Berita  

Warga Binaan Jadi Sorotan di WCPP 2026 Bali, Kisah Mengharukan di Balik Kesuksesan Acara Internasional

Direktur jendral Pemasyarakatan Mashudi,foto:Iwan

Jakarta,Topikonline.co.id – Kesuksesan The 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026 yang digelar pada 14–17 April 2026 di Bali International Convention Center, Nusa Dua, menyisakan cerita unik sekaligus mengharukan. Di balik gemerlap forum internasional yang diikuti 44 negara dan lebih dari 400 peserta tersebut, terdapat peran besar warga binaan pemasyarakatan yang menjadi tulang punggung penyelenggaraan acara.

Direktur Pemasyarakatan, Mashudi, mengungkapkan rasa bangga dan harunya atas keterlibatan aktif warga binaan dalam menyukseskan agenda dunia tersebut.

“Ada yang membuat saya sangat terharu. Semua yang meramaikan dan menunjang acara itu adalah warga binaan,” ujar Mashudi saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/4/2026).

Menurutnya, kontribusi warga binaan tidak hanya sebatas partisipasi, tetapi juga menunjukkan kualitas pembinaan yang berkelanjutan. Bahkan, kelompok musik yang tampil dalam acara tersebut merupakan hasil regenerasi yang telah berlangsung lama.

“Anggota band itu sudah generasi kelima. Untuk pemain gamelan sudah generasi ketiga. Karena mereka warga binaan, ketika bebas langsung digantikan oleh yang lain. Proses mencari dan melatih penggantinya dilakukan oleh petugas lapas sendiri,” jelasnya.

Keberhasilan ini, lanjut Mashudi, menjadi bukti nyata bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan mampu melahirkan karya dan talenta yang layak tampil di panggung internasional. Ia pun berinisiatif memberikan penghargaan kepada para pegawai lapas yang berperan sebagai pelatih.

Namun, respons para pegawai justru di luar dugaan.

“Saya tanya, ‘kamu ingin jabatan apa?’ Tapi jawabannya unik. Mereka tidak ingin jabatan, justru memilih tetap menjadi pelatih. Ada yang bilang, kalau dapat jabatan, nanti siapa yang melatih band,” ungkapnya.

Beberapa pelatih bahkan hanya meminta status jabatan fungsional agar tetap bisa fokus membina warga binaan. Hal itu membuat Mashudi mengaku tertekan sekaligus tersentuh.

“Saya pulang dari sana malah merasa tertekan, karena mereka tidak mau promosi. Mereka memilih tetap mengabdi di bidang yang mereka cintai,” katanya.

Kontribusi warga binaan dalam WCPP 2026 berasal dari berbagai lapas. Band musik diketahui berasal dari Lapas Bangli, sementara kelompok gamelan dari Lapas Grobogan, termasuk keterlibatan warga binaan perempuan.

Meski telah ditawarkan penghargaan, sebagian besar pelatih tetap memilih bertahan di posisi mereka.

“Mereka bilang, ‘saya tetap di sini saja’. Tapi yang pasti, penghargaan tetap kami berikan. Sekecil apa pun kontribusinya harus dihargai,” tegas Mashudi.

Kesuksesan WCPP 2026 tidak hanya mencerminkan kemampuan Indonesia sebagai tuan rumah, tetapi juga menghadirkan wajah baru sistem pemasyarakatan—yang tidak sekadar menghukum, melainkan membina hingga melahirkan prestasi yang membanggakan di tingkat global.