Jakarta,Topikonline.co.id-Ada sebuah pesan besar yang diwariskan para pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928: kita boleh berbeda suku, bahasa, budaya, dan asal daerah, tetapi kita tidak boleh kehilangan persatuan.
Di sebuah rumah di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara menanggalkan sekat-sekat kedaerahan. Mereka tidak lagi berdiri hanya sebagai orang Jawa, Sumatera, Sulawesi, atau daerah lainnya. Mereka menyatukan tekad sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa: Indonesia.
Sumpah itu lahir jauh sebelum Indonesia merdeka. Namun, semangatnya tetap hidup hingga hari ini.
Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026, kita tidak cukup hanya mengenang sejarah atau menggelar upacara seremonial. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita meneruskan perjuangan para pemuda 1928 untuk Indonesia hari ini dan masa depan?
Sebagai putra Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) yang merantau dan berjuang di tanah orang, saya memandang Sumpah Pemuda bukan sekadar ikrar bersejarah. Ia adalah panggilan untuk menjaga persatuan, merawat identitas, dan membuktikan kecintaan kepada bangsa melalui karya nyata.
Sumbagsel: Berbeda Asal, Tetap Satu Tujuan
Sumatera Bagian Selatan menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa. Ada Melayu Palembang, Semendo, Ogan, Besemah, Komering, masyarakat Lampung Pepadun dan Saibatin, Serawai Bengkulu, hingga masyarakat Bangka Belitung dengan tradisi dan karakter masing-masing.
Kami memiliki logat, adat, dan kebiasaan yang berbeda. Namun, ketika berada di tanah perantauan, perbedaan itu justru menjadi jembatan untuk saling mengenal, membantu, dan menguatkan.
Di situlah makna persatuan menemukan bentuknya.
Bagi saya, Sumbagsel adalah gambaran kecil tentang Indonesia: beragam, kaya identitas, tetapi memiliki ruang untuk berjalan bersama.
Sumpah Pemuda tidak pernah menuntut kita menghapus asal-usul. Sebaliknya, kita diajak untuk merawat identitas daerah tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
Di tengah derasnya arus informasi, maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan pertengkaran di media sosial, pesan ini semakin relevan. Perbedaan pilihan tidak seharusnya memutus persaudaraan. Perbedaan pendapat tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan.
Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai kehilangan rasa kebangsaan.
Sebab, Indonesia tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat, melainkan oleh mereka yang bersedia menempatkan kepentingan bersama di atas ego kelompok.
Bahasa Indonesia Menyatukan, Bahasa Daerah Menguatkan Akar
Salah satu warisan penting Sumpah Pemuda adalah kebanggaan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia memungkinkan kita berkomunikasi melintasi pulau, budaya, dan latar belakang. Dengannya, kita dapat belajar bersama, bekerja sama, dan membawa gagasan daerah ke panggung nasional maupun internasional.
Namun, kecintaan terhadap Bahasa Indonesia tidak berarti kita harus melupakan bahasa ibu.
Bahasa Melayu Palembang, bahasa Lampung, bahasa daerah Bengkulu, serta bahasa dan dialek yang hidup di Bangka Belitung merupakan bagian dari kekayaan budaya yang patut dijaga.
Jangan sampai generasi muda merasa malu menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Jangan sampai anak-anak kita lebih mengenal budaya luar, tetapi justru asing terhadap bahasa, cerita rakyat, dan kearifan lokal yang diwariskan orang tua mereka.
Pemuda yang berwawasan luas bukanlah pemuda yang tercerabut dari akarnya. Ia mampu berbicara dengan dunia tanpa melupakan tempat asalnya.
Bahasa persatuan mempertemukan kita sebagai bangsa, sementara bahasa daerah menjaga ingatan kita terhadap akar budaya.
Karena itu, merawat bahasa daerah bukanlah langkah mundur. Justru itulah cara kita memastikan bahwa kemajuan tidak menghapus identitas dan modernisasi tidak memutus hubungan antargenerasi.
Sumpah Pemuda Harus Dibuktikan dengan Karya
Para pemuda tahun 1928 tidak berhenti pada kata-kata. Mereka membangun organisasi, menyebarkan gagasan, menerbitkan tulisan, dan menggerakkan kesadaran kebangsaan.
Mereka bekerja dengan keterbatasan, tetapi memiliki keberanian untuk memikirkan masa depan bangsa.
Kini, tantangan generasi muda berbeda. Kita hidup di tengah perkembangan teknologi, persaingan ekonomi, perubahan dunia kerja, dan derasnya arus digital. Kesempatan terbuka luas, tetapi tuntutan untuk beradaptasi juga semakin besar.
Karena itu, Sumpah Pemuda 2026 tidak cukup diperingati dengan upacara, slogan, atau unggahan di media sosial. Semangatnya harus hadir dalam tindakan sehari-hari.
Pemuda Sumbagsel harus berani mengambil peran.
Jadilah petani modern yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Jadilah nelayan tangguh yang menjaga kelestarian laut dan mengembangkan hasil perikanan. Jadilah pengusaha UMKM yang membawa pempek Palembang, kopi Semendo, lempah kuning, kemplang, dan berbagai produk unggulan daerah menembus pasar nasional hingga internasional.
Jadilah aparatur negara yang jujur, anggota Polri yang mengayomi, pemimpin yang amanah, serta wakil daerah yang sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Bagi pemuda yang belum mendapatkan pekerjaan, jangan kehilangan harapan. Teruslah mengasah keterampilan, membangun jejaring, dan mencari peluang. Bagi mereka yang telah memiliki usaha, bukalah kesempatan agar orang lain juga dapat tumbuh.
Kita perlu bergerak dari sekadar mencari peluang menjadi berani menciptakan peluang, dari hanya menjadi penonton menjadi bagian dari solusi.
Dalam konteks itu, Gerakan 100 Ribu Sultan Muda yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dapat menjadi salah satu ruang untuk mendorong lahirnya wirausaha muda, sepanjang diikuti pembinaan, akses permodalan, pendampingan, dan kesempatan pasar yang nyata.
Sebab, membangun generasi muda bukan hanya soal membangkitkan semangat. Kita juga harus membuka jalan agar semangat itu dapat berkembang menjadi kemampuan, usaha, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
Pemuda tidak cukup hanya menjadi kebanggaan daerah. Pemuda harus menjadi kekuatan yang memberi manfaat bagi daerah dan bangsanya.
Perantauan Bukan Alasan Melupakan Kampung Halaman
Bagi kami, pemuda Sumbagsel yang merantau ke Jakarta, Bogor, Bekasi, dan berbagai wilayah Nusantara, bahkan hingga ke luar negeri, kampung halaman selalu memiliki tempat tersendiri di hati.
Ada kenangan tentang keluarga, bahasa ibu, tradisi, dan kehidupan yang membentuk siapa diri kita hari ini.
Namun, kerinduan kepada kampung halaman tidak boleh berhenti sebagai kenangan. Kerinduan itu harus menjadi energi untuk berbuat sesuatu.
Kita dapat membantu mempromosikan produk UMKM daerah, membuka jaringan usaha, berbagi pengetahuan, mendukung pendidikan generasi muda, serta memperkenalkan budaya Sumbagsel kepada masyarakat yang lebih luas.
Kita juga perlu memperkuat komunikasi, silaturahmi, dan gotong royong antarsesama perantau tanpa menutup diri dari masyarakat lain.
Jangan sampai kita hanya bangga menyebut nama daerah, tetapi lupa berkontribusi bagi kemajuannya.
Kecintaan kepada kampung halaman tidak harus dibuktikan dengan selalu berada di sana. Ia juga dapat diwujudkan melalui manfaat yang kita hadirkan, di mana pun kita berada.
Bagi saya, inilah makna menjadi pemuda Sumbagsel: membawa nilai-nilai daerah sebagai bekal untuk berkontribusi bagi Indonesia.
Dari Sumbagsel, Menjaga Indonesia, Menyongsong Indonesia Emas 2045
Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud hanya dengan harapan. Ia membutuhkan generasi yang berkarakter, berpendidikan, terampil, kreatif, dan memiliki kepedulian sosial.
Pemuda hari ini adalah bagian penting dari perjalanan menuju masa depan tersebut. Karena itu, persatuan harus dijaga, kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan, dan kesempatan untuk berkarya harus diperluas.
Kita tidak boleh membiarkan perbedaan menjadi sumber perpecahan. Kita juga tidak boleh membiarkan potensi generasi muda terhambat oleh kurangnya kesempatan, lemahnya akses, atau hilangnya semangat untuk berkembang.
Dari Sumbagsel, kita belajar bahwa identitas daerah dan kecintaan terhadap Indonesia dapat berjalan beriringan. Kita bisa bangga menjadi orang Palembang, Semendo, Ogan, Besemah, Lampung, Bengkulu, atau Bangka Belitung, sekaligus berdiri tegak sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Pada Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026, izinkan saya mengajak seluruh pemuda Sumbagsel untuk memperbarui tekad:
Kami akan menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Kami akan merawat budaya dan bahasa daerah tanpa melupakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Kami akan memperkuat silaturahmi, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.
Kami akan terus belajar, berinovasi, membangun usaha, membuka peluang, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
Kami akan membawa nama baik Sumbagsel melalui tindakan, integritas, dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Sebab, Sumpah Pemuda bukan hanya warisan sejarah yang kita kenang setiap 28 Oktober. Ia adalah tanggung jawab yang harus kita hidupkan setiap hari.
Dari Sumbagsel untuk Indonesia. Dari persatuan menuju kemajuan. Dari semangat menjadi karya nyata.
Selamat Hari Sumpah Pemuda 2026!
Hidup Pemuda Sumbagsel!
Hidup Pemuda Indonesia!
Sumbagsel Maju, Indonesia Emas 2045.
Oyong Damiri
Jakarta, 28 Oktober 2026












