Berita  

Dua Lapas Terbuka, Satu Misi Besar: Jateng Jadi Episentrum Ketahanan Pangan Pemasyarakatan

Kakanwil Pemasyarakatan Jateng Mardi Santoso beserta staf sedang panen ikan Nila di Lapas Terbuka Kendal foto:Lapas Terbuka

Semarang,Topikonline.co.id– Ada yang berbeda di bawah naungan Kantor Wilayah Pemasyarakatan Jawa Tengah. Jawa Tengah menjadi satu-satunya wilayah pemasyarakatan di Indonesia yang memiliki dua lembaga pemasyarakatan (lapas) terbuka dengan orientasi kuat pada ketahanan pangan.

Di tengah geliat program swasembada nasional yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, pemasyarakatan di provinsi ini menjelma menjadi simpul produktivitas—bukan sekadar tempat menjalani hukuman.

Sorotan utama tertuju pada Pulau Nusakambangan. Di pulau yang selama ini lekat dengan stigma “penjara berisiko tinggi”, transformasi besar tengah berlangsung.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto berkali-kali melakukan kunjungan kerja bersama anggota DPR RI Komisi XIII untuk memastikan program ketahanan pangan berjalan selaras dengan visi pemerintah.Kehadiran para legislator bukan sekadar seremonial.

Pengawasan dan evaluasi dilakukan langsung di lapangan—mulai dari lahan pertanian hingga fasilitas pengolahan sampah terpadu. Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah pengolahan limbah menjadi pupuk organik, yang kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan pertanian di dalam kawasan lapas.

“Nusakambangan bukan lagi sekadar tempat menjalani masa hukuman, tapi juga menjadi pusat produksi pangan yang mandiri dan berwawasan lingkungan,” tegas Menteri Agus di sela peninjauan.

Pilot Project Nasional

Nusakambangan kini resmi menjadi proyek percontohan (pilot project) ketahanan pangan dan UMKM di lingkungan pemasyarakatan.

Program ini berfokus pada pertanian, perkebunan, perikanan, hingga peternakan di lahan produktif.

Beberapa program unggulan yang tengah digenjot antara lain:

Budidaya sidat dengan target 840 kolam.

Peternakan ayam dan bebek petelur.

Pertanian padi skala luas.

Pemanfaatan limbah FABA (Fly Ash Bottom Ash) menjadi material bangunan.

Tak kurang dari 12.146 narapidana dilibatkan dalam program ketahanan pangan secara nasional, dengan Nusakambangan sebagai episentrum pembinaan kemandirian. Hasil produksi tidak hanya menopang kebutuhan internal, tetapi juga memberikan premi bagi warga binaan sebagai tabungan—bekal awal saat kembali ke masyarakat.

Kolaborasi lintas kementerian, BUMN, hingga pemerintah daerah dilakukan untuk mengoptimalkan lahan tidur dan memastikan keberlanjutan program.

Kakanwil “Lebih Sering di Lapangan”

Intensitas kunjungan pejabat pusat ke Nusakambangan berdampak langsung pada ritme kerja pimpinan wilayah. Kepala Kantor Wilayah Pemasyarakatan Jawa Tengah, Mardi Santoso, disebut lebih sering berada di lapangan ketimbang di balik meja kantor. Saat media berkunjung ke kantor wilayah, ia kembali mendampingi rombongan Komisi XIII DPR RI ke Nusakambangan.

Namun kekuatan Jawa Tengah tak hanya bertumpu pada Nusakambangan.

Kendal: Bertaruh pada 100 Hektare Harapan

Di pesisir Kabupaten Kendal, Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal yang dipimpin Roni Darmawan mengelola 100 hektare lahan dengan pendekatan agrikultur terpadu.

Tantangannya tak ringan: hanya 59 petugas dan 37 warga binaan yang menggerakkan roda produksi.

Kondisi geografis pesisir dengan air payau menjadi ujian tersendiri. Namun keterbatasan tak menghentikan inovasi.

Di sektor perikanan, budidaya nila salin menjadi andalan. Produksi sempat menembus 2,6 ton dan digunakan untuk kebutuhan konsumsi internal. Bandeng disiapkan sebagai komoditas berikutnya setelah sejumlah uji coba—termasuk gurame dan udang vaname—terkendala faktor lingkungan.

Pada sektor pertanian, lahan 1.500 meter persegi yang ditanami padi tahan air payau menghasilkan hampir satu ton gabah pada panen perdana. Pengembangan sembilan hektare lahan untuk melon dan jagung tengah dipersiapkan, diperkuat pembangunan 20 unit greenhouse dengan kapasitas 1.000 tanaman melon per unit.

Peternakan pun tak kalah agresif:

1.400 bebek petelur,

109 domba,

tujuh sapi,

serta program persilangan domba Dorper untuk menghasilkan bibit unggul generasi F1.

Model pembinaan di lapas terbuka ini bukan sekadar soal produksi, melainkan perubahan pola pikir. Warga binaan yang telah melalui asesmen ketat dilibatkan langsung dalam aktivitas produktif. Bahkan untuk pelanggaran tertentu dengan hukuman ringan, diterapkan pidana kerja sosial di luar lapas dengan pengawasan.

Mengubah Stigma, Menanam Masa Depan

Transformasi pemasyarakatan di Jawa Tengah menunjukkan pergeseran paradigma: dari sistem penghukuman menuju sistem pemberdayaan. Lahan tidur diubah menjadi lumbung pangan. Limbah diolah menjadi pupuk. Narapidana dilatih menjadi tenaga kerja produktif.

Namun catatan penting tetap ada. Potensi 100 hektare lahan di Kendal, juga kawasan luas di Nusakambangan, tak akan optimal tanpa tambahan SDM dan dukungan sarana.

Di tengah segala keterbatasan, Jawa Tengah memilih bergerak. Dari Nusakambangan hingga Kendal, pemasyarakatan tak lagi sekadar tembok tinggi dan jeruji besi. Ia sedang bertransformasi menjadi ruang produksi, ruang belajar, dan ruang harapan—tempat hukuman dijalani, tetapi masa depan juga ditanam.