Bogor,Topikonline co.id — Di mata publik, Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur identik dengan penjagaan super ketat bagi narapidana risiko tinggi, mulai dari teroris hingga bandar narkoba. Namun di balik tembok tinggi dan lapis pengamanan berteknologi tinggi itu, tumbuh wajah lain pemasyarakatan: pembinaan, kreativitas, hingga kemandirian ekonomi warga binaan.
Rabu (20/5/2026), suasana di dalam lapas justru memperlihatkan aktivitas yang jauh dari kesan mencekam. Di sejumlah sudut, warga binaan terlihat sibuk mengelola UMKM, berkebun, beternak, membuat sambal, memanggang roti, membuka jasa laundry hingga barbershop. Bahkan, tersedia fasilitas fitness, studio musik, hingga coffee corner yang dikelola para narapidana terorisme binaan.
Kalapas Khusus Gunung Sindur, Wahyu Indarto, menegaskan bahwa pembinaan menjadi bagian penting dalam sistem pemasyarakatan modern.
“Walaupun ini lapas khusus dengan tingkat pengamanan tinggi, warga binaan tetap harus memiliki kegiatan positif dan produktif. Itu yang terus kami dorong,” ujar Wahyu didampingi Kasi Binadik Inandar, Kasi Giatja Rizki Kesuma Putra, dan Kasubsi Bimkemaswat Hendro Nugroho.
Dari Band Musik hingga Ngamen di Area Kunjungan
Pemandangan unik tampak di area kunjungan keluarga warga binaan. Seorang narapidana bernama Zillivian atau akrab disapa Zul menghibur para pengunjung dengan bernyanyi layaknya musisi kafe.
Tak sekadar tampil, pengunjung juga diperbolehkan bernyanyi dan berduet bersama Zul. Suasana hangat pun tercipta di tengah area kunjungan yang biasanya identik dengan ketegangan.
“Jadi Zul ini ngamen di sini. Kadang ada pengunjung yang ngasih Indomie, rokok, atau uang. Itu untuk dia dan tim band-nya,” kata Wahyu.
Bagi Zul, fasilitas tersebut menjadi ruang untuk terus berkarya sekaligus membantu kebutuhan keluarganya di luar lapas.
“Yang paling saya senang itu bisa rekaman di dalam lapas. Bahkan lagu-lagu saya sudah dipublikasikan lewat label musik yang bekerja sama dengan Gunung Sindur,” ujar Zul.
Beberapa lagu karya Zul seperti Gunung Sindur Jangan Goyang, Setia Walau Tak di Sampingmu, hingga lagu religi Ramadan di Kampung telah beredar di platform digital dan YouTube dengan jutaan penonton.
“Kalau royalti ada, buat keluarga,” katanya singkat.
Tak hanya itu, Lapas Gunung Sindur juga memiliki studio rekaman hasil CSR yang dapat digunakan seluruh warga binaan untuk berkarya musik.
Coffee Shop Napiter dan Barista Binaan BNPT
Di area kunjungan, terdapat coffee shop bernama “Bercengkrama” yang cukup menarik perhatian. Para barista di tempat tersebut merupakan narapidana terorisme yang telah mendapat pelatihan langsung dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Program ini menjadi bagian dari proses deradikalisasi sekaligus pembekalan keterampilan kerja bagi warga binaan.
“Jadi mereka tidak hanya menjalani hukuman, tapi juga dibekali kemampuan yang nanti bisa dipakai ketika kembali ke masyarakat,” ujar Wahyu.
Sambal “Jangan Goyang”, UMKM dari Dalam Penjara
Salah satu produk unggulan lapas adalah Sambal Lidah Jangan Goyang. Nama unik itu diambil dari lagu ciptaan Zul, Gunung Sindur Jangan Goyang.
Produk sambal tersebut kini telah didaftarkan hak kekayaan intelektualnya dan dipasarkan melalui e-commerce.
“Kita sudah jual online sejak November 2025. Ada di Shopee dan penjualan offline saat jam kunjungan,” kata Rizki Kesuma Putra.
Tiga varian sambal diproduksi warga binaan, yakni sambal terasi, sambal bawang, dan sambal kering. Menariknya, bahan baku cabai berasal dari hasil kebun sendiri di area lapas.
Muhammad Fauzi Yusuf, salah satu warga binaan kasus narkoba yang terlibat dalam produksi sambal, mengaku senang bisa ikut kegiatan produktif selama menjalani masa pidana.
“Dapat premi juga buat makan dan bantu keluarga,” ujarnya.
Selain sambal, lapas juga memproduksi roti, membuka jasa laundry, menjahit, hingga bengkel kerja sederhana untuk warga binaan.
Ketahanan Pangan di Balik Penjara
Di lahan seluas 1000 mtr, Lapas Gunung Sindur membangun konsep ketahanan pangan mandiri. Berbagai tanaman kebutuhan dapur ditanam langsung oleh warga binaan, mulai dari cabai, kangkung, sawi, selada, jagung ungu, daun singkong hingga terong.
Tak hanya perkebunan, lapas juga memiliki peternakan ayam petelur, ayam pedaging, serta budidaya ikan lele dan nila.
“Semua hasil perkebunan kita konversikan ke dapur. Jadi kalau menu hari itu ada daun singkong atau kangkung, kita panen sendiri,” terang Wahyu.
Menurutnya, keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti membangun pembinaan produktif.
“Lahan kosong kita manfaatkan semua untuk kegiatan warga binaan,” katanya.
Pengamanan Super Ketat, Ratusan CCTV dan Sidak Rutin
Meski penuh kegiatan pembinaan, aspek keamanan tetap menjadi prioritas utama. Gunung Sindur dikenal sebagai salah satu lapas dengan sistem pengamanan paling ketat di Indonesia.
Lapas ini memiliki blok khusus napi maksimum security dan risiko tinggi. Narapidana baru bahkan harus menjalani asesmen selama tiga bulan sebelum dipindahkan ke blok dengan tingkat pengamanan lebih rendah.
Untuk mencegah pelanggaran seperti penggunaan telepon genggam ilegal, pihak lapas rutin melakukan inspeksi mendadak dua kali dalam sepekan.
“Kita siapkan wartel khusus pemasyarakatan supaya mereka tidak menyimpan HP di dalam kamar,” ujar Wahyu.
Setiap kamar hunian juga dipantau CCTV. Bahkan ketika satu monitor pengawas diketahui mati, Wahyu langsung memerintahkan petugas memeriksa gangguan tersebut saat itu juga.
Ia menegaskan, pengawasan ketat menjadi langkah penting agar kasus penyalahgunaan fasilitas seperti yang pernah terjadi di sejumlah lapas lain tidak terulang.
“Dampaknya bisa sangat luas kalau ada penyimpangan di dalam lapas,” tegasnya.
Di balik label “lapas khusus” dan pengamanan super maksimum, Gunung Sindur perlahan menunjukkan bahwa pembinaan tetap bisa berjalan berdampingan dengan disiplin keamanan tinggi. Dari musik, kopi, sambal hingga pertanian, harapan ternyata masih tumbuh di balik jeruji besi.












