Kupang,Topikonline.co.id — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu langkah cepat jajaran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) untuk memastikan keselamatan warga binaan sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban di sejumlah lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan negara (rutan) di Flores.
Gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 05.58 WITA tersebut berdasarkan pemutakhiran BMKG berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay. Guncangan juga memunculkan potensi tsunami di sejumlah wilayah pesisir Flores.
Situasi tersebut membuat jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) NTT meningkatkan kewaspadaan. Keselamatan warga binaan dan petugas menjadi prioritas, tanpa mengesampingkan pengamanan satuan kerja.
Hasil pemantauan awal menunjukkan seluruh petugas dan warga binaan di Rutan Kelas IIB Ruteng, Rutan Kelas IIB Maumere, Rutan Kelas IIB Bajawa, serta Lapas Kelas IIB Ende dalam kondisi aman.
Sebagai langkah mitigasi menghadapi kemungkinan gempa susulan, warga binaan di satuan kerja terdampak telah diamankan dan diarahkan menuju titik kumpul yang dinilai lebih aman.
Kepala Kanwil Ditjenpas NTT, Decky Nurmansyah, turun langsung mengoordinasikan langkah pengamanan dengan para kepala satuan kerja. Pemeriksaan dilakukan secara berkala terhadap berbagai fasilitas vital, mulai dari struktur bangunan, tembok keliling, atap, sumber air, instalasi kelistrikan, tenaga medis dan ketersediaan obat-obatan, tenda darurat, dapur, pasokan makanan hingga sarana pengamanan.
Langkah tersebut menjadi penting mengingat kerusakan fasilitas pemasyarakatan akibat gempa bukan hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap keselamatan penghuni dan stabilitas keamanan di dalam lapas maupun rutan.
Koordinasi lintas instansi pun diperkuat. Kanwil Ditjenpas NTT berkomunikasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri untuk mengantisipasi kemungkinan evakuasi apabila kondisi di lapangan memburuk.
Rutan Ruteng menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian khusus. Jajaran pemasyarakatan telah mengidentifikasi kemungkinan pemindahan warga binaan apabila blok hunian dinilai tidak lagi layak ditempati.
Namun, opsi pemindahan tidak bisa dilakukan secara gegabah. Kondisi jalur transportasi yang terdampak longsor serta keterbatasan personel aparat yang pada saat bersamaan juga dikerahkan untuk menangani proses evakuasi di sejumlah wilayah terdampak menjadi pertimbangan serius.
Kepala Kanwil Ditjenpas NTT Decky Nurmansyah meminta seluruh jajarannya tidak panik, tetapi tetap berada dalam kondisi siaga.
“Kami meminta seluruh jajaran tetap tenang namun waspada. Setiap perubahan kondisi, sekecil apa pun yang berpotensi memengaruhi keselamatan Warga Binaan maupun petugas, harus segera dilaporkan dan ditindaklanjuti,” tegas Decky.
Kemenimipas memastikan pengawasan terhadap kondisi lapas dan rutan di wilayah terdampak tidak berhenti pada pemeriksaan internal. Evaluasi struktur bangunan akan dikoordinasikan dengan Dinas Pekerjaan Umum guna memastikan tingkat kerusakan dan menentukan batas keamanan bangunan pascagempa.
Setiap perkembangan situasi juga akan dilaporkan secara berkala sebagai bahan pengambilan keputusan berikutnya.
Di tengah ancaman gempa susulan dan potensi gangguan akses akibat longsor, jajaran pemasyarakatan dituntut bergerak dalam dua garis yang sama penting: menyelamatkan manusia dan memastikan keamanan tetap terkendali.
Kemenimipas menegaskan keselamatan warga binaan dan petugas menjadi prioritas utama, sementara kesiapsiagaan akan terus ditingkatkan hingga kondisi di Flores benar-benar dinyatakan aman.












