Jakarta,Topikonline.co.id – Nanas selama ini identik dengan buah segar yang disantap atau diolah menjadi makanan. Namun di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, tanaman yang menjadi ikon daerah itu kini punya wajah baru.
Serat dari daun nanas disulap menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi, mulai dari tenun, songket, batik, tas hingga sepatu.
Inovasi tersebut dibawa Pemerintah Kota Prabumulih melalui Dekranasda Kota Prabumulih dalam Kriyanusa 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, 26–30 September 2026.
Pameran bertema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia” itu dibuka oleh istri Wakil Presiden, Selvi Ananda Putri.
Provinsi Sumatera Selatan menjadi salah satu ikon daerah dalam Kriyanusa 2026. Di bawah kepemimpinan Ketua Dekranasda Sumsel, Febrita Lustia Herman Deru atau Feby Herman Deru, periode 2025–2030, beragam produk kriya dari 13 kabupaten dan 4 kota di Sumsel diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas.
Prabumulih menjadi salah satu daerah yang mencuri perhatian.
Kota yang dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas tersebut juga memiliki identitas kuat sebagai kota nanas. Ikon itu bahkan diwujudkan dalam bentuk tugu nanas yang menjadi salah satu penanda Kota Prabumulih.
Kini, potensi nanas tidak lagi berhenti sebagai komoditas pangan.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Prabumulih H. Arlan, pemerintah daerah mendorong pemanfaatan serat nanas sebagai bahan baku industri kreatif untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Karena bahan bakunya melimpah, kita upayakan membuat songket, batik, sepatu dari serat nanas. Kita sangat fokus untuk Dekranasda ini karena kita yakin bisa mendongkrak perekonomian masyarakat Kota Prabumulih,” ujar Arlan.
Dari Daun Nanas Menjadi Produk Fesyen

Di stan Prabumulih, pengunjung dapat melihat langsung bagaimana serat nanas dikembangkan menjadi berbagai produk.
Ada tenun serat nanas, songket motif nanas, batik motif nanas, tas hingga sepatu.
Ketua Dekranasda Kota Prabumulih Linda Apriana Arlan mengatakan, ketersediaan bahan baku menjadi salah satu modal utama pengembangan kerajinan berbasis serat nanas.
“Bahan baku alhamdulillah untuk serat nanas kita berlimpah, karena memang Kota Prabumulih itu penghasil nanas,” katanya.
Produk-produk tersebut selama ini dipasarkan melalui jalur daring maupun luring. Keikutsertaan dalam berbagai pameran menjadi salah satu cara untuk memperluas pasar sekaligus memperkenalkan karya para perajin.
“Selama ini sistem pemasarannya masih online dan offline. Produk kerajinan ini juga sering kita bawa ke pameran-pameran seperti Kriyanusa,” ujar Linda.
Pemerintah daerah, kata dia, juga terus memberikan dukungan dalam bentuk pemasaran maupun pembinaan, meski masih menghadapi keterbatasan anggaran.
“Alhamdulillah selama ini sudah di-support pemerintah, walaupun dengan keterbatasan anggaran, baik dari segi pemasaran maupun pembinaan. Pemerintah sudah sangat support,” katanya.
Untuk kerajinan songket, saat ini terdapat sekitar lima perajin yang aktif mengembangkan produk tersebut, di antaranya Ianti Azizah, Rita dan Istina.
Sementara Wakil Ketua Dekranasda Kota Prabumulih Nuning Mulya Franky mengatakan inovasi terus dikembangkan agar serat nanas tidak hanya menjadi bahan tenun.
“Selain songket dan batik, kita juga ada produk tas dan sepatu, semuanya terbuat dari serat nanas,” ujarnya.
Kuliner Nanas Tak Ikut Dipamerkan
Prabumulih sebenarnya tidak hanya memiliki produk kerajinan berbasis nanas.
Beragam produk kuliner juga dikembangkan, seperti bolu gulung nanas, nastar, bolu lapis nanas hingga selai nanas.
Namun, produk makanan tersebut sengaja tidak dibawa ke Kriyanusa 2026 karena fokus keikutsertaan Prabumulih adalah sektor kerajinan.
“Karena ini pameran Kriyanusa, kerajinan yang kita tampilkan. Jadi produk kuliner tidak kita bawa,” kata Linda.
Ia menegaskan, seluruh produk yang dipamerkan merupakan karya asli perajin Kota Prabumulih.
“Ini asli kerajinan Kota Prabumulih,” tegasnya.
Membuka Jalan ke Pasar Internasional

Bagi Dekranasda Prabumulih, Kriyanusa 2026 bukan sekadar ajang memajang produk.
Pameran tersebut menjadi momentum untuk mempertemukan karya perajin lokal dengan pasar yang lebih luas, sekaligus menguji sejauh mana produk berbasis potensi daerah mampu bersaing di pasar nasional.
Nuning berharap karya para perajin Prabumulih semakin dikenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar internasional.
“Harapan kami, hasil karya para perajin kami semakin dikenal di kancah nasional maupun internasional,” katanya.
Linda pun berharap produk Prabumulih suatu saat dapat mengikuti pameran hingga ke luar negeri.
“Kalau bisa sampai ke luar daerah, bahkan sampai ke luar negeri,” ujarnya.
Namun, rencana tersebut tetap harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran dan program pemerintah.
“Keinginan ada, tapi lihat lagi anggarannya. Doa aja ya,” kata Linda sambil tersenyum.
Kriyanusa 2026 menghadirkan 257 peserta dengan sekitar 410 stan, yang terdiri atas Dekranasda provinsi hingga kabupaten/kota, kementerian/lembaga, yayasan, pelaku UMKM hingga sektor kuliner.
Bagi Prabumulih, panggung Kriyanusa menjadi bukti bahwa kekayaan alam tidak harus berhenti sebagai komoditas mentah.
Dari daun nanas lahir serat. Dari serat lahir karya. Dan dari karya, terbuka peluang baru untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Di tangan para perajin Prabumulih, nanas tak lagi sekadar buah. Ia sedang naik kelas menjadi identitas, kreativitas, dan produk bernilai ekonomi.












