Ekbis  

Calon Pedagang Culinary Geruduk RW 14 Penjaringan

Para pedagang UMKM Pluit Culinary menggeruduk tempat usaha Ketua RW 14 Penjaringan, Jakarta Utara.

Jakarta – Setelah menggeruduk RW 12 Penjaringan, xalon pedagang Pluit Culinary Park Sabtu, (15/12) mendatangi Ketua RW 14 Penjaringan.

Kedatangan kelompok masyarakat UMKM yang berjumlah sekitar 30 orang itu dipimpin oleh Purwanto. K

Kelompok masyarakat UMKM itu menggeruduk tempat usaha milik Ketua RW 14, Riky, Rumah Makan Bakmi Abadi di Jalan Pluit Karang Timur Muara Karang Jakarta Utara. Kedatangan kelompok UMKM ini cukup mengejutkan pihak pengelola Rumah Makan Mie Abadi.

Sempat terjadi adu mulut antara pengunjung rumah makan dengan pihak UMKM. Para pengunjung merasa terganggu dengan kehadiran calon pedagang kuliner tersebut.

Namun suasana itu tidak berlangsung lama dan ketua RW 14 mengajak dialog warga UMKM di luar restoran.

Purwanto, perwakilan dari UMKM mempertanyakan kewenangan ketua RW 12 dan RW14 yang menghentikan proyek pembangunan Pluit Culinary Park tersebut.

“Tidak bisa seorang RW menghentikan proyek yang sudah mendapat izin dan wewenang Anda apa?” cetus Purwanto.

Menurutnya, proyek pembangunan Pluit Culinary Park milik Jakpro sudah punya IMB sehingga tak perlu diperdebatkan lagi.

“Terus terang dengan bapak menghentikan pembangunan ini secara sepihak kami merasa terganggu. Kok, seorang ketua RW bisa menghentikan pembangunan proyek ini?” sembur Purwanto.

Sementara itu, Ketua RW 14 Penjaringan, Riky, membantah tudingan telah melakukan tindakan penghentian pembangunan proyek Pluit Culinary.

“Tidak ada, kami setuju saja agar pengelolaan perparkiran berjalan baik dan tidak semrawut,” kata Riky.

“Lho, kalau gitu anggota dewan bersama RW 12 dan 14 sidak ke lokasi atas inisiatif siapa? Atau kurang kerjaan!” balas salah satu peserta UMKM dengan nada kesal.

Purwanto menambahkan, ketika pembangunan proyek Pluit Culinary di atas lahan 2,5 hektare baru dimulai sudah ada ketua RW yang selalu mengatasnamakan warga.

“Padahal warga yang mana tidak jelas. Justru warga di sini antusias mendukung dan merasa terganggu dengan kesemerawutan kewenangan RW yang merasa paling berkuasa dan bisa diatur pelanggarannya,” jelas Ketua Paguyuban Pemulung, Hasyim.

“Ada banyak biaya pungli yang diatur RW. Untuk pemasangan kanofi sampai ke depan jalan saja kena Rp20 juta, belum lagi biaya bulanan.”

“Ini dibangun aja belum sudah banyak ngoceh. Kalau Anda mau lihat gambar ada di kantor kecamatan. Lagi pula masalah perparkiran semrawut, justru saat ini lebih semrawut. Coba lihat kaki lima ini bapak buat dapur, dan semua got dicor habis dan kanopi dibangun sampai pinggir jalan. Mobil mau diparkir di mana?” beber Hasyim kepada Riky.

“Ya saya akui itu,” aku Riky pelan.

Lebih lanjut dalam pertemuan ini perwakilan UMKM lainnya juga mempertanyakan perihal beredarnya foto kegiatan proyek pembangunan Culinary di kalangan anggota DPRD.

Ada dugaan, pemotretan itu dilakukan atas perintah Ketua RW 12 meski kemudian dibantah oleh kepala keamanan RW 12.

“Catat ya, kegiatan kami ini legal. Acara syukuran dimulainya pembangunan saja dengan pemotongan tumpeng oleh Camat dan Lurah,” kata Purwanto.

“Jadi sebaiknya Ketua RW 12 dan 14 mengakui saja perbuatannya agar tidak menjadi polemik dan bumerang buat ketua RW,” imbuhnya lagi.

Purwanto juga meminta agar Ketua Rw 12 dan 14 tidak arogan dan tidak mengadu domba antara anggota dewan dengan Jakpro dan pihak UMKM.

“Kalau Anda tidak menciptakan suasana kondusif maka kami juga akan lebih bersikap tidak kondusif terhadap Anda,” tegasnya lagi. pin

Tinggalkan Balasan