Lawan Stigma Disabilitas, DisLabel Gandeng Rumah Sahabat Inklusi Hadirkan Ruang Tanpa Batas

Perwakilan LSPR Institute of Communication & Business bersama Rumah Sahabat Inklusi berfoto usai pembukaan kampanye sosial DisLabel bertajuk Stories Beyond Labels di Ice Palace Concert Hall, Lotte Mall Jakarta, Jumat (24/7/2026). Kegiatan ini mengajak masyarakat menghapus stigma terhadap penyandang disabilitas sekaligus mendorong terciptanya ruang yang lebih inklusif bagi semua. Foto: topikonline.co.id/Adang

JAKARTA – Stigma terhadap penyandang disabilitas masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Tidak sedikit penyandang disabilitas yang menghadapi hambatan untuk memperoleh akses pendidikan, pekerjaan, hingga ruang berekspresi akibat masih kuatnya stereotip di tengah masyarakat. Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai gerakan yang mengedepankan inklusi sebagai bagian dari kehidupan sosial.
Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia: Hasil Long Form SP2020, penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari akses pendidikan, kesempatan kerja, layanan kesehatan, hingga stigma sosial yang berujung pada diskriminasi. BPS menilai perubahan cara pandang masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk mewujudkan kehidupan yang lebih inklusif. �
Badan Pusat Statistik Indonesia +1
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa MKTC27-1SP LSPR Institute of Communication & Business menghadirkan kampanye sosial DisLabel bertajuk “Stories Beyond Labels” dengan tema “Menuju Ruang Tanpa Batas”.
Kegiatan yang berlangsung di Ice Palace Concert Hall, Lotte Mall Jakarta, Jumat (24/7/2026), bekerja sama dengan Rumah Sahabat Inklusi (RSI) dan didukung Lotte Mall Jakarta itu bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas melalui pendekatan edukatif, interaktif, dan inspiratif.
Program community development tersebut dirancang dengan tiga tujuan utama, yakni meningkatkan pemahaman publik mengenai isu disabilitas, mengurangi stigma melalui interaksi langsung, serta menyediakan ruang bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial maupun budaya.
Beragam kegiatan digelar dalam acara tersebut, mulai dari talkshow, pameran seni, pertunjukan musik, fashion showcase oleh Bhoelan, Sign Language Workshop, hingga Empathy Challenge yang mengajak pengunjung merasakan pengalaman dari perspektif penyandang disabilitas.
Talkshow menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Aktivis Disabilitas sekaligus Mahasiswi LSPR Batch 27 Sekar Ajeng, mantan Staf Khusus Presiden Bidang Sosial periode 2019-2024 Angkie Yudistia, Pembina Rumah Sahabat Inklusi Teuku Jordan Zacky Azwar, Motivator Disabilitas Khoiril Fikri, S.Pd., serta Dosen London School Beyond Academy Nunur Nuraeni, S.Pd.
Salah satu momen yang paling menyita perhatian pengunjung adalah pertunjukan seni dan fashion showcase yang dibawakan langsung oleh teman-teman difabel. Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak membatasi kemampuan untuk berkarya dan berprestasi.
Ketua Pelaksana DisLabel, Maritzki Aleeva Cesario Putra, mengatakan kegiatan tersebut bukan hanya sebuah acara seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun ruang yang benar-benar inklusif.
“DisLabel bukan sekadar sebuah acara, tetapi langkah nyata untuk menciptakan ruang yang inklusif, di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan memberikan dampak,” ujar Maritzki.
Senada dengan itu, Pembina Rumah Sahabat Inklusi, Teuku Jordan Zacky Azwar, menilai gerakan DisLabel mengajak masyarakat melihat penyandang disabilitas berdasarkan potensi yang dimiliki, bukan keterbatasannya.
“Movement DisLabel adalah tentang melepas stigma, membuka ruang, dan melihat setiap individu dari potensi, bukan keterbatasannya. Inklusi dimulai ketika kita berhenti memberi label, mulai saling memahami, dan memberikan ruang agar mereka lebih terlihat serta mampu menyebarkan inspirasi dan energi positif bagi banyak orang,” katanya.
Pihak penyelenggara berharap kegiatan tersebut menjadi awal dari semakin banyak kolaborasi yang melibatkan masyarakat, institusi pendidikan, komunitas, hingga dunia usaha dalam membangun lingkungan yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
Melalui semangat “Stories Beyond Labels”, DisLabel mengajak masyarakat meninggalkan stigma dan membangun ruang yang memberikan kesempatan setara bagi seluruh warga tanpa memandang kondisi fisik maupun keterbatasan yang dimiliki.
LSPR Institute of Communication & Business sendiri merupakan perguruan tinggi yang berdiri sejak 1992 dan secara konsisten mengembangkan berbagai program akademik maupun community development yang mendorong kepedulian sosial serta pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor