Jakarta,Topikonline.co.id— Wajah baru pembinaan di Lapas Kelas I Cipinang mulai terlihat nyata. Dari yang pernah dihuni hingga 4.000 orang pada masa lalu, kini jumlah warga binaan ditekan menjadi 2.064 orang, mendekati kapasitas ideal 880 orang. Penurunan ini bukan sekadar angka, tetapi menjadi pintu masuk perubahan: dari sekadar tempat menjalani hukuman menjadi ruang pembinaan yang produktif.
Di balik tembok tinggi Lapas Cipinang, aktivitas ekonomi justru tumbuh. Warga binaan tak lagi hanya menunggu waktu bebas, tetapi aktif berkarya melalui berbagai unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dikelola internal.
“Kami berupaya memberikan pembinaan yang berdampak nyata. Tidak hanya disiplin, tetapi juga keterampilan hidup,” ujar Lis Susanti, Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Cipinang.kamis 23/4/26
Salah satu yang menonjol adalah produksi batik “Lintas Lima”. Nama ini diambil dari jam aktivitas warga binaan yang berlangsung hingga pukul 17.00 WIB. Di sini, warga binaan memproduksi batik tulis dan batik cap secara manual.
Prosesnya tidak instan. Untuk satu lembar batik tulis, dibutuhkan waktu hingga satu bulan. Sementara batik cap dapat diselesaikan dalam 4 hari hingga dua minggu. Produksi pun terbatas, sekitar 50 lembar per bulan.
Produk-produk tersebut tidak hanya dipasarkan melalui pameran, tetapi juga menembus platform e-commerce seperti Tokopedia dan Shopee, bahkan pernah dikirim hingga ke luar negeri.
“Semua dikerjakan warga binaan, mulai dari proses awal hingga finishing. Kami juga bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia untuk pelatihan,” jelas Lis.
Salah satu warga binaan, Rudi, mengaku telah dua tahun menekuni batik di dalam lapas. Dari hasil penjualan, ia mendapatkan sekitar 30 persen keuntungan.
“Lumayan buat kebutuhan sehari-hari. Di luar saya sempat menganggur, di sini justru dapat keahlian,” ujarnya.
Tak hanya batik, Lapas Cipinang juga memiliki kafe bernama “Lintas 5”. Uniknya, seluruh barista adalah warga binaan dan setiap transaksi tetap berbayar tanpa pengecualian.
Dari hasil bekerja sebagai barista, warga binaan bisa memperoleh sekitar Rp200 ribu per bulan yang sebagian dikirimkan kepada keluarga.
Selain itu, tersedia layanan barbershop yang juga dikelola warga binaan. Siswanto, salah satu pekerja, mengaku mendapatkan pelatihan selama tiga bulan sebelum mulai bekerja.
“Sehari bisa memangkas 4 sampai 5 orang, dengan premi Rp6.000 per pelanggan. Ini sangat membantu untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Ia bahkan berencana menjadikan keterampilan tersebut sebagai mata pencaharian setelah bebas nanti.
Aktivitas lain tak kalah menarik adalah kerajinan tangan, seperti pembuatan miniatur kapal pinisi, bengkel, hingga produksi roti. Semua dilakukan oleh warga binaan yang telah mendapatkan pelatihan sebelumnya.
Di sektor ketahanan pangan, lapas mengembangkan pertanian dan peternakan. Warga binaan menanam sayuran seperti kangkung, sawi, dan terong di lahan sepanjang 500 meter,ada juga budidaya ikan lele dan ikan nila Selain itu, tengah dikembangkan peternakan ayam petelur yang ditargetkan mencapai 1.000 ekor.
Adnan, warga binaan yang telah sembilan tahun menjalani masa hukuman, kini aktif di bidang pertanian.
“Dapat ilmu baru di sini. Hasilnya sebagian ditabung untuk keluarga,” ujarnya.
Lapas Cipinang juga menyediakan fasilitas air minum gratis hingga dua liter per orang setiap hari, hasil kerja sama dengan Pelindo. Selain itu, terdapat blok restoratif sebagai pendekatan pembinaan bagi warga binaan yang melakukan pelanggaran.
“Di blok ini mereka menjalani asesmen dan pembinaan khusus sebelum kembali ke blok umum,” kata Lis.
Dengan dukungan 270 pegawai, termasuk tenaga medis seperti tiga dokter umum, tiga dokter gigi, dan sembilan perawat, kondisi lapas saat ini dinilai semakin kondusif.
Pendekatan pembinaan berbasis keterampilan ini diharapkan mampu menekan residivisme dan memberi bekal nyata bagi warga binaan saat kembali ke masyarakat.
Lapas Cipinang kini tak sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang transformasi—di mana keterbatasan justru melahirkan harapan baru.












