Kunjungan Anak di Rutan Salemba, Menjaga Ikatan Keluarga dan Menguatkan Pembinaan WBP 

Kepala Rutan Kelas I Jakarta Pusat, Sumaryo,,Foto:ist/TPK

Jakarta,Topikonline.co.id— Ada suasana berbeda di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Jakarta Pusat atau Rutan Salemba. Di tengah rutinitas kehidupan warga binaan pemasyarakatan (WBP), hadir sebuah layanan yang membawa suasana lebih hangat dan menyentuh: Kunjungan Anak di akhir pekan.

Program yang diinisiasi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) DK Jakarta bersama Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungannya tersebut dirancang untuk memberi ruang bagi WBP bertemu langsung dengan buah hati mereka dalam suasana yang lebih kekeluargaan.

Bukan sekadar kunjungan biasa. Bagi sebagian WBP, pertemuan dengan anak menjadi momen untuk kembali melihat sosok yang selama menjalani masa pidana mungkin hanya dapat mereka rindukan dari balik tembok rutan.

Kepala Rutan Kelas I Jakarta Pusat, Sumaryo, mengatakan program tersebut diharapkan memberikan dampak positif terhadap proses pembinaan WBP, khususnya dalam membangun kesadaran agar mereka tidak kembali melakukan pelanggaran hukum setelah bebas.

“Kita berharap program ini bisa berdampak kepada warga binaan agar nantinya bisa berkelakuan baik di dalam Rutan dan tidak berbuat lagi nanti pas bebas. Karena melihat sosok anaknya, ada rasa malu dan keinginan untuk tidak mengulangi perbuatannya,” ujar Sumaryo saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/9/2026).

Menurut Sumaryo, pertemuan antara WBP dan anak juga dapat menjadi pengingat bahwa ada keluarga yang tetap menunggu dan berharap mereka kembali menjadi pribadi yang lebih baik.

“Misalnya, ‘saya ada anak, saya tidak mau berbuat lagi seperti ini. Saya malu kepada anak dan keluarga’. Ini efek yang kita harapkan dari program ini,” katanya.

Saat pertama kali diluncurkan,Sabtu 5/9/26 suasana haru langsung terasa. Tangis, senyum, dan kegembiraan bercampur ketika anak-anak akhirnya dapat bertatap muka dengan orang tua mereka yang sedang menjalani masa pidana.

“Ketika kemarin kita luncurkan pertama kali, isak tangis haru dan gembira pun pecah saat pihak keluarga menemui para WBP,” ungkap Sumaryo.

Ia menjelaskan, layanan kunjungan tersebut secara khusus diberikan kepada anak dan dilaksanakan pada akhir pekan. Pemilihan hari Sabtu bukan tanpa alasan.

“Kami sangat menyadari bahwa hak anak untuk tetap dekat dengan orang tuanya itu penting. Kami pilih hari Sabtu agar jadwal kunjungan ini sama sekali tidak mengganggu waktu sekolah mereka,” jelasnya.

Namun, untuk tahap awal, layanan tersebut belum dibuka setiap pekan. Rutan Salemba menjadwalkannya satu kali dalam sebulan dengan mempertimbangkan aktivitas dan jadwal sekolah anak.

“Program ini baru kita jalankan sebulan sekali karena kita menyesuaikan waktu anak sekolah. Kita lihat dampaknya ke depan seperti apa,” kata Sumaryo.

Pelaksanaan kunjungan anak juga membutuhkan pengaturan tersendiri. Pasalnya, kegiatan berlangsung di luar jam kerja reguler sehingga Rutan menyiapkan petugas khusus untuk memastikan seluruh rangkaian layanan berjalan aman dan tertib.

“Untuk petugas memang kita siapkan khusus karena ini program di luar jam kerja. Jadi petugasnya pun khusus,” ujar Sumaryo.

Selain personel, Rutan Kelas I Jakarta Pusat juga melakukan penyesuaian terhadap fasilitas di area ruang kunjungan. Penataan dilakukan agar lingkungan pertemuan lebih nyaman dan ramah bagi anak.

Rutan juga memastikan area tersebut steril dari asap rokok sehingga anak-anak dapat berinteraksi dengan orang tua mereka dalam lingkungan yang lebih sehat dan nyaman.

Sumaryo menegaskan, pihaknya tidak ingin program tersebut berjalan tanpa evaluasi. Ke depan, Rutan Kelas I Jakarta Pusat berencana menggandeng Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) untuk melihat sejauh mana pelaksanaan kunjungan anak telah memenuhi kepentingan dan kebutuhan anak.

“Iya, ke depan kita siap menggandeng LPAI agar nanti kita bisa mengevaluasi program ini. Kalau ada yang perlu dibenahi, kita benahi agar tidak ada yang dirugikan oleh program ini,” tegasnya.

Program Kunjungan Anak pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang mempertemukan WBP dengan keluarganya. Lebih jauh, program ini menempatkan hubungan orang tua dan anak sebagai bagian dari proses pembinaan.

Sebab, di balik pintu rutan dan masa pidana yang harus dijalani, tetap ada seorang anak yang membutuhkan sosok ayah atau ibunya.

Dan bagi WBP, pertemuan singkat itu bisa menjadi pengingat bahwa kebebasan kelak bukan sekadar keluar dari balik jeruji, tetapi juga kesempatan untuk pulang sebagai pribadi yang lebih baik bagi keluarga.