Hankam  

Mengingat Lagi Momen Letjen TNI Nyoman Cantiasa sebagai Komandan Upacara Penurunan Bendera di Istana Negara

Letjen TNI I Nyoman Cantiasa.

Jakarta – Jenderal tempur bintang tiga yang sarat prestasi, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa pernah terpilih menjadi Komandan Upacara Penurunan Bendera Sang Merah Putih saat HUT ke-68 di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2013, atau 10 tahun silam. Cantiasa yang ketika itu masih berpangkat kolonel bertugas sebagai Komandan Upacara yang dihadiri tokoh-tokoh besar dan penting di Republik ini.

Sebagai seorang prajurit yang terpilih mengisi posisi tersebut, jelas jadi sebuah kebanggaan tersendiri. Apalagi proses seleksinya super ketat. Saat dipercaya menjadi Komandan Upacara Penurunan Bendera Sang Merah Putih kala itu, kedinasan militer Cantiasa adalah sebagai Pamen Ahli Bidang Taktik Khusus Gultor Danjen Kopassus.

Kini, di momen HUT ke-78 Kemerdekaan Indonesia tahun 2023 atau satu dasawarsa setelah menjadi Komandan Upacara Penurunan Bendera Sang Merah Putih pada perayaan HUT ke-68 Kemerdekaan Indonesia, ada baiknya kita kembali mengupas sepak terjang sosoknya sebagai seorang prajurit TNI.

Sejak titik awal karier kedinasannya, jenderal bintang tiga kelahiran Buleleng, 26 Juni 1967 ini memang sudah terlihat jelas punya kemampuan paten sebagai prajurit tempur tulen yang cerdas. Pendidikan Akademi Militer (Akmil) dia tamatkan tahun 1990 dengan predikat lulusan terbaik dan meraih penghargaan Adhi Makayasa.

Saat berpangkat Letnan Satu, Cantiasa ikut terlibat dalam Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma. Dalam operasi ini, Cantiasa bertugas sebagai Wakil Komandan Sub Tim Detasemen 81 (Penanggulangan Teror) atau Sat-81/Gultor Kopassus.

Operasi ini adalah operasi pembebasan sandera di Papua yang kala itu bernama Irian Jaya. Ada 26 orang yang disandera kelompok OPM. Dua orang adalah warga Belanda, dan empat orang lainnya warga negara Inggris. Sisanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang berprofesi sebagai dosen, pendeta, dan petugas kehutanan.

Operasi ini berakhir tuntas pada 9 Mei 1996. Dalam penyerbuan pasukan Sat-81/Gultor Kopassus ke markas OPM, dua sandera tewas. Mereka adalah Matheis Yosias Lasembu, seorang peneliti ornitologi dan Navy W. Th. Panekenan, seorang peneliti biologi.

Letjen TNI I Nyoman Cantiasa saat menjadi Danjen Kopassus.

Catatan riwayat kedinasan militer Cantiasa sendiri memang padat dan panjang di Kopassus. Setelah lulus Akmil dan berpangkat Letnan Dua, kebanyakan dirinya selalu bertugas di  infanteri Korps Baret Merah. Dan ini terus berjalan hingga menyandang pangkat kolonel. Sempat ada jeda sejenak untuk bertugas di wilayah sebagai Danrem Wira Satya. Setelah pangkatnya pecah bintang, dia kembali dapat kesempatan untuk bertugas di luar Kopassus sebagai Kasdam Cendrawasih.

Letjen TNI I Nyoman Cantiasa saat menjabat sebagai Danrem Wira Satya dengan pangkat kolonel.

Tapi itu juga tak lama. Saat pangkat bintang di pundaknya bertambah jadi dua, Cantiasa kembali dipanggil pulang ke Kopassus untuk menduduki jabatan sebagai Danjen Kopassus.

Setelah itu, Cantiasa Mendapat amanah tugas di wilayah sebagai Panglima Kodam XVIII/Kasuari, Papua Barat. Selesai dari jabatan ini, Cantiasa kembali dapat promosi jabatan dengan pangkat tiga bintang sebagai Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III atau Pangkogabwilhan III.

Di posisi jabatan ini Cantiasa menjabat lebih kurang satu tahun. Sampai kemudian di tanggal 15 Mei 2023 dirinya ditarik ke Mabesad untuk bertugas sebagai Koordinator Staf Ahli (Korsahli) KSAD.

Satu pertanda dirinya memang tengah dipersiapkan menjadi KSAD berikutnya pada bulan November 2023? Entahlah. Cuma Tuhan yang bisa menentukan dan menjawab kans serta peluangnya sebagai seorang kuda hitam calon KSAD untuk menjadi seorang KSAD. Bembo

Tinggalkan Balasan