Timur Tengah Utara,Topikonline.co.id— Semangat kemerdekaan tak berhenti di pusat-pusat kota. Di garis terdepan Indonesia, tepatnya kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Merah Putih dikibarkan dengan penuh kebanggaan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Momentum tersebut diawali dengan kirab budaya yang membawa tenunan bendera Merah Putih sepanjang 81 meter. Bendera raksasa itu diarak menyusuri jalan perbatasan Indonesia yang menghubungkan wilayah RI dengan Distrik Oecusse (Oekusi/Ambeno), Timor-Leste.
Kirab yang melibatkan masyarakat adat itu menjadi simbol kuat bahwa semangat kebangsaan tetap hidup di beranda terdepan Nusantara. Dengan balutan budaya dan semangat gotong royong, masyarakat membawa Merah Putih hingga PLBN Wini yang dikelola Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI.
Setibanya di PLBN Wini, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Staf Khusus Bidang Isu Strategis Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Karjono Atmoharsono, bertindak sebagai Inspektur Upacara. Sementara Letnan Dua Arh Farius Septia Gandy dipercaya sebagai Komandan Upacara.
Karjono tampil mengenakan kain tenun buna dengan motif khas masyarakat Insana. Dalam upacara tersebut, ia membacakan amanat Menteri Dalam Negeri selaku Kepala BNPP RI.
Dalam amanatnya ditegaskan, peringatan kemerdekaan di kawasan perbatasan memiliki makna strategis. Perbatasan merupakan wajah terdepan Indonesia sekaligus wilayah yang secara langsung mencerminkan kehadiran negara.
Kedaulatan, kata dia, tidak cukup hanya diwujudkan melalui kemampuan menjaga wilayah. Kedaulatan juga harus hadir melalui pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi, perlindungan masyarakat, hingga peningkatan kesejahteraan.
«“Perbatasan bukan sekadar garis pemisah, tetapi ruang kehidupan masyarakat sekaligus bagian penting dari keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Karjono.»
Pesan tersebut menemukan relevansinya di Wini. Sebab, bagi masyarakat perbatasan, kemerdekaan bukan semata-mata tentang upacara dan pengibaran bendera, tetapi juga tentang bagaimana negara hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Biro Hukum, Organisasi, dan Kepegawaian, Belly Isnaeni, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Sementara Kepala Bidang PLBN Wini, Reynold Uran, membacakan Teks Proklamasi.
Belly menegaskan, kawasan perbatasan merupakan tempat Merah Putih berkibar di garis terdepan Nusantara. Di wilayah tersebut, masyarakat Indonesia menjalani kehidupan, bekerja, membangun keluarga, sekaligus menjadi bagian penting dari keutuhan NKRI.
Menurutnya, kehadiran BNPP bukan sekadar membangun fasilitas fisik di kawasan perbatasan. Lebih jauh, negara harus memastikan kemerdekaan benar-benar dirasakan masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan.
“Kemerdekaan itu bebas dari keterisolasian dan bebas dari kemiskinan,” tegas Belly.
Ia menambahkan, kemerdekaan harus diwujudkan melalui kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat. Negara harus hadir untuk melindungi, melayani, sekaligus menyejahterakan rakyat hingga ke wilayah yang menjadi beranda depan Indonesia.
“Menjaga kedaulatan juga berarti negara mampu memberikan pelayanan, menyediakan infrastruktur, membangun ekonomi, melindungi masyarakat dan memberikan kesempatan kepada setiap warga negara untuk berkembang,” katanya.
Karena itu, pembangunan perbatasan tidak boleh berhenti pada pembangunan infrastruktur semata. Pembangunan harus menyentuh masyarakat dan menggerakkan potensi ekonomi lokal agar kawasan perbatasan tumbuh menjadi pusat pertumbuhan baru.
“Kita ingin perbatasan menjadi wilayah yang aman, terlayani, produktif dan tumbuh sebagai bagian dari pertumbuhan baru Indonesia,” tegasnya.
Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di PLBN Wini diikuti unsur aparatur sipil negara (ASN), TNI-Polri, perangkat desa, masyarakat, serta pelajar dari tingkat SD hingga SMA.
Di tengah lalu lintas kawasan perbatasan yang menjadi penghubung dua wilayah negara, kibaran Merah Putih sepanjang 81 meter itu menjadi pesan yang sulit diabaikan: kemerdekaan Indonesia tidak berhenti di pusat kekuasaan, tetapi harus terasa hingga batas terluar negeri.












