Hankam  

Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa Mulai Disebut Jadi Calon Terkuat Pangkostrad

Jakarta – Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa mulai disebut-sebut sebagai calon terkuat Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) yang menggantikan Jenderal TNI Dudung Abdurachman.

Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa saat ini menjabat sebagai Pangdam XVIII/Kasuari. Sebelumnya, Cantiasa menjabat sebagai Danjen Kopassus ke-31.

Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa adalah abituren Akmil 1990. Pria kelahiran Buleleng, Bali, 26 Juni 1967 ini adalah lulusan terbaik di angkatannya dan meraih penghargaan Adhi Makayasa saat menyelesaikan pendidikan Akmil.

Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa sebagai Pangdam XVIII/Kasuari.

Di kariernya bersama TNI Angkatan Darat, Nyoman  memulai dari satuan tempur Kostrad. Nyoman sempat berdinas sebagai Komandan Pleton (Danton) dan Komandan Kompi (Danki) Batalyon Infanteri Para Raider 328/Dirgahayu (Yonif PR 328/Dirgahayu).

Setelah itu, baru lah Nyoman Cantiasa mendapat tugas di Kopassus. Tak tanggung-tanggung, Nyoman Cantiasa langsung bergabung dengan unsur paling elite di jajaran Kopassus yang dikenal dengan Detasemen 81/Kopassus, atau sering disebut Satuan 81/Penanggulangan Teror (Sat-81/Gultor).

Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa saat pembaretan prajurit Kopassus.

Sejak awal kariernya, Nyoman Cantiasa juga sudah berkiprah dalam operasi-operasi berbahaya dan penting dalam sejarah pelibatan TNI dalam mengatasi aksi teror.

Ketika masih berpangkat Letnan Satu, Nyoman Cantiasa telah diterjunkan dalam operasi pembebasan anggota tim Ekspedisi Lorentz 95 yang disandera oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma Papua pada 1996.

“Kemudian operasi pembebasan tim Lorentz yang ada di Irian Jaya. Juga sama, bagaimana TNI dilibatkan dalam operasi pembebasan sandera. Dan kebetulan saya juga ikut terjun langsung di sana, ada saat itu, saya masih Letnan Satu,” kata Cantiasa dalam tayangan Podcast Puspen TNI yang diunggah di kanal Youtube resmi Puspen TNI.

Selain itu, Nyoman Cantiasa juga pernah diterjunkan dalam operasi pembebasan sandera Anak Buah Kapal MV Sinar Kudus yang dibajak pada 2011 di Perairan Somalia.

Cantiasa mengatakan, ia yang saat itu menjabat sebagai Komandan Satuan Penanggulangan Teror (Satgultor 81) Kopassus turut terlibat merancang operasi pembebasan sandera tersebut.

Saat itu, kata dia, timnya melaksanakan operasi bersama pasukan elit TNI AL yakni Detasemen Jalamangkara (Denjaka). Menurutnya, operasi tersebut adalah operasi yang punya tingkat kesulitan sangat tinggi.

“Pada saat itu saya ikut terlibat merancang bersama Komandan Detasemen Jalamangkara menyiapkan pasukan untuk melaksanakan tugas-tugas ke Somalia. Pada saat itu saya rasakan operasi kita harus rahasia. Memang pada saat itu Pak Presiden memerintahkan kepada Danjen Kopassus yang pada saat itu Bapak Mayjen Lodewick Paulus, kemudian kepada saya Komandan Satuan Antiteror bahwa operasi ini tidak boleh keluar ke mana-mana beritanya. Jadi yang tahu melaksanakan operasi pembebasan hanya kamu (Presiden) dan saya,” ungkapnya. bem

Tinggalkan Balasan