Sukabumi,Topikonline.co.id— Keterbatasan lahan dan kondisi over kapasitas tidak membuat Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sukabumi berhenti berinovasi. Di bawah kepemimpinan Kalapas Budi Hardiono, lapas dengan luas hanya 2.410 meter persegi itu justru berhasil mengembangkan program ketahanan pangan, UMKM warga binaan, hingga layanan publik berbasis inovasi.
“Dengan luas total lapas 2.410 meter persegi, daya tampung hanya 200 orang. Sekarang jumlah warga binaan mencapai 530 orang. Artinya kami over capacity sampai 225 persen,” ujar Budi Hardiono.
Ia menggambarkan kondisi lapas yang sangat padat hingga jarak antara blok hunian dan kantor nyaris tanpa sekat. “Saking kecilnya lapas kami, antara blok dengan kantor itu sudah saling tatapan,” katanya sambil tersenyum.
Meski demikian, aktivitas pembinaan tetap berjalan. Bahkan area sempit di sekitar lapas yang biasa disebut “brandgang” disulap menjadi pusat ketahanan pangan.
Di lahan terbatas itu, Lapas Sukabumi mengembangkan peternakan ayam petelur, hidroponik pakcoy, hingga kolam lele memanjang yang hasilnya dimanfaatkan untuk kebutuhan warga binaan melalui program bahan makanan (bama).
“Kami punya ayam petelur, hidroponik, pakcoy, dan kolam lele. Untuk lele diarahkan menjadi konsumsi warga binaan,” jelas Budi.
Saat ini, lapas memiliki 108 ekor ayam petelur yang dikelola langsung oleh warga binaan. Dari jumlah tersebut, produksi telur mencapai 92 hingga 95 butir per hari atau sekitar 95 persen tingkat produktivitas.
“Telurnya kami jual ke pegawai, keluarga warga binaan, juga tamu yang datang. Harga kami tetap Rp25 ribu per kilogram, saat harga di luar sudah naik sampai Rp30 ribu,” ungkapnya.
Menariknya, penjualan telur dilakukan dengan sistem inden karena produksi terbatas dan permintaan cukup tinggi. Hasil penjualan digunakan untuk membeli pakan ayam sekaligus memberikan premi atau uang lelah bagi warga binaan yang mengelola peternakan.
“Yang kerja mereka, warga binaan semua. Kami hanya mengawasi,” tegas Budi.
Tak hanya ketahanan pangan, Lapas Sukabumi juga mengembangkan berbagai unit UMKM seperti sablon, pembuatan keset, bakso, ketoprak, hingga laundry. Seluruh kegiatan itu melibatkan warga binaan sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian.
“Kami ingin mereka punya bekal saat keluar nanti. Ada ilmu, ada keterampilan, sehingga bisa mencari uang dengan halal dan tidak mengulangi perbuatan melanggar hukum,” katanya.
Menurut Budi, warga binaan yang terlibat dalam UMKM mendapatkan premi sesuai hasil usaha yang diperoleh. Meski nominalnya tidak besar karena keterbatasan lahan dan produksi, program tersebut dinilai mampu meningkatkan semangat serta rasa produktif warga binaan.
“Sekurang-kurangnya mereka bisa lepas dari rasa lelah dan merasa tetap berkarya,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan over kapasitas, pihak lapas memperkuat program integrasi narapidana, termasuk pengurusan hak asimilasi dan pemindahan warga binaan ke lapas lain yang masih memiliki kapasitas tersedia.
“Program integrasi harus diperkuat. Kalau memang sudah terlalu padat, kami juga siapkan pemindahan ke lapas lain yang belum over capacity,” jelasnya.
Di sisi pelayanan publik, Lapas Sukabumi juga terus berbenah. Lapas yang telah meraih predikat WBK (Wilayah Bebas dari Korupsi) itu menghadirkan sejumlah inovasi pelayanan berbasis kebutuhan masyarakat.
Salah satu inovasi unggulan adalah program “Sehatilah Bumi” atau Sehat Tanpa Biaya Lapas Sukabumi. Melalui program tersebut, setiap tamu yang datang ke lapas dapat memeriksakan kesehatan secara gratis.
“Tamu saja bisa mendapat pemeriksaan kesehatan gratis, apalagi warga binaan,” kata Budi.
Ia menegaskan, seluruh inovasi yang dilakukan merupakan bentuk pelaksanaan arahan pimpinan sekaligus implementasi pelayanan publik yang humanis dan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Jangan sampai kami berseberangan dengan perintah pimpinan. Semua aturan itu dibuat untuk pelayanan masyarakat. Maka tugas kami adalah menghadirkan inovasi sesuai kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.












