Lapas Bekasi Sulap Lahan Tidur Jadi Produktif, Dari Ayam Petelur hingga Nugget Tempe Karya Warga Binaan

Foto: ilustrasi

Bekasi,Topikonline.co.id– Di tengah berbagai keterbatasan lahan dan tantangan pengelolaan lembaga pemasyarakatan, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bekasi terus berupaya membuktikan bahwa pembinaan warga binaan tidak hanya berlangsung di balik jeruji, tetapi juga melalui program produktif yang menghasilkan nilai ekonomi dan mendukung ketahanan pangan.

Di bawah kepemimpinan Kepala Lapas Kelas IIA Bekasi, Dedy Cahyadi, berbagai program pembinaan kemandirian terus dikembangkan. Mulai dari peternakan ayam petelur, pertanian, hidroponik, produksi makanan olahan hingga layanan publik berbasis digital.

Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Giatja) Lapas Bekasi, Robiyantoro, mengatakan pihaknya tengah memaksimalkan lahan yang tersedia untuk mendukung program ketahanan pangan yang menjadi perhatian Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

“Lahan yang ada kita manfaatkan. Ada ayam petelur, pertanian kecil-kecilan, dan hidroponik yang saat ini sedang kita bangun kembali rangkanya karena dipindahkan. Di dalam lapas juga ada ruang kosong yang kita jadikan bengkel kerja untuk produksi kayu pangkas dan aneka makanan ringan,” ujar Robi.

Ketahanan Pangan Jadi Prioritas

Salah satu program unggulan yang sedang dikembangkan adalah peternakan ayam petelur dengan populasi sekitar 1.000 ekor. Meski belum seluruhnya produktif, hasilnya sudah mulai dirasakan.

“Alhamdulillah, dari 1.000 ekor ayam, sekitar 200 ekor sudah mulai bertelur. Telur yang dihasilkan belum dijual, seluruhnya masih digunakan untuk kebutuhan dapur dan bahan makanan warga binaan,” kata Robi.

Ia mengakui biaya pakan masih menjadi tantangan besar. Dalam 10 hari, kebutuhan pakan mencapai sekitar satu ton. Namun pihaknya optimistis dalam dua bulan ke depan produksi telur dapat meningkat hingga 700-800 butir per hari.

“Kalau sudah optimal, hasilnya akan sangat membantu kebutuhan bahan makanan di dalam lapas,” tambahnya.

Selain ayam petelur, Lapas Bekasi juga mengembangkan berbagai tanaman produktif seperti cabai, sawi, kangkung, bawang daun, terong hingga jahe merah. Ke depan, jahe merah tersebut akan diolah menjadi minuman serbuk instan seperti yang telah dikembangkan di Lapas Narkotika Gunung Sindur.

Tak hanya itu, limbah peternakan ayam juga direncanakan diolah menjadi pupuk organik dan dikombinasikan dengan budidaya maggot untuk mendukung sistem pertanian terpadu.

UMKM Warga Binaan Tembus Produk Frozen

Program pembinaan kemandirian di Lapas Bekasi juga melahirkan sejumlah produk UMKM hasil karya warga binaan.

Produk unggulan tersebut antara lain Tempe Elbeka, Nugget Tempe Elbeka, Risol Mayo Elbeka, hingga Mie Ayam Insani dalam bentuk frozen food.

Untuk saat ini pemasaran dilakukan dengan menempatkan produk di eLBeka Social Space, yaitu tempat ruang tunggu bagi pengunjung untuk bisa jajan makanan dan minuman d Lapas Kelas IIA Bekasi. Dengan tujuan, agar warga sekitar terutama pengunjung dapat mengetahui dan membeli produk UMKM hasil pembinaan WBP. Selain secara internal, pemasaran produk UMKM Lapas Kelas IIA Bekasi juga dari kegiatan beberapa pameran yang diikuti lapas.

“Kita masih mengembangkan variasi produknya dulu. Kalau ada pameran atau kegiatan, produk-produk ini selalu kita ikutsertakan,” jelas Robi.

Bahkan produksi tempe hasil warga binaan telah mulai menyuplai kebutuhan bahan makanan (Bama) di lingkungan lapas.

Gandeng Universitas Al-Azhar Kembangkan Lahan Tidur

Dalam upaya memperluas program pembinaan, Lapas Bekasi juga menjalin kerja sama dengan Universitas Al-Azhar.

Salah satu program yang akan segera dijalankan adalah pemanfaatan lahan tidur untuk budidaya tanaman koro sebagai bahan baku alternatif pembuatan tempe.

Universitas Al-Azhar akan menyediakan bibit, pelatihan, penyuluhan hingga pendampingan pengelolaan pupuk, sementara lapas menyiapkan lahan dan tenaga kerja yang melibatkan warga binaan.

“Yang penting ada kegiatan positif untuk warga binaan. Kita ingin lahan tidur menjadi lahan produktif sesuai arahan Menteri dan Dirjen Pemasyarakatan,” tegas Robi.

Hunian Masih Terkendali

Berbeda dengan sejumlah lapas lain yang mengalami overkapasitas, kondisi hunian di Lapas Bekasi masih relatif terkendali.

Saat ini jumlah penghuni tercatat sebanyak 1.436 orang dengan kapasitas yang mendekati Lapas Narkotika Gunung Sindur.

Menurut Robi, masih terdapat satu blok hunian yang belum dimanfaatkan secara maksimal sehingga kondisi lapas belum masuk kategori overkapasitas.

Layanan Besuk Berbasis Digital dan Ramah HAM

Di sektor pelayanan publik, Lapas Bekasi mulai menerapkan sistem pendaftaran kunjungan berbasis website melalui portal elbeka.imipas.top.

Kasubsi Registrasi, Faldi Biaggy, menjelaskan pengunjung diwajibkan membuat akun terlebih dahulu sebelum melakukan kunjungan.

“Kalau ada pengunjung yang belum paham sistem online, petugas siap membantu sampai bisa menggunakan website tersebut,” ujarnya.

Layanan tatap muka berlangsung Senin hingga Kamis, sementara Jumat dan Sabtu diperuntukkan bagi penitipan barang.

Faldi menegaskan seluruh pelayanan diberikan tanpa pungutan liar.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Gofur, salah seorang pengunjung yang rutin membesuk anaknya yang tersangkut kasus narkoba.

“Dilayani dengan baik, tidak ada permintaan uang sama sekali,” kata warga Bekasi Utara tersebut.

Sebagai bentuk pelayanan berbasis HAM, Lapas Bekasi juga menyediakan kursi roda, tongkat bantu jalan, ruang bermain anak, hingga layanan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) bekerja sama dengan dua lembaga bantuan hukum.

Ruang Besuk Bernuansa Humanis, Ada Band Penghibur Pengunjung

Hal menarik lainnya terlihat di ruang kunjungan. Berbeda dari gambaran ruang besuk yang kaku dan menegangkan, Lapas Bekasi menghadirkan kelompok musik warga binaan yang tampil secara langsung menghibur pengunjung.

Pengunjung bahkan dapat meminta lagu dan bernyanyi bersama keluarga yang sedang dikunjungi.

“Ini salah satu sarana bagi warga binaan untuk menampilkan kreatifitas dalam segi musik, sekaligus membuat suasana kunjungan lebih nyaman dan tidak membosankan,” ungkap Faldi.

Dapur Sehat “Shakti”, Layani 1.436 Warga Binaan

Di balik operasional lapas, terdapat dapur modern bernama Dapur Sehat Shakti yang merupakan akronim dari Sehat, Halal, Kualitas Teruji dan Insani.

Koordinator Dapur, Ruli, menjelaskan dapur tersebut mulai ditempati pada Maret 2026 dan saat ini sedang dalam proses menuju standar sertifikasi halal.

Setiap hari dapur melayani kebutuhan makan bagi 1.436 warga binaan sebanyak tiga kali sehari dengan sistem siklus menu 10 hari sesuai regulasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Sebanyak 50 warga binaan dilibatkan dalam operasional dapur sebagai koki, penyaji, petugas distribusi hingga petugas kebersihan, seluruhnya bekerja di bawah pengawasan petugas lapas dengan mengedepankan pelayanan makanan yang layak, higienis dan bersih. Mulai dari proses bahan makanan, pengolahan dan penyajian makanan.

“Semua proses dikerjakan warga binaan. Ini menjadi bagian dari pembinaan keterampilan sekaligus persiapan mereka kembali ke masyarakat,” kata Ruli.

Melalui pengembangan ketahanan pangan, pembinaan kemandirian, digitalisasi layanan publik, hingga penguatan pelayanan berbasis HAM, Lapas Kelas IIA Bekasi berupaya menunjukkan wajah baru pemasyarakatan: tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga membangun produktivitas dan harapan bagi warga binaan untuk kembali menjadi bagian yang bermanfaat di tengah masyarakat.