Ekbis  

Kemendag Dorong Produk F&B Indonesia Tembus Pasar Internasional

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri dalam acara "Indonesia F&B Trade Promotion Forum" di Auditorium Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026). Foto: Noval Nurhadi/TOPIKONLINE.CO.ID
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri dalam acara "Indonesia F&B Trade Promotion Forum" di Auditorium Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026). Foto: Noval Nurhadi/TOPIKONLINE.CO.ID

TOPIKONLINE.CO.ID – Jakarta: Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong pelaku usaha makanan dan minuman (F&B) Indonesia untuk terus memperluas pasar ke tingkat internasional. Langkah tersebut dinilai penting mengingat potensi pasar global untuk produk F&B Indonesia masih sangat besar.

Roro mengatakan, saat ini nilai ekspor produk F&B Indonesia mencapai sekitar 6,25 miliar dolar AS. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi keempat di antara negara-negara ASEAN.

“Kalau negara Indonesia saat ini, ekspornya khusus untuk F&B berada di angka 6,25 miliar USD. Dan kalau kita compare dengan negara-negara lainnya, kebetulan kita peringkat keempat di antara negara-negara ASEAN,” ujar Roro di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026).

Menurut Roro, nilai ekspor F&B Indonesia masih berada di bawah Thailand yang mencapai sekitar 17 miliar dolar AS, Vietnam sebesar 8,8 miliar dolar AS, dan Singapura sekitar 6,5 miliar dolar AS.

Ia menilai posisi tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk F&B. Terlebih, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dengan jumlah penduduk sekitar 290 juta jiwa.

“Pasar dalam negeri ini merupakan pasar yang sangat penting, harus kita optimalkan juga. Tapi di sisi lain, pasar internasional ini juga mempunyai potensi yang sangat besar,” jelasnya.

Untuk mendorong penetrasi produk Indonesia ke pasar global, Kementerian Perdagangan akan memanfaatkan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara. Saat ini, Kemendag memiliki perwakilan di 33 negara yang terdiri atas Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC).

Menurutnya, pemerintah berperan sebagai jembatan antara pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli dari luar negeri.

“Kita bisa memfasilitasi seluruh pelaku usaha khususnya di sektor F&B ini untuk bisa penetrasi ke market internasional dengan jaringan yang kita miliki,” kata dia.

Selain itu, pelaku usaha didorong memanfaatkan momentum Trade Expo Indonesia (TEI) yang akan kembali digelar. Roro berharap ajang tersebut dapat mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan buyer dari berbagai negara.

Roro mengatakan, pada penyelenggaraan TEI tahun sebelumnya terdapat lebih dari 8.000 buyer. Sementara untuk penyelenggaraan mendatang, partisipasi diharapkan berasal dari lebih dari 100 negara.

“Trade Expo Indonesia ini menjadi ajang yang sangat penting untuk dimaksimalkan oleh pelaku usaha. Sehingga produk-produknya bukan hanya bisa diminati oleh pasar internasional. Tapi kita juga bisa membantu fasilitasi agar ada sebuah agreement dan commitment untuk mengekspor produk-produknya,” ungkapnya.

Roro juga menekankan pentingnya penguatan pasar domestik bagi pelaku usaha F&B, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut dia, skala UMKM sangat beragam, mulai dari usaha mikro hingga pelaku usaha yang sudah memiliki kesiapan untuk melakukan ekspor. Karena itu, pemerintah memberikan fasilitasi sesuai dengan tingkat kesiapan masing-masing pelaku usaha.

“Size UMKM kan beda-beda. Ada yang micro, ada yang mid, lalu kemudian ada yang siap ekspor,” tambah Wamendag.

Bagi UMKM yang belum siap melakukan ekspor, Kemendag juga membantu membuka akses ke pasar ritel modern. Roro mengatakan sejumlah jaringan ritel modern telah menyediakan bagian khusus untuk menampung produk UMKM, termasuk produk dari daerah sekitar gerai.

“Retail modern itu dia punya section khusus untuk UMKM. Kemarin kita pastikan, saya langsung turun kita melihat contoh saja yang ada di Alfamart atau Indomaret. Mereka punya section khusus semuanya produk-produk UMKM,” ucap Roro.

Ia menyebut, langkah tersebut penting untuk memberikan ruang bagi produk dalam negeri sekaligus memberikan pilihan kepada masyarakat.

Perihal negara tujuan ekspansi produk F&B Indonesia, Roro mengatakan pemerintah tidak menetapkan satu negara secara khusus. Menurutnya, peluang pasar dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan produk.

Untuk produk F&B halal, misalnya, kawasan Timur Tengah dinilai memiliki potensi pasar yang besar. Selain produk makanan, Roro menyebut sejumlah restoran Indonesia juga telah melakukan ekspansi ke luar negeri, termasuk ke kawasan Eropa.

Ia menambahkan, diaspora Indonesia di berbagai negara juga dapat menjadi salah satu pasar potensial bagi produk F&B Indonesia. “Walaupun tinggal di luar negeri pasti lidahnya masih Indonesia. Jadi dia butuh sourcing produk dari Indonesia,” pungkasnya.