IPW Minta Kapolri Evaluasi Kapolda Jabar Dan Copot Kapolresta Bandung

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo di acara malam apresiasi kreasi “Setapak Perubahan Polri” di Gedung Tribrata, Jakarta Selatan, Rabu (22/6).

Jakarta – Ketua Indonesia Police Watch Sugeng Teguh Santosa meminta Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo untuk mengevaluasi kinerja Kapolda Jabar Irjen Pol Suntana dan mencopot Kapolresta Bandung Kombes Pol Kusworo Wibowo.

Kedua pimpinan di tingkat kewilayahan itu, dinilai IPW mengkhianati Program Polri Presisi dengan cara mengulur-ulur dan menggantung kasus melayangnya nyawa dua bobotoh saat Turnamen Pra Musim Piala Presiden, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, pada Jumat (17/6) lalu. Padahal, penegakan hukum menjadi salah satu tugas dan fungsi dari Polri.

Bacaan Lainnya

“Karenanya, Kapolri patut mencopot kepala satuan wilayah (kasatwil) tersebut agar kepercayaan masyarakat terhadap Polri meningkat,” ujar Sugeng kepada wartawan dalam rilisnya, di Jakarta, Jumat (24/6/2022) siang.

Sugeng mengatakan, pengusutan tewasnya dua bobotoh oleh Polda Jabar seakan jalan ditempat. “Hingga kini, belum ada seorang pun yang dijadikan tersangka dalam kerusuhan yang menyebabkan Sopiana Yusup dan Ahmad Solihin meninggal dunia,” ucapnya.

“Bagaimana pun, kepercayaan dan kepuasan masyarakat terhadap Korps Bhayangkara menjadi tolok ukur keberhasilan Polri saat ini dan masa mendatang,” tambah Sugeng.

Menurut Sugeng, penanganan kasus kerusuhan melalui penegakan hukum yang terjadi di Stadion GBLA Kota Bandung ini, sangat berbeda jauh dengan kejadian tinju maut Nabire, 14 Juli 2013 yang menelan korban jiwa 18 orang akibat terinjak-injak.

Hanya dalam waktu empat hari, Kapolda Papua yang kala itu dijabat Tito Karnavian sudah mengumumkan tersangkanya yaitu, Ketua Panitia Penyelenggara Pertandingan Tinju Bupati Cup, Nabertus Yeimo dan dijerat pasal 29 ayat 2 KUHP juncto pasal 25 ayat 2 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional dengan ancaman penjara maksimal 5 tahun dan atau denda Rp 5 Miliar.

Pada 4 September 2013 juga terjadi bentrok antar suporter, di Stadion Manahan Solo, saat laga Persis Solo melawan PSS Sleman di Divisi Utama Liga Primer Indonesia (LPI) dengan korban luka sebanyak tujuh orang. Namun, empat hari kemudian, Polresta Surakarta menetapkan Roy Saputro selaku Ketua Panitia Pelaksana Divisi Utama Liga Primer Indonesia Sportindo sebagai tersangka dan dijerat dengan pelanggaran ketertiban umum pasal 510 ayat 1 KUHP.

Lebih lanjut Sugeng menyampaikan, pada dua kasus diatas Polri bergerak cepat mengusut peristiwa pidana untuk membuat terang dengan menetapkan tersangkanya. “Tapi dalam peristiwa kematian dua bobotoh Sopiana Yusup dan Ahmad Solihin, Polda Jabar dan Polrestabes Bandung belum juga mengumumkan tersangkanya,” katanya.

Dalam kasus kematian suporter di Stadion GBLA Kota Bandung ini, IPW menilai tersangka bisa terancam penjara maksimal lima tahun pasal 359 KUHP juncto pasal 103 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Sistem Keolahragaan Nasional yang mencabut UU 3 Tahun 2005 dengan ancaman paling lama dua tahun.

Pasal 359 KUHP menyatakan: “barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun”.

Sementara pasal 103 UU keolahragaan Nasional menyebutkan: “penyelenggara kegiatan olahraga yang tidak memenuhi persyaratan teknis keolahragaan, kesehatan, keselamatan, ketentuan daerah setempat, keamanan, ketertiban umum, dan kepentingan publik sebagaimana dimaksud dalam pasal 52 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 Miliar”.

“Yang pasti, pihak kepolisian telah mengusut kasus kematian dua bobotoh tersebut dan karenanya harus dijelaskan pada publik hasil penyelidikan dan atau penyidikannya dengan segera. Hal ini harus menjadi perhatian Kapolri Jenderal Listyo Sigit sebagai pimpinan tertinggi Polri terhadap program yang dicetuskannya yakni Polri Presisi,” pungkas Ketua IPW Sugeng Teguh Santosa. *ferry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *