Jakarta,Topikonline.co.id – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof. Jimly Asshiddiqie, menyerukan pentingnya kekuatan moral masyarakat untuk mengimbangi hegemoni kekuasaan. Seruan itu disampaikan saat Aksi Rakyat Bela Indonesia (ARBI) di halaman Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Minggu (8/11/2026).
Dalam orasinya, Jimly menegaskan bahwa setiap putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA) harus dihormati serta dijadikan pegangan. Menurutnya, kepatuhan terhadap putusan lembaga peradilan merupakan fondasi penting dalam menjaga konstitusi dan supremasi hukum.
Ia juga menyoroti gejala hegemoni kekuasaan yang dinilai perlu diimbangi melalui suara kritis masyarakat, termasuk peran masjid sebagai ruang menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan nilai-nilai keadilan.
“Rupanya, ada hati nurani yang sama, yang mempersatukan kita,” ujar Jimly di hadapan massa aksi.
Jimly menilai kekuatan moral dan akal sehat masyarakat tidak boleh diabaikan. Keduanya menjadi modal penting untuk menjaga demokrasi ketika kekuasaan dinilai terlalu dominan.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan oleh Jimly, tokoh yang pernah memimpin MK periode 2003–2008 dan memahami pentingnya konstitusi serta independensi lembaga peradilan.
Aksi ARBI juga mengangkat isu dugaan penyadapan ilegal dan polemik dokumen pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dalam konteks tersebut, Jimly mengingatkan agar putusan pengadilan dihormati dan dilaksanakan sesuai ketentuan hukum.
Pesan utamanya jelas: demokrasi tidak cukup hanya ditopang oleh kekuasaan dan aturan formal, tetapi juga membutuhkan keberanian moral masyarakat untuk mengawal keadilan, konstitusi, dan supremasi hukum.
Dari ruang sidang MK ke halaman Masjid Al-Azhar, Jimly menyampaikan pesan bahwa kekuatan moral rakyat harus tetap menjadi penyeimbang kekuasaan.












