Lapas Narkotika Gunung Sindur Launching Lapas Pangan Mandiri, Warga Binaan Didorong Produktif dan Mandiri

Kalapas narkotika gunung Sindur Bambang Wijanarko memberikan cenderamata kepada kepala SPPG 004 Kemang,,foto ist

Bogor,Topikonline.co.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, meluncurkan program Lapas Pangan Mandiri sebagai terobosan pembinaan yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, pengolahan pangan hingga pemasaran hasil produksi.

Program yang mengusung semangat “Bersama Membina, Memproduksi, Mensejahterakan untuk Kemandirian dan Ketahanan Pangan” tersebut diluncurkan pada Jumat (21/8/2026).

Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Bambang Wijanarko, mengatakan program tersebut lahir dari gagasan bahwa lapas tidak semestinya hanya menjadi tempat menjalani pidana, tetapi juga ruang pembentukan keterampilan, produktivitas dan kemandirian warga binaan.

“Lapas tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi mampu menjadi ruang untuk membangun keterampilan, produktivitas, dan kemandirian melalui optimalisasi potensi yang dimiliki,” ujar Bambang.

Menurutnya, Lapas Pangan Mandiri dirancang sebagai ekosistem pembinaan yang terintegrasi. Lahan, sarana, petugas, warga binaan serta kebutuhan pangan internal diarahkan menjadi kekuatan produktif yang saling mendukung.

Program ini juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan serta Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya program pengembangan ketahanan pangan melalui pertanian, peternakan dan perikanan di lapas dan rumah tahanan.

Bambang menjelaskan, proyek perubahan tersebut tidak berhenti pada kegiatan bercocok tanam. Sejumlah unit usaha dikembangkan secara terintegrasi, mulai dari peternakan ayam petelur, fabrikasi kandang baterai, pertanian sayuran hingga penggilingan beras.

Pada sektor peternakan, Lapas Narkotika Gunung Sindur mengembangkan ayam petelur dengan dukungan sponsorship dari Koperasi Konsumen PrimKopasindo senilai sekitar Rp298 juta.

Ayam petelur didatangkan ketika berusia 21 minggu dan kini telah mencapai tingkat produksi sekitar 90 persen, dengan hasil sekitar 52 kilogram telur.

Hasil produksi telur juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dapur lapas sekaligus dikembangkan untuk penyerapan pasar melalui mitra kerja sama.

Tak kalah menarik, warga binaan juga dilibatkan dalam pembuatan kandang baterai. Melalui kerja sama dengan PT Jaya Satwa Unggul, unit fabrikasi tersebut telah memproduksi dan mengirim 514 set kandang dengan nilai penjualan sekitar Rp65 juta.

Di sektor pertanian, sejumlah komoditas dikembangkan, antara lain daun singkong, kangkung, tauge, selada dan jahe merah.

“Warga binaan mendapatkan pengalaman langsung dalam pemeliharaan ternak, biosecurity, pemberian pakan, pengumpulan, penyortiran hingga pencatatan produksi. Pada unit pabrikasi, keterampilan berkembang dari pengukuran, pemotongan, pengelasan, perakitan hingga finishing,” jelas Bambang.

Total terdapat 55 warga binaan yang terlibat aktif dalam berbagai unit Lapas Pangan Mandiri. Penempatan dilakukan dengan mempertimbangkan minat, kompetensi, kedisiplinan serta aspek keamanan.

Untuk memastikan kegiatan berjalan profesional, Lapas Narkotika Gunung Sindur menyusun 10 SOP terintegrasi yang mencakup operasional kawasan, peternakan, pabrikasi, pertanian, penggilingan, biosecurity, pencatatan produksi, pembinaan warga binaan, mutu dan pemasaran hingga monitoring keberlanjutan.

Produksi, stok, pemanfaatan dan penyerapan hasil juga dicatat serta dimonitor melalui dashboard Satria.

Hasilnya mulai terlihat. Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur bahkan berhasil meraih peringkat pertama UPT se-Indonesia dalam bidang ketahanan pangan.

Rantai produksi diperkuat dengan pengoperasian unit penggilingan beras. Dua unit mesin yang tersedia mampu menggiling rata-rata 2 ton padi per hari.

Dari 1 ton padi, dihasilkan sekitar 700 kilogram beras dan 180 kilogram dedak. Kapasitas tersebut disebut telah mampu memenuhi 100 persen kebutuhan beras dapur Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur.

Pengelolaan penggilingan beras dilakukan melalui kerja sama dengan PT Abisatya Makmur Sejahtera. Bahkan, mulai Jumat (21/8), hasil produksi beras tersebut mulai dikirim ke lapas lain yang telah melakukan pemesanan.

Ekosistem Lapas Pangan Mandiri juga diperluas melalui kerja sama lintas sektor. Sedikitnya tiga kerja sama formal dibangun bersama PT Jaya Satwa Unggul, PT Abisatya Makmur Sejahtera dan Koperasi Konsumen Primkopasindo.

Hasil pembinaan kemudian diarahkan ke tahap hilirisasi agar tidak berhenti sebagai produksi internal.

Sebanyak 11 produk dan bentuk pemanfaatan dikembangkan melalui tiga jalur, yakni penyaluran langsung kepada masyarakat atau mitra, pengembangan produk olahan melalui laboratorium UMKM, serta pemanfaatan untuk kebutuhan dapur lapas.

Telur, sayuran, beras, serbuk jahe merah hingga kandang baterai mulai diperkuat melalui identitas dan kemasan produk.

Dari sisi pemanfaatan, dapur lapas menggunakan sekitar 420 kilogram telur per bulan dengan nilai sekitar Rp10,08 juta.

Produksi beras mencapai 12 ton dengan nilai sekitar Rp157 juta dan mampu memenuhi kebutuhan dapur lapas. Sementara sektor pertanian menyumbang sekitar 369 kilogram daun singkong, 140 kilogram kangkung dan 128 kilogram tauge setiap bulan.

Selada juga disalurkan kepada SPPG Kemang 004 sekitar 50 kilogram per minggu.

Jika dihitung dari pemanfaatan telur, beras dan sejumlah hasil pertanian tersebut, nilai pemanfaatan produk mencapai sekitar Rp172 juta.

Di balik angka tersebut, terdapat proses pembinaan yang menjadi tujuan utama. Warga binaan bekerja dengan target, SOP, standar mutu dan tanggung jawab, sekaligus memperoleh premi berdasarkan hasil kegiatan.

Bagi warga binaan, program tersebut bukan sekadar aktivitas kerja di balik tembok lapas. Ada keterampilan dan harapan yang dipersiapkan untuk dibawa ketika kembali ke tengah masyarakat.

Salah seorang warga binaan yang terlibat dalam pembuatan kandang baterai mengaku premi yang diperolehnya menjadi penyemangat untuk menatap masa depan.

“Premi yang saya terima dari hasil berkarya di sini membuktikan bahwa saya masih bisa produktif. Ini menjadi modal awal dan pemicu semangat saya untuk hidup mandiri setelah bebas,” katanya.

Warga binaan lainnya, yang merupakan narapidana kasus narkotika, mengatakan pembinaan tersebut telah mengembalikan kepercayaan dirinya.

“Dari sini saya siap kembali ke Majalengka sebagai pribadi yang mandiri, bertanggung jawab dan tidak menjadi beban bagi siapa pun,” ujarnya.

Sementara warga binaan yang terlibat dalam peternakan ayam petelur mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam mengolah hasil pembinaan menjadi produk bernilai tambah.

“Telur dan sayuran dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai tambah. Program ini meningkatkan kualitas produk, memperluas pemanfaatan hasil pembinaan, serta menjadi sumber belajar kewirausahaan bagi warga binaan,” katanya.

Program tersebut mendapat apresiasi dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor, Rini Kusumawati, menilai konsep yang diterapkan Lapas Narkotika Gunung Sindur memiliki potensi besar untuk direplikasi di masyarakat.

Menurutnya, konsep yang dikembangkan tidak hanya berbicara mengenai ketahanan pangan warga binaan, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

“Di sini diperkenalkan konsep kemandirian dan ketahanan pangan yang bisa mensejahterakan tidak hanya warga binaan, tetapi juga masyarakat pada khususnya,” ujar Rini.

Ia menyoroti konsep pertanian terintegrasi yang diterapkan, mulai dari ayam petelur, kandang hingga pengelolaan produksi.

Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor, kata Rini, bahkan berencana mengadopsi konsep tersebut melalui pendekatan ATM: Amati, Tiru dan Modifikasi.

“Kita akan adopsi, tiru dan modifikasi supaya bisa dilaksanakan oleh masyarakat Kabupaten Bogor,” katanya.

Rini menilai konsep tersebut dapat diterapkan di tingkat keluarga, termasuk melibatkan kelompok PKK, pemuda dan generasi muda.

Dengan wilayah Kabupaten Bogor yang terdiri atas 40 kecamatan dan 435 desa, menurutnya ketahanan pangan keluarga menjadi salah satu opsi strategis yang dapat dikembangkan.

“Lahan itu terbatas, jadi kita bisa melihat ini untuk ketahanan pangan keluarga. Setiap keluarga memiliki ketahanan pangan sendiri. Kita rata-rata makan telur dan telur itu sumber protein hewani yang sangat baik,” ujarnya.

Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, Rini melihat hasil produksi Lapas Pangan Mandiri juga memiliki peluang ekonomi.

“Selain untuk mandiri, untuk warga binaan, juga lapas-lapas lainnya dan bisa dijual. Jadi tidak hanya ketahanan pangan, tapi bisa menjadi motif ekonomi,” katanya.

Peluncuran Lapas Pangan Mandiri turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor Rini Kusumawati, Direktur PT Abisatya Makmur Sejahtera Adi Cahyo Ababil, Direktur PT Jaya Satwa Unggul Kartika Abisena, Direktur PT Sanbe Farma drh. Agung Setiawan, Wakil Direktur CV Palindo Mitra Utama Muhammad Subhi Yakub, Kepala SPPG Kemang 004 Krisman Wistan Kurnia Zai, serta Ketua Koperasi Konsumen PrimKopasindo Dudi Ahmad Syafei.

Lapas Pangan Mandiri Gunung Sindur pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang telur, beras atau sayuran. Program tersebut menjadi gambaran bagaimana pembinaan dapat bergerak dari sekadar rutinitas menuju produktivitas.

Di balik tembok lapas, warga binaan tidak hanya dipersiapkan untuk menyelesaikan masa pidana, tetapi juga ditempa agar memiliki keterampilan, pengalaman kerja dan keberanian untuk kembali menjadi manusia yang mandiri.

Jika konsistensi produksi, kemitraan dan pemasaran terus dijaga, Lapas Pangan Mandiri Gunung Sindur berpotensi menjadi model pembinaan yang tidak hanya memberi makan lapas, tetapi juga memberi bekal hidup bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat.