Jakarta,Topikonline.co.id — Tembok tinggi dan jeruji besi tak sepenuhnya mampu membendung kerinduan seorang anak kepada ayahnya.
Pemandangan berbeda terlihat di Lapas Narkotika Kelas IIA Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu (3/10/2026). Ruang kunjungan yang biasanya dipenuhi orang dewasa, kali ini berubah menjadi ruang penuh tawa, pelukan dan kehangatan keluarga.
Anak-anak terlihat bermain di fasilitas permainan yang disediakan pihak lapas. Sebagian lainnya duduk bersama orang tua mereka yang sedang menjalani masa pidana. Ada anak yang dipeluk erat ayahnya, ada pula yang kepalanya dielus penuh kasih.
Suasana tersebut menjadi bagian dari Program Kunjungan Anak yang digelar Kantor Wilayah Pemasyarakatan Daerah Khusus Jakarta secara serentak di tujuh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Jakarta.
Program ini secara khusus memberikan ruang bagi warga binaan untuk bertemu anak-anak mereka pada hari libur sekolah.
Pemilihan hari Sabtu bukan tanpa alasan. Hari tersebut dinilai lebih memungkinkan bagi anak-anak untuk datang karena tidak berbenturan dengan aktivitas belajar di sekolah.
Di Lapas Narkotika Kelas IIA Cipinang, mekanisme kunjungan anak pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan kunjungan biasa.
Pengunjung terlebih dahulu mengambil nomor antrean, kemudian menuju layanan pendaftaran. Data pengunjung dan warga binaan selanjutnya diinput oleh petugas.
Setelah proses pendaftaran selesai, makanan yang dibawa pengunjung diperiksa menggunakan mesin X-ray. Sementara pengunjung menjalani pemeriksaan keamanan melalui body scanner dan pemeriksaan manual oleh petugas.

“Untuk kunjungan khusus anak ini diadakan setiap Sabtu atau Minggu pertama di awal bulan, satu kali dalam sebulan. Jadi khusus yang membawa anak, baik istrinya maupun ibunya, bisa membawa anak untuk bertemu warga binaan,” ujar Andika, staf KPLP yang mendampingi kegiatan.
Menurut Andika, tidak ada persyaratan khusus bagi pengunjung. Mereka cukup membawa kartu identitas dan anak yang akan mengikuti kunjungan.
Kunjungan dimulai pukul 08.30 hingga 12.30 WIB. Untuk kunjungan khusus anak, jumlah pengunjung tidak dibatasi secara khusus. Namun apabila kondisi ruang kunjungan penuh, waktu kunjungan dapat diatur agar seluruh keluarga mendapatkan kesempatan bertemu.
“Kalau penuh, sesuai aturan waktunya 20 menit. Kalau tidak penuh, waktunya tidak dibatasi,” jelasnya.
Setelah melewati P2U, kartu identitas pengunjung dititipkan dan diganti dengan tanda pengenal berupa kalung pengunjung. Pengunjung kemudian menjalani pemeriksaan keamanan sebelum memasuki ruang kunjungan.
Khusus di ruang kunjungan anak, suasana dibuat berbeda. Fasilitas bermain disediakan agar anak-anak tidak merasa sedang berada di lingkungan lapas.
Menghapus Sekat Tembok, Memelihara Ikatan Keluarga

Bagi warga binaan, program tersebut bukan sekadar perubahan jadwal besukan. Lebih dari itu, kunjungan anak menjadi kesempatan untuk mempertahankan hubungan emosional dengan keluarga yang selama ini terpisah.
Salah satu warga binaan, Firmansyah, mengaku sangat terbantu dengan program tersebut.
Menurutnya, anak-anak sulit datang pada hari kerja karena harus bersekolah dari pagi hingga sore.
“Ini sangat membantu orang tua, terutama ayah, untuk melihat anaknya secara langsung. Hari biasa anak-anak sekolah dari pagi sampai sore, sehingga sulit untuk datang. Program ini sangat membantu untuk bertemu keluarga,” kata Firmansyah.
Ia mengaku kehadiran anak-anak di ruang kunjungan menjadi obat tersendiri bagi kerinduan yang selama ini dipendam.
“Senang, sangat membantu mengobati kerinduan kita selama ini. Kita juga tidak bisa memaksakan mereka datang setiap hari. Kebetulan program ini dilaksanakan pada awal bulan dan minggu pertama, saat anak-anak libur sekolah,” ujarnya.
Kebahagiaan serupa dirasakan istrinya, Anusa, yang tinggal di kawasan Tegalan, Matraman, Jakarta Timur.
Sebagai ibu dengan tiga anak, Anusa mengaku kesulitan membawa anak-anak untuk berkunjung pada hari biasa karena kesibukan dan jadwal sekolah.
“Saya tidak sering besuk di hari biasa karena harus mengurus anak-anak. Mereka juga pulangnya sore,” tutur Anusa.
Karena itu, kehadiran program kunjungan anak membuatnya merasa sangat terbantu.
“Dengan adanya program ini, saya sangat senang. Anak-anak juga senang diajak besuk ayahnya,” tambahnya.
Bagi Anak, Kehadiran Ayah Tak Tergantikan
Hal senada disampaikan warga binaan lainnya, Aji Fadilah.
Ia menilai program tersebut sangat membantu warga binaan yang memiliki anak usia sekolah maupun anak yang masih kecil dan selama ini jarang bertemu karena keterbatasan waktu.
“Alhamdulillah, ini sangat membantu warga binaan yang jarang bertemu dengan anak. Ada yang anaknya sekolah, ada yang masih kecil. Dengan adanya kunjungan anak ini, mereka bisa bertemu. Yang sebelumnya sulit karena sekolah, sekarang bisa bertemu,” kata Aji.
Bagi Aji, pertemuan dengan anak memiliki makna emosional yang jauh lebih dalam.
Ia berharap program tersebut dapat terus dilaksanakan karena hubungan antara anak dan orang tua tetap harus dijaga meski salah satu orang tua sedang menjalani masa pidana.
“Terus terang, tersentuh. Seharusnya di masa kecil, anak dekat dengan orang tua dan dibimbing oleh orang tua. Sekarang kami jauh. Harapan saya, program ini terus ada dan anak-anak bisa semakin baik, termasuk dalam belajar dan sekolahnya,” ujarnya.
Sang istri, Mayang, yang tinggal di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, juga menyambut baik program tersebut.
“Senang, sangat membantu anak-anak bertemu papahnya, apalagi di hari libur. Kalau hari biasa mereka sekolah. Jadi sangat membantu kami,” kata Mayang.
Tak Dipungut Biaya
Satu hal yang juga menjadi perhatian, seluruh proses kunjungan anak tersebut tidak dikenakan biaya bagi pengunjung maupun warga binaan.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan di balik tembok pemasyarakatan tidak hanya berbicara mengenai keamanan dan pelaksanaan pidana. Ada aspek kemanusiaan yang juga perlu dijaga, salah satunya hubungan antara anak dan orang tua.
Di balik jeruji, seorang ayah tetaplah ayah bagi anaknya.
Dan bagi seorang anak, pelukan singkat, elusan di kepala atau sekadar duduk bersama ayahnya bisa menjadi kenangan yang jauh lebih berharga daripada panjangnya waktu yang mereka habiskan dalam ruang kunjungan.
Program Kunjungan Anak di Lapas Narkotika Kelas IIA Cipinang akhirnya bukan sekadar agenda besukan. Ia menjadi jembatan kecil yang menghubungkan kembali keluarga yang terpisah oleh tembok pemasyarakatan—sekaligus menjaga agar hukuman yang dijalani seorang warga binaan tidak ikut memutus ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak.












