Yoyok Riyo Sudibyo: Penghormatan Rakyat Jauh Lebih Tinggi dari Pangkat dan Duit”

Yoyok Riyo Sudibyo,anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem,Foto:ist/TPK

Jakarta,Topikonline.co.id — Pernyataan anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Yoyok Riyo Sudibyo, di media sosial menuai perhatian. Mantan Bupati Batang periode 2012–2017 itu secara terbuka menyampaikan rasa hormat terhadap dua pejabat yang memilih mengundurkan diri di tengah sorotan publik, yakni Mashudi, mantan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, serta Timothy Ivan Triyono, Deputi II Bidang Materi dan Diseminasi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.

Melalui akun TikTok pribadinya, Yoyok menilai keputusan Mashudi mundur dari jabatan terkait sorotan dan temuan di Lapas Kelas IIA Cibinong merupakan sikap yang patut diapresiasi.

“Yang pertama adalah Mas Mashudi. Beliau jabatannya adalah sebagai Dirjen Pemasyarakatan di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Luar biasa. Karena pertimbangan moral, karena temuan di Lapas Cibinong, dia sebagai komandan di Dirjen Pemasyarakatan tersebut, dia mengundurkan diri. Tepuk tangan,” ujar Yoyok.

Yoyok bahkan secara khusus menyampaikan penghormatannya kepada Mashudi.

“Ya Allah, Pak Mashudi, saya respek lah sama jenengan,” katanya.

Menurut Yoyok, keberanian pejabat untuk mengambil tanggung jawab moral dengan mengundurkan diri masih menjadi sesuatu yang langka di tengah birokrasi pemerintahan.

Ia menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak pejabat yang berani mempertanggungjawabkan jabatan ketika terjadi persoalan yang berada dalam lingkup tanggung jawabnya.

“Indonesia ini butuh orang-orang sosok kayak jenengan. Orang-orang di pemerintahan yang mengundurkan diri kalau dia ketimpa malu, kalau dia kena masalah. Jarang sekali. Jadi, saudara, bolehlah buat contoh kita-kita ini,” tegasnya.

Yoyok tidak berhenti pada Mashudi. Ia juga memberikan apresiasi kepada Timothy Ivan Triyono yang disebut telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Deputi II Bidang Materi dan Diseminasi Bakom RI pada Jumat, 2 Oktober 2026, setelah menjadi sorotan publik terkait gaya hidup dan dugaan flexing di media sosial.

Yoyok menyebut keputusan Timothy sebagai sikap yang juga patut dihormati.

“Mas Timothy ini luar biasa juga. Aduh, respek juga deh. Mengundurkan diri karena—kalau pernyataan halusnya beliau sih, menyatakan, ‘Saya ingin mengkaji diri saya, saya ingin memperbaiki diri saya, saya ingin memperbaiki moral saya’,” ujar Yoyok.

Ia mengakui isu flexing Timothy sempat menjadi perbincangan publik, terutama menyangkut gaya hidup dan barang-barang yang dikenakannya.

Namun, bagi Yoyok, keputusan mundur di tengah tekanan publik tetap menunjukkan adanya keberanian untuk melakukan introspeksi.

“Tapi apa pun itu, saya respek. Dua-duanya deh. Kalau boleh suatu saat saya boleh nyemirkan sepatu, ikhlas aku,” ucapnya.

“Pamong Praja” Bukan Sekadar Jabatan

Yoyok kemudian menarik persoalan tersebut ke makna yang lebih besar mengenai etika seorang pejabat negara.

Menurut dia, pejabat pemerintah bukan sekadar orang yang memperoleh jabatan, fasilitas, kewenangan maupun penghormatan, melainkan seseorang yang mengabdikan diri kepada negara dan masyarakat.

“Karena negara ini sangat butuh sosok seperti saudara-saudara. Pejabat yang malu setelah, misalkan, tidak bisa melaksanakan tugas. Kemudian mengundurkan diri. Pejabat yang malu kalau salah,” katanya.

Ia mengibaratkan pejabat pemerintah sebagai “pamong praja”, yang dalam pandangannya memiliki tanggung jawab moral untuk mengabdi kepada negara sekaligus mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada masyarakat.

“Kalau nggak bisa mempertanggungjawabkan tentang jabatannya, tentang pekerjaannya, menurut saya apa yang sudah dilakukan contoh dua manusia Indonesia paling baik ini, Mas Mashudi dan Mas Timothy, saya respek, saya hormat,” tegasnya.

Yoyok berharap sikap tersebut tidak berhenti menjadi peristiwa sesaat. Ia ingin keberanian mengambil tanggung jawab menjadi budaya baru dalam pemerintahan.

“Semoga ke depan semakin banyak orang Indonesia yang mencontoh dua sosok ini,” imbuhnya.

Pangkat dan Uang Tak Bisa Membeli Penghormatan Publik

Di bagian akhir pernyataannya, Yoyok menyampaikan pesan yang lebih tajam kepada para pejabat negara.

Menurutnya, kehormatan yang diberikan masyarakat memiliki nilai jauh lebih tinggi dibandingkan jabatan maupun kekayaan yang dimiliki seseorang.

“Jangan malah sebaliknya. Yang saya rasakan, penghormatan tulus dan ikhlas dari masyarakat tuh jauh melebihi tingginya pangkat yang diemban atau banyaknya duit yang kau simpan,” ujarnya.

Ia menutup pernyataannya dengan penegasan bahwa penghargaan masyarakat tidak dapat diukur dengan jabatan ataupun materi.

“Penghargaan masyarakat tidak bisa dinilai dengan pangkat dan duit yang kamu simpan,” tutup Yoyok.

Pernyataan Yoyok tersebut sekaligus membuka kembali perdebatan mengenai standar etik pejabat publik: apakah jabatan harus dipertahankan selama belum ada keputusan hukum, atau pejabat perlu mengambil langkah mundur ketika persoalan yang terjadi telah menyentuh pertanggungjawaban moral dan kepercayaan masyarakat.

Bagi Yoyok, jawabannya jelas: jabatan adalah amanah, dan kehormatan tidak selalu datang dari mempertahankan kursi.