TOPIKONLINE, JAKARTA – Gelombang demonstrasi anarkis yang terjadi di Jakarta pada 25–31 Agustus 2025 berakhir dengan penangkapan besar-besaran. Polda Metro Jaya mencatat sedikitnya 1.240 orang diamankan, terdiri dari 629 anak-anak dan 611 orang dewasa.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, mengungkapkan bahwa mayoritas anak-anak yang ikut diamankan ternyata datang dari luar Jabodetabek. Mereka berasal dari Indramayu, Cirebon, Purwakarta, Cianjur, Serang, Bekasi hingga Depok. “Mereka terpengaruh hasutan dari media sosial untuk turun ke Jakarta dan ikut dalam aksi di depan Gedung DPR/MPR RI. Sayangnya, aksi itu justru berujung anarkis,” kata Ade Ary, Kamis (4/9/2025).

Kerusuhan terjadi di empat titik: kawasan Gelora Bung Karno termasuk Gedung DPR/MPR, Mapolsek Cipayung, Mapolsek Matraman, serta sebuah mal di Jakarta. Akibatnya, kerugian melambung tinggi. Pemprov DKI mencatat kerusakan fasilitas umum sebesar Rp80 miliar, sementara Polda Metro menghitung total kerugian mencapai Rp180 miliar, mencakup 3.430 unit peralatan aparat, 108 kendaraan, serta 76 bangunan kepolisian yang rusak.
Tak hanya itu, polisi juga menetapkan 43 orang sebagai tersangka. Mereka terbagi dalam dua klaster: 6 orang penghasut, serta 38 orang perusak dan penjarah. Satu orang kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), sementara satu tersangka lain ditangani Dit Siber karena diduga mengendalikan jaringan media sosial yang mampu mempengaruhi hingga 10 juta orang untuk ikut aksi.

Meski jumlah yang diamankan cukup besar, polisi menegaskan bahwa mereka yang tidak terbukti bersalah telah dipulangkan. “Semua anak yang diamankan tetap mendapat perlindungan dengan melibatkan KPAI serta orang tua mereka,” jelas Ade Ary.
Kasus ini menjadi alarm keras betapa rentannya anak-anak terprovokasi oleh arus informasi digital yang tak terkendali, hingga terseret dalam aksi massa yang berujung kerusuhan. (Iwan)












