TOPIKONLINE.CO.ID — Tangerang: Merek lokal kini mulai mendominasi bisnis waralaba di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), jumlah Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) yang terdaftar untuk merek lokal mencapai 169, lebih tinggi dibandingkan merek asing yang tercatat sebanyak 163.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan, mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan semakin besarnya potensi merek dalam negeri untuk berkembang melalui skema waralaba.
“Yang menggembirakan, jika sepuluh tahun lalu 70 persen Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) didominasi merek asing, kini merek lokal sudah unggul dengan 169 pendaftaran dibanding jumlah 163 dari luar negeri,” tutur Iqbal saat membuka The 25th International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference (IFRA) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Jumat (28/8/2026).
Menurut Iqbal, waralaba merupakan salah satu instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan kewirausahaan nasional sekaligus memperkuat posisi merek lokal di tengah persaingan dengan merek asing.
Ia menyebut rasio kewirausahaan Indonesia saat ini baru mencapai 3,29 persen dan masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga. Karena itu, pengembangan ekosistem waralaba dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas kesempatan masyarakat memasuki dunia usaha.
“Waralaba adalah salah satu skema distribusi dalam Undang-Undang Perdagangan untuk mendorong kewirausahaan, yang rasionya di Indonesia baru 3,29 persen, masih tertinggal dari negara tetangga,” jelasnya
Iqbal mengatakan keunggulan skema waralaba adalah memberikan kesempatan kepada calon pelaku usaha untuk menjalankan bisnis dengan sistem yang telah dikembangkan oleh pemilik merek. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa waralaba tetap memiliki risiko sebagaimana bentuk usaha lainnya.
Pemerintah, lanjut dia, akan berperan sebagai fasilitator dalam membangun ekosistem waralaba dan tidak mendikte perkembangan industri tersebut.
“Pemerintah akan terus hadir sebagai fasilitator, bukan untuk mendikte ekosistem ini. Untuk itu, tiap tahunnya kami bekerja sama dengan AFI mengadakan pameran waralaba ini untuk mendorong wirausaha,” ujar Iqbal.
Waralaba dan Kemitraan Dua Konsep Berbeda
Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar mengatakan, pertumbuhan industri waralaba juga perlu diikuti pemahaman yang tepat mengenai konsep waralaba dan kemitraan.
Menurutnya, kedua konsep tersebut memiliki perbedaan meskipun sama-sama berkaitan dengan kerja sama usaha.
“Waralaba dan kemitraan bukan sekadar transaksi untuk membeli peluang usaha, melainkan sebuah sistem bisnis yang membutuhkan proses, standar, serta komitmen dari seluruh pihak yang terlibat,” ucap Anang.
Ia juga menjelaskan, kemitraan dapat berbentuk Kerja Sama Operasi (KSO), Perusahaan Inti Rakyat (PIR), maupun subkontrak. Sementara franchise merupakan konsep pemasaran sekaligus strategi perusahaan.
“Banyak pengusaha menganggap waralaba itu kemitraan. Secara tata bahasa memang ada benarnya, sama-sama soal kerja sama, tapi konsepnya beda,” ungkapnya.
Anang menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan bisnis waralaba, salah satunya karena kekayaan produk dan kuliner lokal yang dapat dikembangkan menjadi merek dengan sistem bisnis yang lebih kuat.
IFRA 2026 Berlangsung 3 Hari
Potensi pertumbuhan tersebut turut menjadi latar belakang penyelenggaraan IFRA 2026 yang mengusung tema “Empowering the Growth of Ethical Franchising”.
Pameran yang diselenggarakan AFI bersama Dyandra Promosindo tersebut resmi dibuka pada Jumat (28/8/2026) dan berlangsung hingga 30 Agustus 2026 di Hall 7 ICE BSD City.
IFRA 2026 menghadirkan 250 merek dari 175 perusahaan dan menjadi ruang pertemuan antara pemilik merek, pelaku usaha, calon mitra, investor, serta masyarakat yang mencari peluang untuk memulai maupun mengembangkan bisnis. Berbagai sektor turut ditampilkan, mulai dari makanan dan minuman, pendidikan, kesehatan, ritel, hingga beragam konsep usaha dan layanan lainnya.
Presiden Direktur Dyandra Promosindo, Daswar Marpaung, mengatakan IFRA 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang transaksi, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dan kemitraan jangka panjang.
“IFRA 2026 kami hadirkan sebagai business meeting point yang mempertemukan pemilik merek dengan calon mitra dan pelaku usaha. Kami berharap pertemuan yang terjadi selama tiga hari penyelenggaraan tidak hanya menghasilkan transaksi, tetapi juga membuka kolaborasi dan kemitraan yang memiliki fondasi bisnis yang sehat dan transparan serta memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh pihak,” papar Daswar.
Selain pameran, IFRA 2026 menghadirkan sejumlah program edukasi dan inspirasi bagi pelaku usaha, antara lain Business Talkshow, IFRA Women’s Talk, Celebpreneur Talkshow, Retirees Seminar, serta The 10th IFBCC (IFRApreneur Business Concept Competition).
Pengunjung juga dapat mengikuti berbagai kegiatan interaktif seperti IFRA Content Clash, Interactive Quiz & Lucky Draw, dan Business Mascot Competition. IFRA 2026 dibuka setiap hari pukul 10.00–20.00 WIB. Tiket masuk dibanderol Rp60.000 per orang dan dapat dibeli melalui situs resmi IFRA maupun langsung di lokasi acara.












