Tangerang,Topikonline.co.id– Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Lapas Kelas I Tangerang, sebuah inovasi tak biasa terus tumbuh. Limbah pembakaran batu bara yang selama ini dianggap tak bernilai, disulap menjadi berbagai produk konstruksi bernilai ekonomi tinggi oleh tangan-tangan warga binaan.
Di bawah kepemimpinan Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, program pembinaan kemandirian tidak hanya berorientasi pada pelatihan kerja, tetapi juga menciptakan peluang usaha yang berkelanjutan bagi warga binaan setelah bebas nanti.
Saat menerima kunjungan media didampingi Kabag Tata Usaha Raharjo Sudarmono,dan Aldri Kasi Lohasker (Pengolahan Hasil Kerja) Beni Hidayat yang dikenal memiliki rekam jejak panjang bertugas di berbagai daerah seperti Sumenep, Solo hingga pernah menjabat Kalapas Salemba selama 1,5 tahun, menjelaskan salah satu program unggulan yang kini menjadi kebanggaan Lapas Tangerang.
“Produk unggulan kami adalah pengolahan limbah pembakaran batu bara atau PABA (Fly Ash dan Bottom Ash) menjadi produk-produk konstruksi yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Beni.
Menurutnya, fly ash dimanfaatkan sebagai bahan pengganti sebagian semen, sedangkan bottom ash digunakan sebagai substitusi pasir dalam berbagai produk konstruksi.
Dari bahan baku yang diperoleh dari limbah PLTU tersebut, Lapas Tangerang mampu memproduksi berbagai produk seperti paving block, batako beton, roster, tetrapod pemecah ombak hingga teknologi konstruksi terbaru berupa Risham (Rumah Instan Hemat Aman)
Yang paling menarik, teknologi RISHAM memungkinkan pembangunan rumah tipe 36 dilakukan jauh lebih cepat dibanding metode konvensional.
“Kalau secara konvensional membangun struktur rumah bisa memakan waktu 10 sampai 15 hari, dengan struktur yang kami produksi di sini bisa selesai hanya dalam waktu 8 sampai 15 jam,” kata Beni.
Inovasi tersebut kini tidak berhenti sebagai proyek pembinaan semata. Produk RISHAM hasil karya warga binaan telah masuk dalam program penyediaan rumah bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Beni mengungkapkan, pihaknya saat ini menjalin kerja sama dengan Semen Merah Putih dan mendukung program pembangunan perumahan ASN di wilayah Cikarang Barat dan Cikarang Pusat.
“Ini bagian dari program kementerian. Untuk perumahan ASN di Cikarang, kami menyediakan struktur bangunannya,” jelasnya.
Keunggulan lain program ini terletak pada ketersediaan bahan baku yang melimpah. Limbah batu bara dari PLTU mencapai sekitar 150 ton per hari, sementara kebutuhan produksi Lapas Tangerang saat ini baru sekitar 273 ton per bulan.
Artinya, potensi pengembangan usaha masih sangat besar.
Di area workshop, aktivitas produksi berlangsung nyaris tanpa henti. Tri, salah satu petugas bagian produksi, menjelaskan kapasitas produksi yang mampu dicapai saat ini.
“Satu mesin minimal menghasilkan 100 meter persegi paving block per hari. Biasanya kami mengoperasikan tiga mesin sehingga bisa mencapai lebih dari 300 meter persegi per hari,” ujarnya.
Untuk batako beton, kapasitas produksi mencapai sedikitnya 3.000 unit per hari.
Persoalan bahan baku pun bukan menjadi kendala. Selain memiliki armada dump truck sendiri untuk mengangkut bottom ash dari PLTU, pasokan semen juga terus mengalir melalui kerja sama dengan pihak industri.
“Kalau bahan baku kami tidak pernah kekurangan. Bahkan sekarang lebih banyak menyimpan stok,” katanya.
Program pembinaan industri ini melibatkan sedikitnya 72 warga binaan, sementara 15 orang lainnya secara khusus menangani pekerjaan struktur RISHAM.
Seluruh warga binaan yang bekerja mendapatkan premi atas hasil kerjanya. Sebanyak 50 persen diterima langsung, sedangkan 50 persen lainnya ditabung melalui rekening Bank BRI sebagai bekal saat bebas nanti.
Tidak hanya itu, seluruh pekerja juga mendapatkan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan.
“Semua warga binaan yang terlibat bekerja dilindungi BPJS Ketenagakerjaan,” tegas Beni.
Menurutnya, apabila pesanan terus meningkat, jumlah warga binaan yang dilibatkan juga akan bertambah.
“Harapan kami tentu semakin banyak warga binaan yang terlibat sehingga semakin banyak yang mendapatkan keterampilan dan penghasilan,” katanya.
Di antara puluhan warga binaan yang bekerja, terdapat satu sosok yang menarik perhatian. Ia adalah Opposi Sochima, warga negara Benin, Afrika, yang sedang menjalani hukuman 14 tahun dalam kasus narkotika dan telah menjalani masa pidana selama tujuh tahun di Lapas Tangerang.
Dengan kemampuan Bahasa Indonesia yang masih terbatas, Opposi mengaku senang bisa ikut bekerja di unit produksi Jawara Beton.
“Di sini bagus, dapat uang buat makanan. Jadi buat nyambung hidup di sini saja,” ujarnya sambil tersenyum.
Lebih dari sekadar mendapatkan penghasilan, Opposi ternyata memiliki mimpi besar setelah bebas nanti.
“Saya pulang, mau buka paving block di sana,” katanya penuh semangat.
Beni menjelaskan, Opposi menjadi satu-satunya warga binaan asing yang dilibatkan karena berhasil lolos asesmen dan menunjukkan etos kerja yang tinggi.
“Semangatnya luar biasa. Tidak semua warga binaan bisa terlibat. Mereka harus melalui asesmen, pelatihan oleh tenaga profesional, kemudian diawasi secara ketat saat bekerja agar sesuai standar,” jelasnya.
Dengan luas area sekitar 5,5 hektare dan dihuni 1.580 warga binaan dari kapasitas 1.440 orang, Lapas Kelas I Tangerang terus berupaya menjadikan pembinaan sebagai instrumen utama pemasyarakatan.
Di tempat ini, limbah batu bara bukan lagi sekadar residu industri. Di tangan warga binaan, limbah itu berubah menjadi paving block, rumah instan, pemecah ombak, hingga harapan baru bagi masa depan mereka.
Program Jawara Beton dan RISHAM menjadi bukti bahwa pemasyarakatan modern tidak hanya berbicara tentang hukuman, tetapi juga tentang kesempatan kedua, keterampilan hidup, dan jalan menuju kemandirian setelah bebas dari balik jeruji.












