hingga peredaran narkoba tampaknya mulai dipatahkan oleh Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur. Di balik tembok tinggi dan pengamanan ketat lapas yang dikenal sebagai tempat pembinaan napi kategori “Nakal” itu, justru tumbuh kawasan produktif berbasis pertanian, peternakan, hingga UMKM warga binaan.
Saat melakukan peliputan langsung pada Sabtu (23/5/2026), suasana yang terlihat jauh dari kesan penjara kumuh dan penuh tekanan. Hamparan kebun sayur, peternakan ayam petelur, bengkel kerja, hingga aktivitas produksi warga binaan mendominasi area lapas.
Yang paling mencolok, kondisi hunian di lapas tersebut relatif ideal. Dari kapasitas sekitar 1.300 warga binaan pemasyarakatan (WBP), jumlah penghuni saat ini sekitar 1.100 orang. Kondisi itu sangat kontras dibanding mayoritas lapas dan rutan di Indonesia yang masih dibelit persoalan klasik overkapasitas.
Di tengah kesibukannya mengikuti pendidikan kedinasan, Kepala Lapas Gunung Sindur Bambang Wijanarko tetap menerima awak media bersama jajaran pejabat struktural, di antaranya Kasi Kamtib Heri Purnomo, Kasubsi Bimbingan Kerja Brilian Jati, Kasubag TU Syahroni, serta KPLP Bagus Dwi Siswandono.
“Kalau di sini, arahnya bukan sekadar pengamanan. Kita dorong warga binaan produktif dan punya keterampilan,” ujar Bambang.
Dari Penggilingan Padi hingga Durian Montong
Di bawah kepemimpinan Bambang, Lapas Gunung Sindur kini agresif mengembangkan program pembinaan berbasis UMKM dan ketahanan pangan.
Di area luar lapas berdiri penggilingan padi, peternakan ayam petelur, budidaya entok jumbo, hingga maggot. Bahkan, lapas tersebut memiliki pohon durian montong yang tengah berbuah lebat.
“Kalau beli di luar mahal, satu buah bisa lebih dari Rp100 ribu. Di sini pegawai juga bisa menikmati,” katanya sambil tersenyum.
Tak hanya itu, lahan kosong di dalam maupun luar lapas disulap menjadi area pertanian produktif. Terong, jagung, kangkung, cabai, tomat, timun, hingga daun singkong ditanam dengan pola panen bergelombang agar hasilnya terus tersedia.
“Terong kemarin panen sekitar 80 kilo lebih, semuanya kita kirim ke dapur. Jagung dapat sekitar 153 kilo, sebagian masuk dapur, sisanya dijual ke petugas,” jelas Bambang.
Menurut dia, pola tanam berkelanjutan dilakukan untuk menopang kebutuhan bahan makanan (bama) lapas secara mandiri.
“Sesuai arahan Pak Dirjen, minimal lima persen kebutuhan dapur harus dari hasil sendiri. Di Gunung Sindur sudah lebih dari itu,” tegasnya.
Ke depan, pihak lapas juga akan memperluas budidaya cabai lantaran kebutuhan dapur cukup tinggi, termasuk mendukung program MBG yang membutuhkan hampir dua kilogram cabai setiap hari.
Napi “Nakal” Disulap Jadi Produktif
Gunung Sindur selama ini dikenal sebagai lapas bagi warga binaan kategori berat dan berisiko tinggi. Namun justru di tempat inilah pembinaan produktif dijalankan secara masif.
Alih-alih membiarkan warga binaan hanya menjalani rutinitas di kamar hunian, pihak lapas mendorong mereka aktif bekerja sesuai minat dan kemampuan.
Salah satu warga binaan yang dipercaya mengelola sektor pertanian adalah Rian, sosok yang dulu dikenal dengan julukan “Rian Jombang”. Meski menjalani hukuman berat, kini ia menjadi motor penggerak pertanian lapas.
“Hasil pertanian sebagian masuk dapur, sebagian lagi mendukung UMKM. Sekarang kita fokus timun karena kebutuhan dapur tinggi,” ujarnya.
Panen terong keempat yang baru dilakukan bahkan menghasilkan sekitar 83 kilogram. Warga binaan yang terlibat juga mendapatkan premi atau upah kerja.
“Alhamdulillah ada premi buat kebutuhan sehari-hari dan bantu keluarga,” katanya.
Rian mengaku rutin berdiskusi dengan pihak lapas terkait pengembangan tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti selada air dan sawi putih.
“Selada air itu harganya lumayan, bisa Rp36 ribu per kilo. Kita pernah dapat permintaan sampai 30 kilo per minggu,” ungkapnya.
Dari Polybag hingga Hilirisasi UMKM
Keterbatasan lahan di dalam lapas justru melahirkan kreativitas. Sebagian besar tanaman ditanam menggunakan polybag, namun hasilnya tetap produktif.
Melon berbobot hingga empat kilogram pernah dipanen dari area terbatas tersebut. Selain sektor pertanian, warga binaan juga diberdayakan di bidang laundry, barbershop, hingga produksi makanan dan minuman.
Lapas Gunung Sindur bahkan memiliki laboratorium UMKM dengan konsep hilirisasi penuh. Hasil pertanian dan peternakan diolah kembali menjadi produk siap konsumsi di dalam lapas.
“Beras, telur, sayuran semua dari dalam sendiri. Jadi uang enggak keluar. Warga binaan juga punya tempat berkarya,” kata Bambang.
Salah satu produk unggulan yang kini dipasarkan adalah minuman jahe merah bermerek “The Guns”.
Kandang Ayam Produksi Gunung Sindur Diburu Se-Indonesia
Produk paling fenomenal dari lapas ini justru datang dari bengkel kerja warga binaan berupa kandang baterai ayam petelur.
Permintaan kandang produksi Gunung Sindur melonjak setelah mendapat dukungan langsung dari Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi agar digunakan berbagai UPT lapas dan rutan di seluruh Indonesia.
Saat ini tercatat ada 1.593 set kandang untuk kapasitas 12.736 ekor ayam yang dipesan sedikitnya 20 lapas dan rutan dari berbagai daerah seperti Bekasi, Bandung, Depok, Kendal, Jombang, Pamekasan, Bojonegoro hingga Cipinang.
“Alhamdulillah masih bisa kita atur ritmenya karena pengiriman tidak serentak,” ujar Bambang.
Sebanyak 13 warga binaan dilibatkan dalam produksi kandang tersebut. Meski permintaan terus meningkat, pihak lapas memilih mengatur ritme produksi ketimbang menambah jumlah pekerja.
“Daripada Bosan di Kamar”
Rudi, salah satu warga binaan yang terlibat dalam produksi kandang, mengaku program pembinaan membuat hari-harinya lebih berarti.
“Saya baru tujuh bulan di sini, hukuman delapan tahun. Ikut produksi kandang sudah lima bulan. Lumayan buat isi waktu daripada bosan di kamar,” ujarnya.
Selain memperoleh keterampilan kerja, para warga binaan juga mendapat premi yang sebagian digunakan membantu kebutuhan keluarga di rumah.
Transformasi di Lapas Gunung Sindur menunjukkan wajah lain pemasyarakatan: bukan sekadar tempat menghukum, melainkan ruang membangun kembali manusia.
Di balik label lapas “buangan” dan stigma napi “nakal”, para warga binaan di Gunung Sindur justru sedang ditempa menjadi manusia produktif yang siap kembali ke masyarakat.












