Tangerang,Topikonline.co.id – Tak semua orang yang pernah menjalani hukuman mampu bangkit dan menata kembali hidupnya. Namun, kisah Bakti Kurniawan membuktikan bahwa kesempatan kedua dapat menjadi jalan menuju kesuksesan.
Di bawah pendampingan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Ciangir, Kabupaten Tangerang, pria asal Kampung Katomas, Kecamatan Tigaraksa, itu berhasil mengubah masa lalunya menjadi inspirasi. Saat masih menjalani program Pembebasan Bersyarat hingga 2 Januari 2027, Bakti sukses membangun usaha sepatu kasual dengan merek ARPRIZE yang kini terus berkembang dan telah memiliki sejumlah outlet penjualan.
Kesuksesan tersebut menjadi bukti nyata bahwa pembinaan pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada pengawasan, tetapi juga membekali klien dengan keterampilan, mental, dan kepercayaan diri untuk kembali hidup mandiri.
Di bengkel produksinya, Bakti merancang sendiri setiap tahapan pembuatan sepatu. Mulai dari proses cutting, sewing, assembling, hingga tahap akhir dilakukan dengan penuh ketelitian bersama bantuan orang tuanya.
“Produksi di sini saya kelola sendiri bersama orang tua. Ada proses assembling, sewing, cutting, dan ke depan akan terus kami kembangkan agar kualitas produk semakin baik,” ujar Bakti.
Mengusung desain kasual modern dengan dominasi warna hitam dan putih, ARPRIZE dibuat menggunakan material pilihan, jahitan yang rapi, bantalan yang nyaman, serta sol yang kuat. Kualitas tersebut membuat produknya mampu bersaing di pasar dan mendapat respons positif dari konsumen.
Keberhasilan Bakti merupakan implementasi nyata dari 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto, yang menempatkan pembinaan dan pemberdayaan sebagai roh utama sistem pemasyarakatan.
Melalui Balai Pemasyarakatan, negara tidak hanya mengawasi klien yang menjalani Pembebasan Bersyarat, tetapi juga mendampingi mereka agar memiliki keterampilan, pekerjaan, hingga peluang usaha sehingga mampu kembali menjadi bagian dari masyarakat yang produktif.
Kepala Bapas Kelas II Ciangir, Anjar Seto, menilai keberhasilan Bakti menjadi contoh bahwa proses reintegrasi sosial mampu melahirkan perubahan nyata.
“Saya sangat mengapresiasi Bakti Kurniawan. Usaha sepatu ARPRIZE yang dibangunnya berkembang pesat bahkan telah memiliki beberapa outlet penjualan. Ini menunjukkan pembimbingan yang dilakukan Bapas mampu memberikan dampak positif,” katanya.
Hal senada disampaikan Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Madya Nunik Kurniani yang sejak awal mendampingi Bakti. Menurutnya, perubahan tidak akan terjadi tanpa kemauan kuat dari klien itu sendiri.
“Selama menjalani bimbingan, Bakti selalu kooperatif, disiplin, menaati seluruh peraturan yang berlaku, dan memiliki semangat tinggi untuk memperbaiki kehidupannya,” ungkap Nunik.
Kisah Bakti menjadi pengingat bahwa pemasyarakatan bukan sekadar menjalani hukuman, tetapi proses membangun kembali masa depan. Ketika pembinaan dilakukan secara humanis, profesional, dan berkelanjutan, mantan warga binaan mampu membuktikan bahwa mereka bisa berkarya, mandiri, bahkan membuka peluang ekonomi melalui usaha yang dibangun dengan kerja keras.
ARPRIZE kini bukan sekadar merek sepatu. Di balik setiap pasang sepatu yang diproduksi, tersimpan cerita tentang perjuangan, harapan, dan keberhasilan bangkit dari masa lalu. Sebuah bukti bahwa kesempatan kedua, ketika diiringi pembinaan yang tepat dan tekad yang kuat, mampu melahirkan perubahan nyata bagi individu maupun masyarakat.












