Palembang,Topikonline.co.id– Halalbihalal masyarakat perantau Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) di Griya Agung, Palembang, Sabtu (25/4/2026), menjelma menjadi panggung besar konsolidasi tokoh nasional, kepala daerah, serta masyarakat asal lima provinsi di wilayah Sumbagsel. Lebih dari seribu peserta memadati acara yang berlangsung meriah, hangat, dan sarat gagasan strategis untuk masa depan kawasan.
Kegiatan bergengsi ini dihadiri sederet tokoh nasional asal Sumbagsel, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Hatta Rajasa, Aburizal Bakrie, Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari, Sultan Najamuddin Ketua DPDRI, H Oyong Damiri Pengusahasa asal Oku Timur, serta sejumlah tokoh penting lainnya.
Tak hanya itu, Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal TNI Ujang Darwis dan Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Sandi Nugroho turut hadir, menambah semarak pertemuan akbar tersebut. Para bupati dan wali kota dari seluruh wilayah Sumbagsel pun tampak memenuhi undangan.
Herman Deru: Jaga Akar Budaya, Perkuat Kolaborasi
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, yang mewakili lima gubernur se-Sumbagsel, menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, mempertemukan tokoh nasional, kepala daerah, dan masyarakat perantau merupakan langkah strategis untuk menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat jaringan pembangunan.
“Pertemuan ini mempererat hubungan dan memperkuat langkah bersama untuk memajukan daerah tanpa mengesampingkan wilayah lain,” ujar Herman Deru.
Ia menegaskan, banyak tokoh penentu kebijakan nasional berasal dari Sumbagsel. Karena itu, forum semacam ini dinilai penting sebagai wadah memperkuat sinergi demi percepatan pembangunan kawasan.
Tito Karnavian Dorong Program Nyata 2027-2029
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menekankan bahwa halalbihalal ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan forum strategis untuk merumuskan agenda pembangunan konkret.
Ia mengajak seluruh kepala daerah dan tokoh Sumbagsel untuk menyusun program prioritas yang realistis, terukur, dan dapat direalisasikan dalam kurun waktu 2027 hingga 2029.
“Semangat kedaerahan harus diarahkan menjadi energi positif melalui program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat,” tegas Tito.
Menurutnya, fokus pembangunan harus diarahkan pada capaian nyata yang dapat dirasakan masyarakat dalam waktu relatif singkat, yakni tiga tahun ke depan.
Zulhas: Satukan Kekuatan, Maksimalkan Potensi
Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang menjadi salah satu penggagas acara bersama Sufmi Dasco Ahmad, menilai Sumbagsel memiliki modal besar berupa sumber daya manusia dan sumber daya alam yang melimpah.
Potensi tersebut, kata dia, harus disinergikan untuk menciptakan lompatan kemajuan bagi daerah.
“Silaturahmi dan ikatan batin adalah kebutuhan. Ini momentum untuk menyatukan kekuatan agar mampu berkontribusi nyata bagi daerah tercinta,” kata Zulkifli.
Candaan Tito Pecahkah Suasana
Suasana semakin cair ketika Tito Karnavian mengenang masa kecilnya di Palembang. Dengan gaya khasnya, ia melontarkan candaan yang langsung disambut gelak tawa para hadirin.
“Malu kito, Pak, kalau ditanya orang, ngapoi bae jadi wong pusat selamo ini. Ini bukan feodalisme, tapi secara natural kita ingin berbuat sesuatu untuk tanah kelahiran,” ucap Tito.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa para putra daerah yang kini berada di level nasional memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membangun kampung halaman.
Momentum Strategis Bangun Sumbagsel
Halalbihalal perantau Sumbagsel tahun ini bukan sekadar reuni atau temu kangen. Lebih dari itu, forum ini menjadi simbol kuatnya persatuan, soliditas, dan komitmen para tokoh lintas generasi untuk membawa Sumbagsel semakin maju di kancah nasional.
Dengan kekuatan jejaring, pengalaman, dan pengaruh yang dimiliki, Sumbagsel diyakini mampu menjadi salah satu motor penggerak pembangunan Indonesia di masa mendatang.












