Ekbis  

Menteri UMKM Tekankan Penguatan Pasar Domestik Jadi Fondasi Ekspansi Ekspor

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman bersama para pelaku usaha dalam kegiatan Kopdar Ekspor “From Local To Global” yang digelar di Smesco, Jakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Istimewa
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman bersama para pelaku usaha dalam kegiatan Kopdar Ekspor “From Local To Global” yang digelar di Smesco, Jakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Istimewa

TOPIKONLINE.CO.ID — Jakarta: Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mendorong pelaku UMKM memperkuat fundamental usaha dan penguasaan pasar domestik sebelum memperluas bisnis ke pasar global.

Menurut Maman, ekspor merupakan peluang penting bagi UMKM untuk meningkatkan skala usaha dan memperluas jangkauan pasar. Namun, ekspansi ke pasar internasional harus ditopang kesiapan usaha serta posisi yang kuat di pasar dalam negeri agar dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Maman dalam kegiatan Kopdar Ekspor di Jakarta, Selasa (1/9/2026). “Boleh kita support teman-teman untuk ekspor, 100 persen kita dukung. Tetapi pastikan kualitas produk mereka di domestik juga sudah kuat. Jangan sampai kita ekspor satu kali, setelah itu tidak berlanjut,” jelas Maman dalam keterangan tertulis, Selasa (1/9/2026).

Ia mengatakan pasar domestik menjadi ruang penting bagi UMKM untuk menguji kualitas dan konsistensi produk, meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat tata kelola usaha, sekaligus memahami kebutuhan konsumen.

Pengalaman tersebut, lanjut Maman, akan menjadi modal ketika UMKM masuk ke pasar internasional yang memiliki persaingan dan standar lebih kompleks.

“Tidak ada pengusaha di mana pun yang tidak memulai dari pasar lokal mereka. Kita sering belum apa-apa sudah memikirkan ekspor, tetapi lupa memperkuat pasar domestik,” kata Menteri UMKM.

Maman menegaskan penguatan pasar domestik dan ekspansi ekspor bukan merupakan dua agenda yang bertentangan. Keduanya perlu berjalan beriringan agar UMKM memiliki ketahanan di dalam negeri sekaligus mampu meningkatkan daya saing di pasar global.

Besarnya pasar domestik Indonesia, kata dia, merupakan kekuatan yang perlu dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku UMKM. Penguasaan pasar dalam negeri diharapkan dapat memberi ruang bagi UMKM untuk tumbuh dan meningkatkan skala usaha sebelum memperluas pemasaran ke berbagai negara.

“Pasar domestik adalah benteng pertahanan kita. Kita boleh keluar untuk ekspor, tetapi jangan sampai benteng kita sendiri kosong dan dikuasai produk dari luar,” ujar Maman.

Selain penguasaan pasar, Maman menekankan pentingnya penguatan manajemen keuangan sebagai bagian dari fundamental usaha. Menurutnya, akses pembiayaan dan peningkatan kapasitas produksi harus diikuti kemampuan mengelola keuangan secara disiplin agar pertumbuhan usaha berlangsung sehat dan berkelanjutan.

Untuk memperluas akses UMKM terhadap layanan pengembangan usaha, Kementerian UMKM menghadirkan SAPA UMKM sebagai sistem layanan terintegrasi. Sistem tersebut dirancang untuk mendekatkan pelaku UMKM dengan berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas dan skala usaha.

Melalui SAPA UMKM, pelaku usaha dapat mengakses layanan mulai dari verifikasi usaha, legalitas dan sertifikasi, pembiayaan, peningkatan kapasitas, pembukuan digital, hingga akses pemasaran.

“SAPA UMKM kami hadirkan supaya pengusaha UMKM di seluruh Indonesia tidak harus datang ke Jakarta untuk mendapatkan akses layanan pemerintah. Pemerintah harus hadir dalam setiap proses tumbuh dan berkembangnya usaha mereka,” ungkapnya.

Senada dengan upaya tersebut, Kementerian UMKM juga memperkuat peran SMESCO sebagai lembaga layanan pemasaran UMKM. Penguatan tersebut mencakup pemetaan kesiapan pelaku usaha sekaligus pembukaan dan perluasan akses pasar bagi produk Indonesia.

Direktur Utama SMESCO Doddy Akhmadsyah Matondang mengatakan pihaknya saat ini memiliki sekitar 100 ribu data UMKM yang terus dipetakan berdasarkan kesiapan dan potensi pengembangannya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 267 UMKM telah teridentifikasi siap memasuki pasar ekspor. “Dari sekitar 100 ribu data UMKM yang ada di SMESCO, saat ini sudah terpetakan 267 UMKM yang siap ekspor. Melalui kegiatan seperti Kopdar Ekspor ini, kami berharap jumlah tersebut terus bertambah, baik dari sisi jumlah maupun variasi produk,” tutur Doddy.

Selain melakukan pemetaan, SMESCO aktif mendekati pelaku UMKM untuk mengidentifikasi kebutuhan dan potensi pengembangan usaha. Hingga saat ini, sebanyak 1.083 UMKM telah dihubungi secara langsung dan 551 UMKM di antaranya teridentifikasi memiliki potensi untuk dikembangkan, termasuk mendapatkan fasilitasi menuju pasar ekspor.

Doddy mengatakan sejumlah tantangan yang masih dihadapi UMKM untuk memasuki pasar global antara lain pemasaran, pembiayaan, dan perizinan. Karena itu, kesiapan ekspor perlu dibangun secara menyeluruh, mulai dari pembenahan fundamental usaha hingga pembukaan akses pasar.

“Kami berkomitmen menyediakan end-to-end services bagi UMKM, mulai dari akses pemasaran, pembiayaan hingga perizinan, sehingga semakin banyak UMKM Indonesia yang siap dan mampu melakukan ekspor secara berkelanjutan,” tutupnya.