Tangerang,Topikonline.co.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang membuktikan bahwa pembinaan warga binaan tidak sekadar slogan. Dari balik tembok penjara, lahir produk konstruksi berkualitas yang kini menembus pasar nasional dan menjadi kebanggaan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (IMIPAS).
Berawal dari inisiasi strategis Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, bersama Direksi PT PLN (Persero), Lapas Kelas I Tangerang berhasil mengembangkan program hilirisasi industri berbasis pemanfaatan limbah sisa pembakaran batu bara atau Fly Ash and Bottom Ash (FABA).

Di tangan warga binaan, limbah yang selama ini dianggap tak bernilai disulap menjadi berbagai produk konstruksi bermutu tinggi dengan merek dagang Jawara Beton.
Fly ash dimanfaatkan sebagai substitusi semen, sementara bottom ash digunakan sebagai pengganti pasir. Dari proses tersebut lahir beragam produk, mulai dari paving block, batako beton, roster, hingga tetrapod atau pemecah ombak.
Di bawah kepemimpinan Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, Jawara Beton berkembang pesat. Saat ini, Lapas Tangerang memiliki delapan unit mesin produksi.

“Untuk saat ini yang beroperasi baru tiga mesin. Satu mesin minimal bisa memproduksi 100 meter persegi paving block per hari. Kalau tiga mesin bisa lebih dari 300 meter persegi. Sedangkan untuk batako beton, minimal 3.000 buah per hari,” ujar Beni.

Keberhasilan tersebut tidak hanya diukur dari kuantitas produksi, tetapi juga kualitas produk yang dihasilkan. Demi menjaga daya saing di pasar, Lapas Tangerang secara berkala melakukan uji mutu setiap bulan di Laboratorium PT Wijaya Karya (WIKA).
Hasilnya, produk Jawara Beton berhasil mengantongi standar mutu beton K-300, sebuah spesifikasi yang umum digunakan dalam proyek konstruksi.

Kualitas tersebut membuat produk Jawara Beton dipercaya oleh pasar properti nasional. Produk hasil karya warga binaan itu telah diserap oleh pengembang besar PT Summarecon Agung Tbk dan digunakan dalam pembangunan perumahan Aparatur Sipil Negara (ASN) di kawasan Cikarang Barat dan Cikarang Pusat.
Program pembinaan industri ini melibatkan sedikitnya 72 warga binaan, sementara 15 warga binaan lainnya secara khusus menangani produksi struktur Rumah Instan Hemat dan Aman (RISHAM).
Tak hanya memperoleh keterampilan kerja, seluruh warga binaan yang terlibat juga mendapatkan hak ekonomi atas hasil produksinya.
Sebanyak 50 persen premi kerja diberikan secara langsung kepada warga binaan, sedangkan 50 persen lainnya ditabung melalui rekening Bank BRI sebagai bekal saat mereka kembali ke masyarakat.
“Semua warga binaan yang terlibat bekerja dilindungi BPJS Ketenagakerjaan,” tegas Beni.
Selain Jawara Beton, Lapas Tangerang kini juga mengembangkan produksi RISHAM, sebuah inovasi rumah instan yang menawarkan efisiensi waktu pembangunan secara signifikan.
“Kalau secara konvensional membangun struktur rumah bisa memakan waktu 10 sampai 15 hari. Dengan struktur yang kami produksi di sini bisa selesai hanya dalam waktu 8 sampai 15 jam,” kata Beni.

Menurutnya, seluruh komponen RISHAM diproduksi di dalam Lapas, mulai dari kaki-kaki struktur, tiang, panel dinding, hingga proses pengecoran.
“Semua dibuat di sini. Ada tiang, panel atau daun dinding, sampai proses pengecorannya. Selain RISHAM, kami juga memproduksi roster, pemecah ombak, dan berbagai produk lainnya,” jelasnya.
Persoalan bahan baku pun bukan menjadi hambatan. Lapas Tangerang memiliki empat armada dump truck untuk mengangkut bottom ash dari PLTU. Sementara pasokan semen terus terjaga melalui kerja sama dengan sejumlah pihak industri.
“Kalau bahan baku kami tidak pernah kekurangan. Bahkan sekarang lebih banyak menyimpan stok,” ungkap Beni.
Keberhasilan Jawara Beton dan RISHAM menjadi bukti bahwa lembaga pemasyarakatan dapat bertransformasi menjadi pusat pembinaan yang produktif dan berdampak nyata. Di balik jeruji, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga ditempa menjadi sumber daya manusia terampil, produktif, dan siap kembali ke tengah masyarakat dengan bekal keahlian.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pemasyarakatan modern bukan semata-mata tentang penghukuman, melainkan membangun harapan melalui karya. Dari limbah batu bara yang semula tak bernilai, Lapas Tangerang menghadirkan produk berkualitas nasional sekaligus membuka jalan baru bagi warga binaan untuk menata masa depan yang lebih bermartabat.












