Warga Desa Tarahan Keluhkan Dugaan Limbah PT Indo Thai Coco Investama: Sumur Keruh, Ikan Mati hingga Sesak Napas

warga Desa Tarahan,saat menyampaikan keluhan dampak limbah PT Indo Thai Coco Investama (ITCI) kepada media,Foto:ist/TPK

Lampung,Topikonline.co.id— Keluhan warga Desa Tarahan, terhadap aktivitas PT Indo Thai Coco Investama (ITCI) kian memanas. Warga yang tinggal di kawasan pinggir laut mengaku terdampak dugaan pembuangan limbah perusahaan yang disebut mengalir ke saluran lingkungan hingga bermuara ke laut.

Sedikitnya 10 kepala keluarga (KK) mengaku terdampak langsung. Mereka menyatakan sudah tidak tahan dengan kondisi lingkungan yang, menurut kesaksian warga, mengalami perubahan sejak aktivitas pembuangan limbah tersebut berlangsung.

Sejumlah persoalan yang dikeluhkan warga antara lain air sumur berubah menjadi keruh dan berbau sehingga tidak lagi layak digunakan maupun dikonsumsi. Warga juga mengaku mengalami keluhan kesehatan berupa gatal-gatal dan sesak napas.

Dampak lainnya disebut terjadi pada lingkungan sekitar. Ikan di kolam warga dilaporkan mati, sementara tanaman dan kondisi tanah di sekitar permukiman juga mengalami kerusakan.

“Air sumur menjadi keruh, bau, tidak layak dipakai dan tidak layak diminum. Selain itu ada warga yang mengalami gatal-gatal dan sesak napas. Ikan di kolam mati, tanaman serta tanah juga terdampak,” ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Warga juga mengeluhkan kondisi lingkungan yang disebut menjadi lebih kotor, berbau dan kumuh.

Yang paling dipersoalkan warga adalah dugaan pembuangan limbah cair dan padat melalui saluran terbuka. Warga mengaku melihat sendiri aliran limbah tersebut masuk ke selokan yang kemudian mengarah ke kawasan laut.

Warga juga menduga PT ITCI belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang layak, namun perusahaan disebut sudah menjalankan aktivitas operasional.

Atas kondisi tersebut, warga meminta pihak perusahaan segera menghentikan pembuangan limbah yang diduga mencemari lingkungan serta membangun IPAL yang memenuhi ketentuan dan perizinan lingkungan.

“Kami meminta perusahaan menghentikan segera pembuangan limbah dan membangun IPAL yang layak serta berizin,” tegas warga.

Tak hanya kepada perusahaan, warga juga mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) turun langsung ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan dan mengambil sampel lingkungan secara objektif.

Warga meminta pemerintah tidak hanya menerima laporan di atas meja, tetapi melihat langsung kondisi permukiman dan saluran yang diduga menjadi jalur pembuangan limbah.

Mereka juga meminta apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran, pemerintah memberikan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Selain penghentian pembuangan limbah dan penanganan lingkungan, warga menyatakan akan meminta kompensasi atas kerugian yang mereka klaim timbul akibat dampak pencemaran, termasuk kerusakan lingkungan dan gangguan terhadap kesehatan warga.

Warga mengaku telah mengumpulkan sejumlah bukti berupa foto, video serta keterangan dari warga yang disebut terdampak langsung.

“Kami memiliki bukti lengkap berupa video, foto dan saksi warga yang terdampak. Kami meminta pihak terkait segera turun tangan mengatasi persoalan ini,” ujar warga.

PT Indo Thai Coco Investama (ITCI) sendiri diketahui bergerak di bidang manufaktur dan perdagangan dengan fokus pada pengolahan produk turunan kelapa secara terintegrasi serta mengusung konsep eco-friendly dan zero waste. Kantor pusat perusahaan berada di kawasan Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Hingga berita ini disusun, dugaan warga terkait pembuangan limbah, kondisi IPAL, serta dampak terhadap lingkungan dan kesehatan tersebut masih memerlukan verifikasi dan pemeriksaan langsung dari instansi berwenang.

Konfirmasi dari pihak PT Indo Thai Coco Investama maupun Dinas Lingkungan Hidup terkait legalitas pengelolaan limbah, keberadaan dan kapasitas IPAL, hasil uji kualitas air serta dugaan pencemaran tersebut penting untuk memastikan duduk persoalan secara berimbang.

Warga berharap persoalan tersebut segera ditangani sebelum dampaknya meluas.

“Yang kami minta hanya lingkungan kami tidak dirusak. Pihak terkait harus segera mengatasi dugaan pembuangan limbah yang dialirkan ke laut,” tutup warga.