Industri Mamin Tumbuh 6,77 Persen, Krista InterFOOD 2026 Bidik Peluang Pasar Global

Industri makanan dan minuman tumbuh 6,77% pada semester I 2026, tetapi ekspansi global masih menghadapi tantangan biaya logistik, mutu, dan konsistensi pasokan. KRISTA InterFOOD 2026 mempertemukan 1.100 peserta untuk membuka peluang kemitraan dan memperluas akses pasar produk nasional.

Topikonline.co.id, Jakarta — Pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) nasional membuka peluang bisnis yang semakin besar, tetapi ekspansi pasar masih membutuhkan penguatan kualitas produk, konsistensi pasokan, teknologi pengolahan, hingga akses distribusi. Di tengah tantangan tersebut, KRISTA InterFOOD 2026 diarahkan menjadi penghubung antara produsen, distributor, peritel, dan pembeli internasional.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan industri mamin tumbuh 6,77 persen pada semester I 2026. Sektor ini juga berkontribusi 41,86 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.

Menurut Putu, capaian tersebut memperlihatkan besarnya peran industri mamin dalam perekonomian sekaligus potensi yang masih dapat dikembangkan, terutama melalui peningkatan nilai tambah produk dan perluasan pasar ekspor.

“Industri mamin ini tidak bisa dikatakan tidak berkontribusi besar. Peluang ini perlu dioptimalkan,” ujarnya dalam konferensi pers KRISTA InterFOOD 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Pemerintah menargetkan ekspor industri mamin mencapai 83,68 miliar dolar AS pada 2029. Untuk mengejar target tersebut, pelaku industri perlu memperkuat keterkaitan antarpelaku usaha, meningkatkan kualitas produk, serta menembus pasar yang lebih beragam.

Putu menyebut Kanada, Meksiko, Cile, Rusia, India, Inggris, Afrika Selatan, Mesir, dan Uni Emirat Arab sebagai sejumlah pasar yang dapat dijajaki untuk memperluas jangkauan produk Indonesia.

Namun, ekspansi tersebut tidak cukup hanya mengandalkan kapasitas produksi. Biaya logistik dan pemenuhan standar internasional masih menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui kerja sama pemerintah dan dunia usaha.

Perluas Akses Pasar dan Kemitraan

Dalam konteks itu, KRISTA InterFOOD 2026 akan digelar pada 4–7 November 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Banten.

Memasuki penyelenggaraan ke-27, pameran yang digelar Krista Exhibitions tersebut akan menempati 11 hall dengan luas sekitar 60.000 meter persegi. Penyelenggara menargetkan 1.100 peserta, termasuk 100 UMKM, dari 16 negara, serta 95.000 pengunjung profesional dari 30 negara.

Chief Executive Officer Krista Exhibitions Group Daud D. Salim mengatakan pemindahan lokasi ke NICE PIK 2 dilakukan karena kebutuhan ruang pameran terus meningkat.

Pada penyelenggaraan sebelumnya di JIExpo Kemayoran, Jakarta, luas area pameran mencapai sekitar 41.000 meter persegi, termasuk tenda tambahan untuk menampung kegiatan kompetisi.

“Tahun ini menggunakan gedung NICE PIK 2 dengan luas sekitar 60.000 meter persegi. Seluruh area pameran berada di dalam ruangan dan dilengkapi pendingin udara,” kata Daud.

Meski demikian, skala pameran bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Bagi industri, nilai ekonominya terletak pada peluang transaksi, terbentuknya kemitraan, dan terbukanya akses terhadap pasar baru.

KRISTA InterFOOD 2026 akan menghadirkan program business matching yang mempertemukan peserta pameran dengan calon pembeli, distributor, serta mitra bisnis. Kegiatan tersebut juga mencakup pertemuan bisnis bersama anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Paviliun Thailand, dan sejumlah asosiasi industri.

Pameran ini diselenggarakan bersamaan dengan Seafood Show Asia Expo dan ALL Indonesia Cooltech Expo. Ketiganya mencakup sektor makanan dan minuman, hasil laut, serta teknologi pendinginan dan rantai dingin (cold chain).

Integrasi tersebut membuka ruang bagi pelaku usaha untuk menjajaki kebutuhan dari hulu ke hilir, mulai dari bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi produk.

IKM Harus Masuk Rantai Pasok Industri Besar

Perluasan pasar juga menjadi pekerjaan rumah bagi industri kecil dan menengah (IKM), terutama dalam membangun kemitraan dengan perusahaan besar dan jaringan hotel, restoran, serta kafe (Horeka).

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan pameran dapat menjadi pintu masuk bagi produk IKM untuk memperoleh pembeli dan terhubung dengan rantai pasok yang lebih luas.

Menurut dia, produk unggulan IKM perlu memperoleh kesempatan untuk masuk ke pasar Horeka maupun menjadi pemasok bagi industri berskala besar.

“Harapannya, dengan kepesertaan yang hampir seribu perusahaan, ada produk IKM yang bisa masuk dan terhubung dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

Salah satu program yang dihadirkan adalah Indonesia Food Innovation (IFI) 2026: Intermediate Product Edition, yang mengangkat inovasi produk antara berbasis sumber daya lokal.

Program tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperkenalkan produk, tetapi juga mendorong inovasi yang memiliki kelayakan pasar, potensi keuntungan, dan keberlanjutan usaha.

Reni menekankan, kemitraan antara IKM dan industri besar harus dibangun secara seimbang. Persoalan konsistensi mutu, kapasitas produksi, dan harga perlu diselesaikan bersama agar hubungan pemasok dan pembeli dapat berlangsung berkelanjutan.

“Kalau industri kecil terus ditekan dari sisi harga, kemitraan tidak akan menjadi kerja sama yang saling menguntungkan,” katanya.

Karena itu, Kemenperin mendorong penguatan program business matching dan link and match dengan melibatkan industri besar, asosiasi, penyelenggara pameran, serta perwakilan IKM.

Ritel dan Rantai Dingin Jadi Bagian Penting

Dari sisi hilir, Ketua Umum APRINDO Solihin menilai industri makanan dan minuman memiliki posisi penting dalam bisnis ritel karena produknya merupakan kebutuhan yang terus dicari konsumen.

Menurut dia, konsumen tidak hanya mempertimbangkan rasa, tetapi juga kualitas, harga, kepraktisan, dan keamanan produk. Sementara itu, pelaku usaha membutuhkan akses pasar yang lebih luas agar produk dapat menjangkau lebih banyak konsumen.

Pameran industri, kata Solihin, menjadi salah satu sarana mempertemukan kebutuhan tersebut dengan kapasitas produsen.

Namun, peluang pasar harus diikuti peningkatan kualitas, konsistensi produksi, kemasan, serta standar keamanan pangan. Tanpa kesiapan tersebut, produk berpotensi kesulitan memenuhi kebutuhan jaringan distribusi yang lebih besar.

Penguatan rantai pasok juga mencakup teknologi penyimpanan dan distribusi. Ketua Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) menyebut teknologi pendinginan berperan penting dalam menjaga mutu hasil perikanan dan mengurangi pemborosan pangan.

Produk beku, menurut dia, dapat tetap mempertahankan kualitas apabila proses pembekuan dilakukan dengan cepat setelah penangkapan dan ditangani sesuai standar.

Persoalan ini relevan bagi industri pangan yang memerlukan pengendalian suhu selama penyimpanan maupun pengiriman, terutama untuk produk yang mudah rusak.

Inovasi Harus Berujung pada Nilai Ekonomi

Selain memperluas pasar, pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian dari penguatan industri mamin.

Sekretaris Jenderal Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Stephanus Indrayana menilai KRISTA InterFOOD dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk melihat perkembangan produk, bahan baku, teknologi, dan kebutuhan pasar.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Boga Indonesia (IKABOGA) Retno Multiarti menyoroti pentingnya pelatihan dan sertifikasi kompetensi untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja serta pelaku usaha di bidang boga.

IKABOGA, yang memiliki sekitar 10.000 anggota di berbagai provinsi, juga mendorong pengembangan keterampilan dan pembinaan UMKM melalui pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri.

Rangkaian KRISTA InterFOOD 2026 mencakup lebih dari 40 program, antara lain kompetisi kuliner internasional, seminar industri, pelatihan, dan pertemuan bisnis.

Bagi industri mamin nasional, tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi, investasi, dan perluasan jaringan tersebut menghasilkan peningkatan produktivitas serta transaksi yang berkelanjutan.

Dengan pertumbuhan industri yang masih positif, peluang pasar terbuka. Namun, kemampuan menjaga mutu, memenuhi standar, membangun rantai pasok, dan menawarkan produk dengan harga kompetitif akan menentukan sejauh mana produsen nasional dapat memanfaatkan peluang tersebut.