Berita  

Kapolda Maluku Dengar Langsung Keluhan Warga di Gereja GPM Rehoboth

TOPIKONLINE.CO.ID – MALUKU: Kapolda Maluku Irjen Pol. Suwondo Nainggolan membuka ruang kritik terhadap institusi Polri saat menemui warga dalam kegiatan Mangente Kamtibmas Bersama Pemuda Kudamati di Gereja GPM Rehoboth, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, pada Rabu (4/11/2026).

Di hadapan jemaat, pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga para Ketua RT dan RW, berbagai persoalan kepolisian mencuat. Mulai dari netralitas anggota, dugaan praktik percaloan SIM, pemberantasan narkoba, hingga pembinaan generasi muda.

Pertemuan yang mengusung semangat “Polisi Bersama Masyarakat” itu menjadi kesempatan bagi warga untuk menyampaikan kritik sekaligus menagih pelayanan kepolisian yang lebih transparan, profesional, dan tidak diskriminatif.
Suwondo menegaskan, membangun kepercayaan publik tidak cukup dengan menjaga keamanan dan menegakkan hukum. Polisi harus berani mendengar keluhan masyarakat dan menjadikannya dasar pembenahan institusi.

“Saya tidak ingin terlalu banyak berbicara. Saya justru ingin lebih banyak mendengarkan keluhan, masukan, usulan, serta ide-ide dari Bapak dan Ibu sekalian. Semua yang disampaikan akan menjadi bahan untuk dibahas bersama staf agar bisa ditindaklanjuti dalam program kerja kepolisian,” tegasnya.

Menurutnya, kebijakan kepolisian tidak boleh hanya lahir dari perspektif internal organisasi. Program kerja harus berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah profesionalisme dan netralitas anggota Polri. Warga berharap polisi tidak memihak dalam menangani persoalan maupun konflik sosial.
Suwondo menegaskan, anggota Polri wajib bertindak objektif dan berpedoman pada hukum. Personel yang terbukti berpihak kepada pihak tertentu dalam penanganan persoalan akan diproses sesuai ketentuan disiplin, kode etik, maupun hukum yang berlaku.

Persoalan pelayanan penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM) juga menjadi sorotan. Seorang perwakilan jemaat mengeluhkan tahapan ujian SIM yang dinilai masih menghadapi kendala, sekaligus menyinggung dugaan praktik percaloan yang menawarkan kemudahan melalui jalur tidak resmi dengan biaya lebih mahal.

Menanggapi hal tersebut, Kapolda memastikan akan mengevaluasi pelayanan penerbitan SIM di jajaran Satuan Lalu Lintas.

Ia menegaskan, tidak boleh ada praktik percaloan maupun pungutan liar dalam pelayanan publik. Seluruh proses penerbitan SIM harus berjalan transparan, profesional, dan sesuai prosedur.

Tak hanya pelayanan, Kapolda juga menyoroti ancaman narkoba, termasuk kemungkinan penyalahgunaan di lingkungan internal kepolisian.

Ia memastikan tes urine akan dilakukan secara berkala terhadap seluruh personel Polda Maluku. Anggota yang belum menjalani pemeriksaan akan ditelusuri dan diminta mengikuti tes hingga kewajibannya terpenuhi.

Irjen Suwondo juga mengungkapkan telah berkoordinasi dengan BNN, Bea dan Cukai, serta TNI untuk memperkuat pengawasan dan mempersempit celah masuknya narkotika ke wilayah Maluku.

Menurutnya, pemberantasan narkoba tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum. Masyarakat juga harus berani memberikan informasi apabila menemukan indikasi penyalahgunaan maupun peredaran gelap narkotika.

Di bidang keamanan wilayah, warga mengapresiasi situasi Kamtibmas di Kecamatan Nusaniwe yang selama ini dinilai terjaga. Mereka berharap pergantian kepemimpinan di tingkat Polsek tidak menghentikan program positif yang telah berjalan.

Kapolda meminta Kapolsek Nusaniwe AKP Rudi mempertahankan capaian tersebut sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja hingga dua kali lebih baik dari kepemimpinan sebelumnya.

“Pergantian pimpinan harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas pelayanan, menghadirkan inovasi, dan memperkuat kedekatan dengan masyarakat,” menjadi penekanan Kapolda dalam pertemuan tersebut.

Selain persoalan keamanan, warga turut meminta dukungan kepolisian terhadap pengembangan potensi generasi muda, khususnya di bidang seni, tarik suara, dan kreativitas.

Suwondo menyatakan dukungannya terhadap kegiatan positif tersebut. Ia bahkan memperkenalkan lagu ciptaannya berjudul “Beta Maluku” sebagai ungkapan kecintaan terhadap daerah dan masyarakat Maluku.

Kapolda juga menyatakan kesiapan membantu pembinaan anak-anak muda Maluku yang ingin mengikuti seleksi penerimaan anggota TNI. Pelatihan dapat difasilitasi dengan memanfaatkan Lapangan Tahapary untuk meningkatkan kemampuan fisik, kedisiplinan, dan kesiapan peserta.

Dalam kesempatan itu, ia turut menyinggung informasi penerimaan sekitar 12.000 personel TNI dan berharap generasi muda Maluku dapat memanfaatkan peluang tersebut melalui seleksi sesuai ketentuan.

Sementara itu, panitia Hari-Hari Besar Gerejawi Jemaat GPM Rehoboth menyampaikan rencana pembangunan panggung untuk pemasangan pohon Natal dan kegiatan gerejawi. Mereka meminta dukungan karena lokasi pembangunan berpotensi memengaruhi jangkauan kamera pengawas atau CCTV milik Polda Maluku.

Kapolda menyambut baik rencana tersebut dan meminta Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease memfasilitasi kebutuhan panitia dengan tetap memperhatikan fungsi pengawasan keamanan.

Dalam dialog tersebut, Suwondo turut menyoroti potensi besar Maluku, terutama sektor perikanan dan pengembangan proyek strategis Blok Masela. Ia berharap masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi memiliki kesempatan mengambil bagian melalui peningkatan keterampilan, pengembangan usaha, dan kesempatan kerja.

Menurutnya, keamanan dan pembangunan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Situasi yang kondusif menjadi fondasi bagi masyarakat untuk bekerja, berusaha, serta mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Kapolda yang menerima amanah memimpin Polda Maluku sejak 6 Oktober 2026 itu menegaskan, kehadiran polisi tidak boleh hanya dirasakan ketika terjadi gangguan keamanan. Polri harus hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui pelayanan, perlindungan, komunikasi, dan kemitraan berkelanjutan.

Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi mengatakan, kegiatan Mangente merupakan bagian dari komitmen membangun komunikasi dua arah sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.

Menurutnya, pendekatan humanis harus dibuktikan melalui keterbukaan menerima kritik, kesediaan mendengarkan aspirasi, dan kesungguhan menindaklanjuti persoalan yang disampaikan warga.

“Mangente bukan sekadar kegiatan silaturahmi, tetapi menjadi ruang komunikasi dua arah agar masyarakat dapat menyampaikan aspirasi, kritik, maupun harapan secara terbuka kepada kepolisian. Setiap masukan akan menjadi bahan evaluasi dan dikoordinasikan dengan satuan kerja terkait untuk ditindaklanjuti sesuai tugas dan kewenangannya,” jelas Rositah.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, gereja, pemuda, tokoh adat, serta lingkungan RT dan RW, untuk terus membangun komunikasi dan berkolaborasi menjaga Kamtibmas.

“Kami berkomitmen terus meningkatkan profesionalisme, memperbaiki pelayanan, dan hadir secara responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Kegiatan Mangente Kamtibmas yang berlangsung pukul 14.30 hingga 16.30 WIT itu ditutup dengan foto bersama. Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan terkendali. (Amin)