Rutan Depok Berbenah: Dari “Karutan Menyapa” hingga Budidaya Maggot, Warga Binaan Dibekali Skill untuk Hidup Baru

Ilustrasi

Depok,Topikonline.co.id – Di tengah persoalan klasik overkapasitas yang menghantui lembaga pemasyarakatan di Indonesia, Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Depok mencoba mengambil jalan berbeda. Bukan hanya fokus pada pengamanan, rutan ini mulai membangun pola pembinaan yang lebih humanis, produktif, dan berorientasi masa depan bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Saat ini, jumlah penghuni Rutan Depok tercatat mencapai 1.206 orang, terdiri dari 736 narapidana dan 470 tahanan. Dari jumlah tersebut, 33 orang merupakan warga binaan perempuan. Kepadatan hunian menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi setiap hari.

Namun di balik tembok tinggi dan padatnya kapasitas, Rutan Depok justru berupaya membangun ruang komunikasi yang lebih terbuka melalui program bertajuk “Karutan Menyapa”.

Dalam program tersebut, seluruh warga binaan dikumpulkan di lapangan untuk berdialog langsung dengan Kepala Rutan. Forum itu menjadi ruang penyampaian aspirasi, keluhan, hingga persoalan yang dihadapi para penghuni rutan.

“Di situ kita buka sesi tanya jawab. Keluhan-keluhan kita tampung, dan yang bisa langsung dijawab biasanya langsung dijawab Karutan,” ujar Kepala Subseksi Administrasi dan Perawatan, Robby Robbany, Rabu (6/5/2026).

Program yang awalnya digelar rutin dua minggu sekali itu kini disesuaikan dengan dinamika kegiatan rutan. Meski frekuensinya berubah, esensi program tetap dipertahankan: membangun komunikasi dua arah tanpa sekat.

Menurut Robby, program tersebut lahir dari semangat transparansi yang didorong pimpinan di tingkat kementerian, sekaligus menjadi langkah preventif untuk meredam potensi konflik internal.

Tak hanya membangun komunikasi, Rutan Depok juga menerapkan strategi “jemput bola” untuk mengurangi overstay dan overcrowding. Petugas aktif mendata warga binaan yang telah memenuhi syarat integrasi seperti Pembebasan Bersyarat (PB) dan Cuti Bersyarat (CB).

“Kita kumpulkan yang sudah mendekati dua pertiga masa hukuman. Kita tanya kenapa belum urus PB atau CB. Kita bantu proses sampai ke Bapas,” jelasnya.

Meski demikian, proses integrasi tidak selalu berjalan mulus. Salah satu hambatan terbesar adalah tidak adanya pihak keluarga yang bersedia menjadi penjamin.

“Kalau tidak ada penjamin, kita tidak bisa paksakan. Ada juga keluarga yang sudah tidak mau menerima,” ungkap Robby.

Padahal, keberadaan penjamin menjadi syarat penting untuk memastikan pengawasan saat warga binaan kembali ke masyarakat, termasuk kewajiban melapor ke Balai Pemasyarakatan (Bapas).

Di sektor pembinaan kemandirian, Rutan Depok menghadirkan program yang cukup unik: budidaya maggot. Program ini dimanfaatkan sebagai solusi pengolahan sampah organik sekaligus sarana pembelajaran keterampilan bagi warga binaan.

Setiap hari, sekitar 10 hingga 20 kilogram sampah organik diolah menggunakan maggot. Larva hasil budidaya kemudian dijual ke penampung di wilayah Cimanggis dengan harga sekitar Rp5 ribu per kilogram.

“Sekali jual bisa sampai 100 kilogram, biasanya seminggu sekali. Tapi tujuan utama kita bukan profit, melainkan pengolahan sampah,” kata Robby.

Hasil penjualan digunakan untuk perawatan fasilitas program dan sebagian diberikan sebagai premi kepada warga binaan yang terlibat aktif.

Selain itu, Rutan Depok juga serius membekali warga binaan dengan keterampilan kerja yang dapat digunakan setelah bebas nanti. Salah satu program unggulannya adalah unit laundry yang telah berjalan sekitar tujuh bulan dan kini tengah diarahkan menuju skala industri.

“Harapannya, teman-teman keluar punya skill, tidak bingung cari kerja,” ujarnya.

Seorang warga binaan bernama Ebi mengaku merasakan manfaat langsung dari program tersebut.

“Alhamdulillah, dari premi bisa buat makan dan disisihkan untuk keluarga saat kunjungan,” katanya.

Tak berhenti di sana, berbagai kegiatan produktif lain juga terus dikembangkan, mulai dari ternak ayam, budidaya ikan nila, hingga pengolahan kopi dengan merek internal “Krabu Coffee Indonesia”. Proses pengolahan kopi dilakukan langsung oleh warga binaan, mulai dari roasting hingga pengemasan, dengan bahan baku biji kopi yang didatangkan dari kawasan Puncak.

Kreativitas warga binaan juga tersalurkan melalui kerajinan ukiran kayu dan desain interior. Bahkan, sejumlah hasil karya telah menerima pesanan dari pihak luar dengan nilai mencapai ratusan ribu rupiah per unit.

Di bawah kepemimpinan Karutan Agung Nurbani, Rutan Depok perlahan mencoba menggeser paradigma pembinaan pemasyarakatan. Fokusnya bukan sekadar menjalani hukuman, tetapi memastikan warga binaan memiliki bekal keterampilan dan kesiapan mental saat kembali ke tengah masyarakat.

Kepala Subseksi Bantuan Hukum dan Penyuluhan, Michael Millendiannuary R, yang turut mendampingi kegiatan tersebut mengatakan pengembangan program pembinaan akan terus dilakukan, termasuk rencana pemanfaatan lahan rawa milik pemerintah di sekitar rutan untuk mendukung program ketahanan pangan.

“Kita ingin program ini berkembang. Bukan hanya untuk rutan, tapi juga memberi dampak saat mereka bebas nanti,” ujarnya.

Dengan pendekatan humanis, komunikasi terbuka, serta pembinaan berbasis keterampilan, Rutan Depok mencoba membuktikan bahwa di balik jeruji besi, harapan untuk berubah dan memulai hidup baru tetap bisa tumbuh.