Nusakambangan,Topikonline.co.id– Pulau yang selama ini identik dengan penjara berisiko tinggi kini didorong menjadi laboratorium pembinaan produktif. Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto bersama Komisi XIII DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Nusakambangan, Selasa (10/2), dengan fokus meninjau program budidaya ikan sidat di Lapas Batu.
Kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Komisi XIII tengah membentuk Panitia Kerja (Panja) Pemasyarakatan untuk mengevaluasi dan mengawal arah kebijakan pembinaan narapidana. Tambak sidat menjadi salah satu etalase yang dipertontonkan: bagaimana lembaga pemasyarakatan diharapkan bertransformasi dari tempat menghukum menjadi pusat pemberdayaan.
“Kunjungan kerja ini dalam rangka Panja Pemasyarakatan yang dibuat oleh mitra kerja kami di Komisi XIII DPR RI. Kami dampingi untuk melihat apa yang kami lakukan selama melaksanakan tugas sebagai Menteri dan jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam membina Warga Binaan,” kata Agus di sela peninjauan.
Pemilihan sidat bukan tanpa alasan. Nusakambangan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia merupakan jalur alami pemijahan sidat. Komoditas ini dikenal bernilai ekonomi tinggi dan banyak diminati pasar ekspor, terutama Jepang. Selain itu, kandungan gizinya yang tinggi menjadikan sidat sebagai produk premium.
Di Lapas Batu, budidaya dilakukan secara modern. Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, menyebut sistem pengelolaan tambak telah memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan supervisi dari Jepang serta melibatkan masyarakat lokal.
“Yang sidat itu pakai AI, supervisinya dari Jepang, dan melibatkan masyarakat lokal. Jadi ada multi-layer effect, snowball effect. Dampaknya bukan hanya untuk Warga Binaan, tetapi juga warga sekitar dan jejaring ekonomi yang terhubung dengan lapas,” ujar Willy.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi ambisi program ini: bukan sekadar pelatihan kerja, tetapi menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan di sekitar kawasan pemasyarakatan.
Saat ini Lapas Batu memiliki 380 kolam budidaya. Penyebaran benih telah dilakukan di 20 kolam dengan kepadatan 20 ekor per meter kubik. Dengan luas kolam mencapai 300 meter persegi, total 6.000 benih sidat telah ditebar.
Angka ini masih tahap awal. Namun, jika produktivitas dan manajemen berjalan optimal, tambak sidat Nusakambangan berpotensi menjadi model nasional pembinaan berbasis agroindustri perikanan di lapas.
Kementerian Imipas menegaskan, program ini bagian dari komitmen memberdayakan Warga Binaan melalui keterampilan usaha produktif, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional dan 15 program aksi Kemenimipas.
Di tengah sorotan publik terhadap persoalan klasik pemasyarakatan—overkapasitas, keterbatasan anggaran, hingga isu tata kelola—program tambak sidat ini menjadi ujian konsistensi. DPR melalui Panja Pemasyarakatan diharapkan tak hanya mengapresiasi, tetapi juga memastikan keberlanjutan, transparansi anggaran, serta dampak riil bagi Warga Binaan.
Transformasi Nusakambangan dari simbol hukuman menjadi simbol produktivitas memang bukan perkara mudah. Namun jika pengawasan berjalan ketat dan program dikelola profesional, tambak sidat ini bisa menjadi bukti bahwa pembinaan bukan sekadar slogan, melainkan investasi sosial jangka panjang.












