Dirjenpas Turun ke Merauke Usai Lapas Terbakar,Prioritaskan Perbaikan Lapas.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, turun langsung meninjau kondisi lapas Merauke sekaligus mengevaluasi insiden yang terjadi,Sabtu 10/10,Foto:ist

Merauke,Topikonline.co.id– Kerusuhan yang berujung kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Merauke, Papua Selatan, menyisakan pekerjaan besar bagi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas). Hingga Sabtu (10/10/2026), empat dari 46 warga binaan yang sempat melarikan diri masih berada di luar lapas.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, turun langsung meninjau kondisi lapas sekaligus mengevaluasi insiden yang terjadi pada Jumat pagi tersebut. Ia memastikan, 42 warga binaan telah kembali ke dalam lapas, sedangkan empat lainnya masih dalam pengejaran.

“Kami akan kejar. Kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi kami. Kami juga memohon maaf atas situasi dan kondisi yang terjadi,” ujar Mashudi saat meninjau Lapas Merauke.

Pasca-kebakaran, Ditjenpas memprioritaskan pemulihan fasilitas yang terdampak agar operasional lapas kembali berjalan normal. Perbaikan akan dilakukan setelah proses identifikasi kerusakan selesai, dengan kantor utama menjadi salah satu prioritas untuk menunjang kegiatan petugas sehari-hari.

Namun, pembenahan tidak berhenti pada bangunan. Evaluasi juga menyasar penerapan standar operasional prosedur (SOP) serta sistem pengamanan untuk mencegah kejadian serupa terulang.

“Kami akan benahi dulu kantor utama untuk kepentingan operasional tugas sehari-hari. Setelah dilakukan identifikasi, perbaikan akan segera dikerjakan. Tidak hanya menyangkut bangunan, tetapi juga pelaksanaan SOP dan sistem pengamanan di lapas agar kegiatan operasional segera kembali berjalan,” terang Mashudi.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa pengawasan, komunikasi, dan penerapan aturan di dalam lapas harus berjalan seiring. Pemulihan fasilitas saja tidak cukup tanpa evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan pengamanan.

Mashudi juga mengapresiasi pemerintah daerah, Polres Merauke, serta seluruh pihak yang membantu proses pencarian dan pendekatan kepada keluarga warga binaan. Dukungan tersebut dinilai berperan dalam mendorong sebagian warga binaan yang sempat kabur untuk kembali ke lapas.

Ia juga mengajak warga binaan menjaga kebersamaan dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri.

“Warga binaan adalah bagian dari masyarakat yang perlu dibina dan didampingi agar memperbaiki diri. Kita sama-sama jaga. Kalau ada saudara yang melakukan kesalahan, mari kita bina bersama,” ajak Mashudi.

Untuk meredakan ketegangan, Mashudi turut membangun komunikasi langsung dengan warga binaan. Suasana kebersamaan terlihat ketika ia duduk di lantai dan makan bersama mereka.

Ia berharap dukungan seluruh pihak terus mengalir agar proses pembinaan tetap berjalan dan warga binaan memiliki kesempatan mempersiapkan masa depan setelah menyelesaikan masa pidana.

Sebelumnya, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Lapas Kelas IIB Merauke, Amiranto, menyebut kerusuhan diduga bermula dari pemeriksaan telepon genggam (HP) milik warga binaan.

Pemeriksaan dilakukan sejak Kamis malam (8/10/2026), sebagai tindak lanjut kebijakan larangan peredaran HP di dalam lapas. Menurut Amiranto, petugas meminta warga binaan menunjukkan HP yang dimiliki, tetapi tidak langsung menyitanya. Mereka diminta menyerahkan perangkat tersebut kepada keluarga untuk dibawa pulang.

“Saya tanya siapa yang punya HP, pegang di tangan. Semua tunjukkan. Saya tidak sita HP kalian, saya minta nanti keluarga datang, dikasih pulang, karena ini perintah dari menteri bahwa tidak boleh ada peredaran HP dalam,” kata Amiranto.

Meski demikian, penyebab tersebut masih berdasarkan keterangan KPLP. Rangkaian peristiwa yang memicu kerusuhan hingga kebakaran perlu ditelusuri lebih lanjut melalui evaluasi dan pemeriksaan menyeluruh.